Urgensi Pendidikan Karakter di Era Millennial

Urgensi Pendidikan Karakter di Era Millennial 14/12/2021 1147 view Pendidikan bisnismuda.id

Istilah milenial sudah akrab terdengar hampir di seluruh kalangan masyarakat. Generasi milenial atau generasi Y adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1981-1996. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2020), dari 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia 25,87% merupakan generasi milenial.

Generasi milenial adalah generasi yang memiliki keingintahuan tinggi, percaya diri, dan merupakan generasi yang melek dengan teknologi. Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi ini memiliki banyak peluang untuk bisa berada jauh di depan dibanding generasi sebelumnya.

Kecanggihan teknologi membuat para generasi milenial menggunakan internet lebih dari kapasitas penggunaan pada umumnya karena mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Penggunaan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Line, Telegram, dan Whatsapp kini telah menjadi aplikasi yang sangat digemari generasi ini.

Kemudahan dalam berinteraksi dan menyebarkan informasi merupakan daya tarik utama dari layanan ini. Namun, kemudahan dalam berinteraksi dan menyebarkan informasi tersebut juga memiliki dampak yang dapat mempengaruhi beragam sendi kehidupan.

Hadirnya media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi media ini memungkinkan masyarakat berkomunikasi dan berinteraksi secara cepat, meningkatkan hubungan pertemanan yang lebih erat, memasarkan bisnis online, dan beragam layanan jasa online. Namun di sisi lain, media sosial juga sering menjadi pemicu munculnya beragam persoalan seperti maraknya penyebaran informasi hoaks, ujaran kebencian, pemutarbalikan fakta, provokasi, serta hal-hal yang berkaitan dengan SARA, terorisme, dan sebagainya.

Dalam situasi seperti ini, ternyata banyak pengguna media sosial yang tidak mampu memilah mana informasi yang benar dan mana informasi yang palsu. Untuk itu diperlukan treatment dalam mengatasi persoalan tersebut. Adapun treatment yang dapat dilakukan dalam meminimalisasi perilaku tersebut melalui pendidikan karakter.

Pendidikan karakter adalah sesuatu yang mengkualifikasikan seseorang, cara berpikir, dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu, masyarakat. Atau serangkaian sikap, perilaku, motivasi, keterampilan, watak, tabiat yang terbentuk dari hasil internalisasi kebijakan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, maupun bertindak (Wibowo, 2017). Secara garis besar pendidikan karakter dikatakan sebagai pendidikan yang mampu membawa dampak positif pada kedewasaan (kematangan) karakter bagi generasi muda dalam meningkatkan kemampuan olah akal, hati, dan perilaku.

Di era milenial ini, pembentukan karakter semakin penting untuk mencegah masuknya ideologi dan faham-faham yang dapat merusak kehidupan berbangsa dan negara. Pendidikan karakter terhadap anak di era milenial dapat dimulai dari usia dini karena usia inilah yang dianggap relatif paling mudah dibentuk.

Hal ini berbeda dengan orang dewasa yang sudah memiliki kebiasaan, pola pikir, maupun gaya hidup tersendiri sehingga relatif susah untuk diubah walaupun tentu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itu, diperlukan upaya kerjasama antara sekolah dan keluarga dalam pembentukan karakter anak di era milenial.

Penerapan pendidikan karakter di sekolah dapat diimplementasikan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah seperti pengurus OSIS, pramuka, olahraga, seni, dan lainnya. Melalui kegiatan ekstrakurikuler tersebut, diharapkan sebagai wadah dalam penyaluran minat bakat anak dalam mewujudkan pendidikan karakter di lingkup sekolah.

Sedangkan, dalam lingkup keluarga, orang tua memiliki peran penting untuk membentuk karakter anak sejak dini dengan melakukan pengawasan kepada anak ketika berada di luar sekolah atau di rumah. Ini disebabkan karena pendekatan orang tua dalam pembentukan karakter anak sangat berpengaruh dalam menindaklanjuti pengajaran yang telah diberikan di sekolah. Apabila karakter atau akhlak semua anggota keluarga baik, niscaya akan baik pula karakter anak dan berpengaruh terhadap lingkungan ke masyarakat.

Harapannya bagi generasi milenial dengan pendidikan karakter dapat mengembangkan potensi kalbu atau nurani sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya bangsa; dapat mengembangkan kebiasaan dan perilaku yang terpuji sejalan dengan tradisi dan budaya bangsa yang religius; menanamkan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa ke depan serta mengembangkan kemampuan mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; serta mengembangkan lingkungan baik lingkungan sekolah maupun di luar sekolah yang jujur, penuh kreativitas, persahabatan, saling menghargai sesama, dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi.

Pendidikan karakter diharapkan juga akan membantu untuk mengajarkan kebiasaan cara berfikir dan perilaku yang membantu generasi milenial untuk hidup dan bekerjasama dengan orang lain. Dengan kata lain, mengajarkan untuk mampu berbaur dengan orang lain atau bangsa lain dengan tetap mempertahankan identitas dan budaya bangsa (Maunah, 2014, Octavia and Rube,2017).

Oleh karena itu, melalui pendidikan karakter yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang tidak hanya berkualitas secara hardskill tapi juga softskill serta memiliki attitude yang sopan dan membawa perubahan untuk bangsa ini. Tidak hanya itu, pendidikan karakter akan membantu generasi milenial dalam memilah informasi yang benar dan tidak mudah untuk terhasut oleh perbuatan yang tidak benar karena telah dibentuk pondasi yang kuat sejak dini melalui pendidikan karakter dengan harapan ke depannya akan memberikan kontribusi untuk kemajuan Indonesia yang lebih baik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya