Uni Eropa dan Minyak Sawit: Menuju Keberlanjutan atau Proteksionisme?

Uni Eropa dan Minyak Sawit: Menuju Keberlanjutan atau Proteksionisme? 04/07/2024 49 view Lainnya images.app.goo.gl

Minyak sawit merupakan salah satu komoditas utama Indonesia dan merupakan kontributor signifikan terhadap perekonomian negara Indonesia. industri minyak sawit di Indonesia sendiri dimulai pada awal abad ke-20 ketika perkebunan sawit pertama didirikan oleh perusahaan-perusahaan kolonial Belanda untuk kepentingan mereka sendiri.

Lalu semenjak kemerdekaan Indonesia, industri minyak sawit ini terus berkembang pesat, dengan Indonesia saat ini menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia bersama dengan Malaysia. Industri minyak sawit di Indonesia sendiri memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan negara dan penciptaan lapangan kerja. Jutaan petani kecil di Indonesia bergantung pada produksi minyak sawit sebagai sumber penghidupan mereka. Dan juga minyak sawit menjadi salah satu komoditas ekspor utama Indonesia yang menjadi menyumbang devisa cukup signifikan.

Benua Eropa merupakan salah satu pasar ekspor terbesar bagi industri minyak sawit di Indonesia dan Malaysia. Produk minyak sawit Indonesia diekspor ke Benua Eropa dalam bentuk minyak mentah, minyak olahan, serta produk turunannya seperti biodiesel dan bahan baku industri makanan dan kosmetik.

Hubungan perdagangan yang telah terjalin ini berlangsung sangat lama dan memberikan keuntungan ekonomi bagi kedua belah pihak, baik Industri minyak sawit di Indonesia maupun pihak pengimpor minyak sawit yaitu Eropa. Namun, hubungan perdagangan ini telah menghadapi hambatan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Uni Eropa sebagai organisasi regional yang mengatur integrasi di Benua Eropa telah memperkenalkan berbagai kebijakan lingkungan yang ketat, salah satunya yaitu Renewable Energy Directive (RED II), yang membatasi penggunaan minyak sawit dalam biodiesel karena kekhawatiran akan deforestasi dan dampak lingkungan lainnya. Uni Eropa juga menerapkan regulasi pelabelan dan sertifikasi keberlanjutan yang mempengaruhi impor minyak sawit.

RED II atau “Renewable Energy Directive II” adalah revisi dari Renewable Energy Directive pertama, yang bertujuan untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan di Uni Eropa dan mengurangi emisi gas rumah kaca. RED II menetapkan kriteria ketat untuk biodiesel yang digunakan di Uni Eropa, termasuk dari minyak sawit. Biodiesel harus memenuhi persyaratan keberlanjutan yang mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca dan perlindungan lahan gambut serta hutan berharga tinggi. Direktif ini juga mencakup fase-out gradual terhadap biodiesel dari minyak sawit yang tidak memenuhi kriteria keberlanjutan tertentu.

Mulai tahun 2023, biodiesel dari tanaman pangan yang digunakan untuk bahan bakar transportasi harus memenuhi kriteria penghematan CO2 minimal, dan pada 2030, penggunaan biodiesel dari minyak sawit yang tidak memenuhi kriteria tertentu akan dihapuskan.

Setiap negara anggota Uni Eropa harus menyesuaikan kebijakannya dengan ketentuan RED II ke dalam hukum nasional mereka. Ini melibatkan penyesuaian regulasi, penerapan sistem sertifikasi, dan pengawasan terhadap kepatuhan. RED II diharapkan mengurangi jejak karbon dari transportasi dengan meningkatkan penggunaan biodiesel yang berkelanjutan, termasuk yang diproduksi dari bahan baku minyak sawit yang berkelanjutan.

Kebijakan RED II Uni Eropa ini telah menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Pembatasan dan regulasi yang ketat ini mengancam pasar ekspor minyak sawit Indonesia ke Benua Eropa, yang dapat mempengaruhi pendapatan negara dan kesejahteraan jutaan petani kecil. Pemerintah Indonesia telah mengambil berbagai langkah diplomatik dan ekonomi. Pemerintah Indonesia aktif bernegosiasi dengan Uni Eropa untuk mencari solusi yang saling menguntungkan serta meningkatkan keberlanjutan industri minyak sawit dan tidak hanya dengan Uni Eropa. Pemerintah Indonesia juga membuka diskusi dengan WTO sebagai bentuk respon terhadap kebijakan RED II Uni Eropa tersebut.

Selain itu, Indonesia juga berusaha untuk mendiversifikasi pasar ekspor dengan mencari peluang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Dan Indonesia juga telah berupaya untuk memenuhi standar keberlanjutan internasional melalui sertifikasi seperti RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).

RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) adalah standar global yang mengatur praktik keberlanjutan dalam produksi minyak sawit. Banyak perusahaan di Indonesia telah berpartisipasi dalam RSPO untuk mendapatkan sertifikasi internasional yang diakui secara luas. Sedangkan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) adalah standar keberlanjutan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa produksi minyak sawit memenuhi persyaratan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang ketat.

Kebijakan Uni Eropa terhadap keberlanjutan sering kali dipandang sebagai upaya untuk mencapai tujuan lingkungan dan sosial yang lebih luas, namun beberapa elemen kebijakannya dapat dilihat sebagai bentuk proteksionisme dalam konteks perdagangan internasional karena tidak hanya RED II yang Uni Eropa terapkan, Uni Eropa juga menerapkan tarif, kuota dan standar yang tinggi kepada barang yang masuk ke Eropa untuk melindungi industri dalam regional Eropa sendiri.

Uni Eropa secara konsisten menegaskan komitmen terhadap keberlanjutan, yang tercermin dalam kebijakan-kebijakan yang mereka terapkan untuk mengurangi jejak lingkungan mereka dan mempromosikan praktik yang ramah lingkungan. Uni Eropa berpendapat bahwa kebijakan mereka didasarkan pada standar internasional yang diakui secara luas, termasuk standar lingkungan dan keberlanjutan. Menerapkan standar yang tinggi untuk produk yang masuk ke pasar Uni Eropa dianggap sebagai upaya untuk melindungi lingkungan global dan mempromosikan praktik yang lebih berkelanjutan secara internasional.

Uni Eropa menegaskan bahwa kebijakan lingkungan dan sosial mereka tidak hanya untuk kepentingan proteksionisme, tetapi juga untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang lebih luas. Ini mencakup mengurangi emisi gas rumah kaca, melindungi keanekaragaman hayati, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Uni Eropa mengklaim bahwa kebijakan proteksi mereka sejalan dengan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan tidak bertujuan untuk menghambat perdagangan bebas secara tidak adil. Mereka berupaya untuk memastikan bahwa kebijakan mereka sesuai dengan komitmen internasional dan tidak menghambat akses pasar bagi negara-negara mitra perdagangan.

Penulis melihat fenomena kebijakan Uni Eropa ini sebagai bentuk proteksionisme terhadap industri yang ada di dalam Benua Eropa sendiri seperti industri minyak nabati, industri bunga matahari, industri rapeseed (kanola), dan industri minyak zaitun. Mengapa dilihat sebagai proteksionisme? Karena saat Indonesia melarang ekspor nikel mentah ke luar negeri, Uni Eropa sendiri menggugat Indonesia ke WTO sebagai bentuk pelanggaran yaitu hambatan dalam perdagangan yang adil dan diskriminasi perdagangan karena menghalangi industri Eropa untuk memperoleh bahan mentah yang industri Eropa perlukan.

Seharusnya fair-fair saja bagi Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan larangan ekspor nikel mentah ke luar negeri di saat Uni Eropa melakukan diskriminasi terhadap produk minyak sawit sebagai bentuk proteksionisme dengan dalih-dalih keberlanjutan perlindungan yang Uni Eropa kedepankan.

Dalam teori Merkantilisme, proteksionisme merupakan hal yang wajar dilakukan suatu negara atau instansi sebagai bentuk mempertahankan keunggulan ekonomi dengan melindungi industri domestik dari persaingan asing yang tidak sehat dan memaksimalkan surplus perdagangan dengan membatasi impor.

Penulis melihat bahwa Uni Eropa sedang melakukan upaya kolonialisme kepada ekonomi Indonesia, di mana Uni Eropa mencoba mengamankan sumber daya alam mentah yang murah dan harus dijual kepada negara di Eropa itu sendiri. Pihak Indonesia sendiri harus menyiapkan diri lebih baik lagi dengan produk-produknya dan mencoba untuk berdiplomasi menyelesaikan masalah ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya