Veronica Koman dan Generasi Tuna Budi

Pegiat Forum Kolumnis Muda Jogja (FKMJ)
Veronica Koman dan Generasi Tuna Budi 17/08/2020 406 view Opini Mingguan Merdeka.com/Erwin Yohanes

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang engkau berikan terhadap negaramu.” Sebuah kata-kata bijak yang terkenal melekat pada mendiang mantan Presiden Amerika Serikat, John Fitzgerald Kennedy dan sebenarnya adalah kutipan dari filsuf Marcus Tullius Cicero, orator dan negarawan Romawi kuno.

Petuah bijak tersebut rasa-rasanya pas untuk dibisikkan ke telinga hati nurani seorang Veronica Koman, alumnus penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan yang namanya belakangan viral di media sosial. Veronica diburu tagihan sebesar Rp 773.876.918,00 oleh pihak LPDP lantaran alumnus Australian National University tersebut tidak kembali ke Indonesia usai menyelesaikan studinya untuk mengabdikan ke Indonesia.

Tanpa menafikan kontribusinya sebagai pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) dalam isu Papua, tindakan dari Veronica yang mangkir atas penagihan tersebut adalah bentuk tindakan tak balas budi, “gak ada akhlak”, dan manusia tuna budi.

Dan dalam catatan LPDP bahwa hingga Agustus 2020 setidaknya 24.926 total penerima beasiswa LPDP dan 11.519 di antaranya telah menjadi alumni. Dari data tersebut, teridentifikasi sejumlah 115 kasus alumni yang tidak kembali ke Indonesia dengan rincian sejumlah 60 kasus alumni telah diberi peringatan dan telah kembali serta melakukan pengabdian.

Di tengah berbagai persoalan bangsa yang melilit negeri, himpitan pandemi Covid-19 yang tak berkesudahan, belum lagi problem bangsa lain yang sudah terlanjur mengerak lama seperti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), ada-ada saja generasi bangsa yang egosentris, mementingkan diri sendiri.

Sebagai generasi bangsa yang menjunjung tinggi nasionalisme, sekalipun kita tidak mendapatkan beasiswa dalam mengenyam pendidikan, sudah kewajiban kita untuk mengabdikan diri kepada negeri ini. Apalagi, apabila kita didanai oleh pemerintah dalam studinya, yang mana itu adalah uang rakyat dari pajak. Tak hanya ikatan hukum yang melekat, akan tetapi janji moral kepada rakyat dan negara untuk balas budi melalui pengabdian-pengabdian membangun negeri ialah sesuatu keharusan.

Bahkan bisa jadi sebagian uang yang dipakai para penerima beasiswa adalah uang rakyat kecil yang jangankan merasakan bangku pendidikan tinggi, untuk makan sehari-hari saja terkadang mereka tak punya. Rakyat yang hari-harinya disibukkan urusan perut, dengan menepikan urusan lainnya, termasuk pendidikan.

Para penerima beasiswa negara sudah sepatutnya membuka mata hatinya lebar-lebar. Dana yang kalian gunakan bisa jadi hasil perasan keringat kaum papa yang mungkin anak-anaknya sedang merintih teramat menyayat tak bisa makan hari ini. Tak bisa mengenakan pakaian layak pakai, melainkan hanya dengan baju ala kadarnya.

Renungkanlah! Kita dikaruniai berbagai kenikmatan hidup, bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi adalah rahmat yang sungguh luar biasa. Tugas kita selanjutnya adalah mengabdikan diri untuk membangun negeri, menolong rakyat kecil kaum yang sebenarnya telah membiayai kita kuliah.

Kita harusnya menyadari bahwa kita bisa kuliah tinggi-tinggi karena biaya dari uang rakyat. Setiap kepala mahasiswa di Indonesia, termasuk bagi mereka yang tak dapat beasiswa sekalipun, telah disubsidi oleh negara. Pun lebih-lebih demikian beasiswa yang kalian dapatkan adalah dari uang rakyat. Maka, jangan menyia-nyiakan. Kita punya kewajiban untuk mengembalikan ke rakyat Indonesia dengan pembangunan untuk mereka. Bukan malah, membangun negara lain.

Harusnya para penerima beasiswa negara malu dengan figur teladan kita, Almarhum Eyang Habibie. Beliau yang kuliahnya di Jerman tanpa beasiswa dari pemerintah pun akhirnya memilih kembali ke Indonesia. Bahkan beliau tak hanya bisa mengepakkan sayap-sayap mimpinya, akan tetapi mampu membangun sayap-sayap pembangunan industri penerbangan Indonesia.

Kala menempuh pendidikan di Jerman, beliau tidak mendapatkan beasiswa meski bukan dari kalangan yang berada. Bahkan, demi meringankan beban orang tuanya, Habibie muda memilih untuk tinggal jauh dari pusat kota dengan tempat tinggal yang memiliki fasilitas seadanya. Bahkan, beliau rela jalan kaki berkilo-kilo dari tempat tinggalnya ke kampus demi menekan biaya transpostasi. Belum lagi, beliau kerap kali puasa demi menghemat biaya makan.

Selain perjuangan tersebut, pelajaran yang terpenting adalah nasionalisme dan cinta tanah air sosok teladan Habibie. Kendati telah mengenyam pendidikan dan tinggal lama di Jerman, ia tak menanggalkan status warga negara Indonesia. Di tanah rantau, beliau justru mempunyai cita-cita luhur untuk membangun bangsa Indonesia dengan mengabdikan ilmu pengetahuan yang diperolehnya.

Rasa nasionalisme dan cinta tanah air itu pun tak serta merta luput dari ujian. Mengingat Habibie pernah mendapat tawaran untuk bekerja di Boeing karena disertasi S3 beliau tentang konstruksi ringan kecepatan supersonic bahkan hipersonic. Namun, akhirnya Habibie memilih menolaknya. Beliau selalu pegang teguh sumpah yang pernah diucapkan ketika sakit keras berbaring di rumah sakit.

Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu Pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah tumpah darahku makmur dan suci

Hancur badan!
Tetap berjalan
Jiwa besar dan suci
Membawa aku Padamu!


Kisah perjuangan serta jiwa nasionalisme dan cinta tanah air sosok Habibie sudah sepantasnya dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan kita. Inspirasi dari rangkaian kisah-kisahnya telah memberikan banyak pelajaran, diantaranya bahwa apapun cita-cita dan mimpi-mimpi kita, muara pengabdiannya adalah untuk tanah air, Indonesia. Pesan inilah yang patut direnungkan dalam-dalam oleh Veronica Koman dan generasi bangsa lainnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya