Urgensi Kesehatan Psikologis di Tengah Pandemi Covid-19

Pemerhati PSIKOLOGI (Sosial)
Urgensi Kesehatan Psikologis di Tengah Pandemi Covid-19 19/04/2020 1139 view Pendidikan ui.ac.id

Tak dapat dielak bahwa kita semua sedang mengalami dampak dari mewabahnya virus corona. Bisa dikata, pandemi Covid-19 adalah teror besar abad ini yang menggergoti pikiran dan kesehatan seluruh masyarakat, tidak hanya mereka yang menjadi garda terdepan (para tenaga medis dan tenaga kesehatan), melainkan kita semua tanpa terkecuali.

Masifnya perkembangan wabah Covid-19 ini telah mengacaukan semua perspektif, sehingga mau tidak mau kita hanya bisa berusaha meminimalisir perkembangannya dengan menjaga kesehatan tubuh dan kesehatan psikis. Berbagai upaya sudah dilakukan Pemerintah, baik di tingkat Pusat, maupun di Daerah untuk mencegah penularan.

Semua elemen masyarakat diimbau bergotong royong memutus mata rantai penyebaran virus corona. Hal ini merupakan upaya pencegahan untuk kesehatan fisik. Lantas, bagaimana dengan upaya preventif dalam meningkatkan kesehatan mental masyarakat ditengah pandemi Covid-19?

Gangguan Kesehatan Psikologis Saat Pandemi Covid-19

Gangguan kesehatan psikologis (mental) yang terjadi selama pandemi Covid-19 disebabkan oleh berbagai hal, antara lain; ketakutan terhadap wabah, rasa terasing selama menjalani karantina, kesedihan dan kesepian karena jauh dari keluarga atau orang yang dikasihi, kecemasan akan kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah lagi kebingungan akibat informasi yang simpang siur.

Berbagai hal tersebut tidak hanya berdampak pada orang yang telah memiliki masalah kesehatan mental, seperti depresi atau gangguan kecemasan umum, namun juga dapat memengaruhi orang yang sehat secara fisik. Beberapa kelompok orang yang rentan mengalami stres psikologis selama pandemi virus corona yakni orang dewasa, lansia, dan para petugas medis.

Merujuk pada Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ-III), beberapa tekanan yang berlangsung selama pandemi ini antara lain; ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri sendiri maupun orang-orang terdekat, sulit berkonsentrasi, kecemasan dan rasa waspada yang berlebihan, buruknya kesehatan fisik, terutama pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi, serta munculnya gangguan psikosomatis, seperti adanya gejala yang mirip Covid-19. Gangguan psikosomatis merupakan kondisi ketika tekanan psikologis memengaruhi fungsi fisiologis (somatik) secara negatif hingga menimbulkan gejala sakit.

Belajar dari perlaku masyarakat saat ini, nampak jelas bahwa pandemi Covid-19 telah menimbulkan kepanikan, kecemasan dan ketakutan luar biasa dalam diri sebagian besar orang. Ditambah lagi anjuran untuk tetap di rumah, hindari keramaian, serta kebijakan social distancing, yang kini disebut physical distancing, sedikit banyak menimbulkan jarak secara emosional antara keluarga, sahabat, rekan kerja, dan masyarakat secara umum. Bagi sebagian orang, hal ini bisa dirasakan sebagai tekanan atau beban besar. Bila tidak dikendalikan, tekanan tersebut akan berdampak negatif pada kesehatan mental (psikologis).

Stigmatisasi dan Viktimisasi Memperparah Kesehatan Mental

Kebijakan Pemerintah untuk melakukan pembatasan jarak/kontak fisik yang dikenal dengan istilah baru yakni Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pada nyatanya membuat banyak orang harus beraktivitas tak sebagaimana biasa. Akibat ‘dirumahkan’ banyak masyarakat mulai merasa penat. Dalam kategori orang yang lebih tua, kebijakan ini juga berdampak pada penurunan kognitif dan demensia, menjadikan mereka lebih mudah cemas, marah, stres, dan gelisah.

Di lain sisi, para tenaga kesehatan pun mulai bekerja lebih berat akibat jumlah pasien yang membludak dalam waktu bersamaan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pandemi ini berisiko memunculkan gangguan mental (psikis), terutama pada penyintas dan petugas kesehatan. Mereka sangat mungkin terserang depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca trauma. Mereka yang berada di garda depan peperangan melawan wabah ini, ternyata dibayangi risiko gangguan mental akibat beban ganda merawat pasien dan stigma dari masyarakat.

Merambahnya stigma negatif masyarakat kepada para pasien yang positif corona, para tenaga kesehatan, para ODP atau pun PDP, setidaknya menjurus ke perilaku viktimisasi. Suatu tindakan viktimisasi antara lain dapat dirumuskan sebagai suatu penimbulan penderitaan (mental, fisik, dan sosial) pada pihak tertentu (khusus pasien corona dan keluarganya) oleh pihak-pihak lain, demi kepentingan tertentu. Yang dimaksud dengan pihak-pihak lain ialah siapa saja yang terlihat dalam eksistensi suatu viktimisasi (individu dan/atau kelompok dalam masyarakat).

Stigmatisasi dan viktimisasi, pada hakekatnya menambah beban dan tekanan psikologis yang tak terbendung. Keluarga pasien, dan tenaga kesehatan, bahkan dijauhi dan dianggap sebagai carrier atau ‘penyebar’ virus. Akibatnya, segala aktivitas mereka terhambat, karena harus menjaga jarak, menghindari kontak langsung dengan orang lain, dan mengisolasi diri.

Tekanan psikis dari mereka yang distigma semakin berat ketika menerima luapan informasi dari media sosial, termasuk laporan soal kekurangan pasokan APD, staf medis, dan kapasitas rumah sakit yang masih kurang. Akibat stigma keliru ini, banyak orang salah dalam mengantisipasi atau meminimalisir penyebaran wabah corona.

Mengatasi Gangguan Psikologis ditengah Wabah Covid-19

Di tengah problematika yang belum surut ini, tentu kita tidak boleh kehilangan harapan. Kita harus yakin bahwa dalam waktu tidak lama lagi, pandemi ini akan berlalu. Sangat wajar kalau sebagai manusia kita memiliki rasa cemas, gelisah, khawatir, dan takut akan bahaya virus ini. Akan tetapi dengan pikiran yang positif, saya kira persoalan ini bisa cepat teratasi. Kesehatan tubuh (fisik) harus diimbangi dengan kesehatan mental (psikis).

Berdasarkan hal tersebut, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia (PDSJI) menyarankan beberapa langkah preventif untuk meminimalisir kecemasan yang mempengaruhi kondisi mental di saat wabah Covid-19, diantaranya: pertama, kurangi paparan berita tentang Covid-19, sebisa mungkin akses sumber berita terpercaya, dan memperbanyak akses ke berita positif.

Kedua, di media sosial, unggahlah berbagai hal positif dan menyenangkan serta membawa harapan. Carilah sumber informasi yang menguatkan, seperti cerita dari pasien yang sembuh atau ketangguhan dari para tenaga medis dalam melaksanakan tugas.

Ketiga, berusahalah untuk terus memberikan dukungan dan bantuan pada semua orang, tetap menjaga hubungan sosial yang baik dengan orang lain (dengan tetap melakukan physical distancing), dan jika diperlukan, konsultasikanlah semua keluh-kesah yang dihadapi pada orang yang dipercaya atau kepada para psikolog dan psikiater atau profesi lain yang sesuai.

Keempat, agar tidak jenuh, buatlah jadwal rutin aktivitas yang harus dikerjakan di rumah, atau lakukan hal baru yang menyenangkan. Tetap jaga hubungan dengan keluarga dan rekan lewat telepon, video, media sosial, atau email.

Kelima, teruslah berharap dan mengimpikan bahwa bencana ini akan segera berakhir. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun sugesti positif pada diri sendiri, melakukan relaksasi untuk meredam tekanan emosi, mencari sisi baik dari bencana saat ini, serta memperdalam optimisme dan religiusitas. Yakinlah, kita bisa!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya