Urgensi Pembinaan Kemandirian bagi Narapidana Kasus Pencurian

Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Kelas I Manokwari
Urgensi Pembinaan Kemandirian bagi Narapidana Kasus Pencurian 28/06/2021 75 view Hukum balinetizen.com

Pada dasarnya manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Karena hanya manusia yang dibekali cipta, rasa, dan karsa. Secara harfiah cipta berarti kemampuan dalam pikiran untuk mengadakan sesuatu hal yang baru. Karsa berkenaan dengan pendapat, tanggapan hati mengenai sesuatu hal. Sedangkan karsa adalah daya atau pun kekuatan dari jiwa yang menjadi dorongan bagi makhluk hidup dalam berbuat atau berkehendak.

Melalui daya cipta manusia sebenarnya mampu membuat sesuatu yang baru atau melakukan sesuatu yang sudah ada sebelumnya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Akan tetapi, tak jarang beberapa orang tidak mampu mengelola atau memaksimalkan daya cipta yang dianugerahkan kepada dirinya.

Residivisme Kasus Pencurian

Berdasarkan pengalaman saya sebagai petugas Pembimbing Kemasyarakatan, pelaku tindak pidana pencurian memiliki risiko tinggi untuk melakukan pengulangan. Salah stau klien saya berinisial SP mengaku bahwa dirinya sudah dua kali melakukan pencurian. Derdasarkan hasil wawancara, juga diketahui bahwa SP hanya bekerja serabutan.

Faktor penyebab tindak pidana pencurian sangat beragam, baik yang berasal dari faktor internal maupun eksternal. Sedangkan jika kita melihat kasus SP, tindak pidana yang dilakukannya dikarenakan faktor kebutuhan ekonomi. Dimana dengan pengahasilan yang dia peroleh sebagai pekerja serabutan tidak mencukupi untuk kebutuhan hidupnya. Dengan keadaan seperti itu akhirnya dengan terpaksa klien melakukan tindak pidana pencurian, dengan mengabaikan bahwa perbuatan tersebut melanggar hukum, tetapi yang terpenting kebutuhan hidup terpenuhi. Menurut saya, berdasarkan pengalaman selama menangani klien, khususnya yang melakukan tindak pidana pencurian, faktor ekonomi merupakan salah satu faktor terbesar penyebab seseorang melakukan tindak pidana pencurian.

Peran Pemasyarakatan

Seseorang yang terbukti melakukan tindak pidana kemudian mendapatkan putusan dari hakim, kemudian menjalani pidana penjara di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau Rumah Tahanan Negara (Rutan). Pemasyarakatan sebagai muara dari sistem hukum peradilan pidana di Indonesia mempunyai tujuan untuk menyiapkan dan mengembalikan seseorang yang pernah bermasalah untuk kembali ke masyarakat. Seorang narapidana dipandang sebagai manusia yang mengalami disintegrasi sosial. Untuk itu pemasyarakatan berupaya untuk mengintegrasikan kembali narapidana ke masyarakat sehingga dapat hidup sebagaimana mestinya.

Hal tersebut sudah diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang mendasari tugas dan fungsi dari lembaga ini. Pada pasal 2 disebutkan bahwa sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.

Pentingnya Pembinaan Kemandirian

Narapidana tindak pidana pencurian mempunyai permasalahan dalam dirinya, salah satunya kemampuan untuk mengelola daya cipta. Sehingga orang tersebut kesulitan dalam melakukan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sehingga, mereka perlu diberikan pembinaan yang mengarahkan mereka untuk mengelola daya cipta mereka.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan Pasal 2 dan Pasal 3, menjelaskan pemberian program pembinaan bagi para narapidana, baik pembinaan kepribadian maupun kemandirian selama berada di dalam Lapas. Untuk itu narapidana khusunya kasus pencurian selama di dalam lapas harus mengikuti pembinaaan kemandirian.

Pembinaan kemandirian yang diikuti harus benar-benar memberikan keterampilan yang bermanfaat bagi narapidana. Pembinaan kemandirian dapat berupa keterampilan kerja, latihan kerja dan produksi. Hal ini seperti yang tercantum dalam pasal 2 huruf h dan i. Sehingga ketika nantinya narapidana sudah keluar dari Lapas, keterampilan tersebut dapat digunakan sebagai bekal utama untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Seperti kisah dari mantan narapidana bernama Kris yang dulu pernah menjalani pidana di Lapas Kalabahi Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"Selama ini kami dianggap sebagai limbah masyarakat. Masyarakat selalu takut jika bertemu dengan kami. Saya ingin membuktikan bahwa kami juga bisa berubah dan berbuat baik” kata Kris.

Kris berketekad untuk menghilangkan stigma negatif masyarakat terhadap mantan narapidana. Berbekal pengalaman mengikuti pembinaan keterampilan kerajinan bambu yang diperoleh selama di Lapas, Kris bersama rekan-rekannya memulai usaha kerajinan bambu.Mereka memulai usaha tersebut bermodalkan alat sederhana, seperti golok dan pisau. Mereka mengumpulkan uang lalu membeli peratalan tersebut.

Dengan keterampilan yang sudah dimiliki, dia mulai menggarap bahan tersebut menjadi sebuah barang kerajinan yang memiliki nilai seni sangat tinggi. Kris dapat membuat kerajinan seperti kursi, meja, bingkai foto, anyaman tempat sirih pinang, dan lampu hias. Sampai akhirnya usahanya berkembang dan mulai merekrut karyawan serta membentuk kelompok usaha bersama.

Harapan ke depan, semakin banyak narapidana yang mampu mengembangkan keterampilan selama menjalani pembinaan di dalam Lapas. Hal ini perlu dukungan sepenuhnya dari pihak lapas, terkait program pembinaan kemandirian yang diberikan kepada narapidana. Bagaimana program yang diberikan harus benar-benar sesuai dan memberikan manfaat bagi narapidana. Terutama narapidana kasus pencurian, harus menjadi prioritas untuk mendapatkan program kemandirian. Keterampilan tersebut akan menjadi senjata mereka untuk melawan getirnya kehidupan, untuk tetap berjuang mendapatkan rezeki di jalan yang benar.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya