Upaya Bersama Meningkatkan Minat Baca Anak Indonesia

Ibu Pekerja
Upaya Bersama Meningkatkan Minat Baca Anak Indonesia 27/04/2021 35 view Opini Mingguan BBC.com

Minat baca orang Indonesia sangat rendah. Indonesia menduduki negara kedua terbawah dari 61 negara di dunia menurut hasil survei yang dirilis UNESCO di tahun 2016. Dan ternyata hasil survei tersebut masih digunakan sampai sekarang, sehingga masyarakat Indonesia sendiri masih menganggap bahwa minat baca orang indonesia sangat rendah.

Namun hasil survei yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) seakan membantah anggapan tersebut. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI pada hari Selasa, 2 Februari 2021 terkait penguatan literasi, Perpusnas menyatakan bahwa minat baca Indonesia berada di point 55,74 atau dalam kategori sedang. Indeks ini dihasilkan melalui survei mengenai Indeks Kajian Membaca yang melibatkan lebih dari sepuluh ribu responden di 34 provinsi di bulan Maret-November 2020. Adapun tujuan dari survei ini adalah untuk mendapatkan data seringnya membaca, durasi membaca dan jumlah buku yang dibaca (kompas.com, 2/2/2021). Indeks ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil kajian yang sama di tahun 2019, yaitu sebesar 53,84 persen. Dan yang menggembirakan bahwa indeks ini terus meningkat sejak tahun 2017 (mediaIndonesia.com, 8/9/2020)

Kenaikan indeks ini menunjukkan bahwa usaha pemerintah dalam menyediakan fasilitas membaca bagi masyarakat Indonesia semakin baik. Dahulu, membaca selalu dikaitkan dengan buku atau media cetak lainnya saja, namun di beberapa tahun belakangan ini sebagian besar informasi bisa didapatkan secara digital. Dan salah satu yang memiliki kontribusi besar terhadap ketersediaan buku secara digital adalah Perpusnas.

Tanggal 16 Agustus 2016, Perpusnas merilis suatu aplikasi yang dapat diunduh melalui Playstore secara gratis. Kita pun bisa membaca berbagai jenis buku disana dengan gratis pula. Cara “jemput bola” Perpusnas ini berhasil, terlebih dimasa pandemi di mana masyarakat lebih sering berinteraksi dengan gawai dibandingkan berkumpul dengan teman dan kerabat.

Namun dengan membaiknya angka ini, bukan berarti kita harus berpuas diri. Banyak yang harus diperbaiki agar minat baca anak-anak Indonesia semakin baik dan anak-anak diberbagai pelosok negeri bisa mendapatkan akses bacaan dengan mudah.

Ada beberapa hal yang mengakibatkan masih standarnya minat baca anak Indonesia. Yang pertama adalah kurangnya usaha keluarga dalam menumbuhkan minat baca pada anak-anaknya. Berbagai game yang dapat diunduh secara gratis telah menyita perhatian sebagian besar anak-anak Indonesia. Ditambah lagi pembiaran yang terkadang dilakukan oleh orang tua. Anggapan “yang penting anak-anak diam dan rumah tidak berantakan” menjadi tujuan utama para orang tua. Dan ketika keadaan ini berlarut-larut, orang tua kebingungan. Butuh waktu lama untuk mengembalikan keadaan sebelum anak mengenal gawai, dan sayangnya pada akhirnya orang tua menyerah.

Bermain game bukannya tidak boleh. hal itu juga bisa menumbuhkan kreatifitas dan mengasah cara berpikir anak. Hanya saja lamanya bermain dan waktu bermain yang harus diatur. Misalnya mengurangi waktu bermain game secara bertahap, sampai akhirnya tercapai waktu bermain yang orangtua inginkan.

Kedua adalah kesulitan mendapatkan buku bacaan. Teringat ketika saya harus tinggal agak lama di suatu kabupaten di sebuah provinsi besar di pulau Sumatera. Tidak ada toko buku di sana. Satu-satunya toko yang menjual buku hanyalah minimarket yang menyediakan tiga tingkat rak di salah satu etalasenya untuk diisi buku dan itu juga masih bercampur dengan buku tulis, buku gambar dan alat tulis lainnya.

Jangan ditanya apakah buku itu buku terbaru. Jika dilihat dari sampulnya saja sudah bisa ditebak. Di kabupaten itu juga hanya ada satu penjual koran yang keliling di jam 10 pagi setiap harinya. Jika saya ingin membeli majalah, saya harus memesan dan menunggu 2-3 hari berikutnya. Terbayang bagaimana anak-anak yang berada di daerah terpencil bisa mendapatkan kesempatan membaca yang setara dengan anak-anak seusianya di daerah yang lebih terjangkau.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan kesulitan mendapatkan buku bacaan yaitu keaktifan perpustakaan daerah. Karena pusat dari ketersediaan buku di daerah adalah perpustakaan. Menyediakan buku-buku sesuai umur yang menarik untuk dibaca, keragaman judul dan buku-buku yang berganti secara berkala merupakan kewajiban dari pemerintah daerah untuk menfasilitasinya.

Menyediakan pojok baca yang nyaman sehingga orang betah berlama-lama di perpustakaan akan menghilangkan anggapan bahwa perpustakaan merupakan tempat yang membosankan karena hanya berisi meja kursi yang berjejer rapi. Selain itu jika memungkinkan, pemerintah daerah juga bisa menyediakan perpustakaan keliling yang berjadwal. Sehingga, bisa menjangkau anak-anak di seluruh daerah.

Pernah saya membaca sebuah tulisan yang menarik mengenai sejarah perpustakaan kecil yang bernama Little Free Library yang didirikan oleh Todd Bol pada tahun 2009 di Hudson, Wisconsin, Amerika Serikat. Bol membangun perpustakaan itu untuk mengenang ibunya, seorang guru yang suka membaca. Sampai saat ini perpustakaan kecil sudah tersebar di lebih dari 50 negara di seluruh dunia, termasuk di Indonesia (Bobo grid.id, 7/9/2017). Perpustakaan ini bukan hanya meminjamkan buku secara gratis tapi juga menerima sumbangan buku dari masyarakat, sehingga buku yang tersedia akan selalu berganti.

Indonesia butuh banyak perpustakaan seperti ini. Bayangkan jika satu dari dua puluh rumah di lingkungan tempat tinggal kita menyediakan perpustakaan kecil seperti ini, mungkin suatu saat tidak ada lagi anak-anak kecil yang berkumpul memainkan game online atau menonton channel YouTube yang bukan untuk usianya. Jadikan membaca itu kebiasaan, dan membaca itu bukan hobi tetapi kebutuhan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya