Tutorial Bahagia Ala Filsuf Stoa

Tutorial Bahagia Ala Filsuf Stoa 04/01/2023 98 view Lainnya pinterest

Seneca, seorang filsuf Stoa Romawi, percaya bahwa keadaan filsafat pada saat itu telah berubah. Filsafat bukan lagi sarana memelihara jiwa, melainkan mengembangkan akal budi manusia. Filologi, atau studi bahasa, telah berkembang dari studi kebijaksanaan. Akibatnya, filsafat mengabaikan pertanyaan yang paling mendasar, yaitu bagaimana menjalani hidup ini.

Ini adalah proyek filosofis Seneca, yang dikenal sebagai sikap tabah. Ketabahan berpendapat bahwa emosi yang tidak menyenangkan tidak berpengaruh pada individu. Namun, Stoa bukanlah orang yang menjalani kehidupannya secara emosional. Sebaliknya, cobalah untuk menghindari perasaan tidak menyenangkan dan membangun kekuatan batin. Kebahagiaan tabah terpancar dari bagaimana dia menempatkan dirinya, terlepas dari keadaan eksternal.

Stoicisme adalah doktrin yang populer di zaman modern seperti sekarang ini. Karena tujuan Stoa adalah mencapai ketenangan di tengah konflik dan kebahagiaan di tengah kesulitan. Kedua elemen ini sangat penting dimiliki masyarakat di tengah maraknya internet dan media sosial yang mengedepankan narsisme dan hasrat popularitas. Bahkan konsep para filsuf Stoa Kuno digunakan saat ini sebagai dasar terapi perilaku kognitif, dengan keyakinan bahwa pendekatan psikoterapi adalah salah satu cara paling efektif untuk menyembuhkan berbagai penyakit mental.

Zeno adalah orang pertama yang memperkenalkan Stoicisme. Ia lahir di Citium, sebuah kota di Siprus, dan melakukan perjalanan ke Athena kira-kira 300 SM untuk belajar filsafat. Ia mendirikan sekolah filsafat di Athena berdasarkan model belajar di 'teras bercat' (Stoa Poikile), oleh karena itu murid-muridnya dikenal sebagai kaum Stoa. Stoicisme, yang berasal dari Yunani Kuno, menjadi terkenal beberapa abad kemudian di Kekaisaran Romawi. Selain Seneca, tokoh Stoa Romawi lainnya termasuk Epictetus, seorang budak, dan Marcus Aurelius, Kaisar Romawi.

Filsafat tabah dipisahkan menjadi tiga bagian: logika, fisika, dan etika. Fokus utamanya, bagaimanapun, adalah etika yang terlibat dalam alam, khususnya untuk membuktikan ide-ide mereka. Kaum Stoa merasa bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan mencapai kebajikan, atau keunggulan karakter, yang diperoleh dengan prinsip 'hidup sesuai dengan alam'. Akibatnya, filsuf Stoa menyimpulkan bahwa memahami sifat alam semesta diperlukan untuk menentukan cara hidup.

Bagi kaum Stoa, alam semesta berada dalam harmoni yang sempurna. Dinamika dunia terkait dengan prinsip ketuhanan (Tuhan), yang menembus seluruh alam semesta. Sebagai satu tubuh besar, setiap manusia adalah bagian dari seluruh kosmos. Kaum Stoa menilai dalam tubuh itu bahwa semua kejadian luar ditentukan oleh peristiwa sebelumnya, dan semua yang terjadi sebelumnya ditentukan oleh palu besi takdir.

Para pemikir Stoa, di sisi lain, tidak menganjurkan pengunduran diri atau keterpisahan dari kehidupan. Sebaliknya, mereka mengajukan teori yang dikenal sebagai determinisme lunak, yang memungkinkan kebebasan dalam kosmos deterministik. Menurut Epictetus, akal manusia adalah 'tuhan di dalam' yang benar-benar menjadi diri yang sejati.

Kaum Stoa berpikir bahwa dengan memperkuat kecerdasan manusia, seseorang dapat mencapai kebebasan batin yang tidak terganggu oleh 'palu besi' takdir. Kebebasan batin mencakup menanggapi dan bereaksi terhadap situasi dengan cara yang bebas dan sadar, dan mengendalikan pengaruhnya terhadap kesenangan seseorang.

Setiap orang pasti berhadapan dengan berbagai pengalaman selama hidupnya. Sebagian besar faktor ini tidak dapat dikendalikan. Ini termasuk pemikiran dan sikap orang lain, kesehatan dan reputasi kita, serta kepemilikan, posisi, dan popularitas kita. Yang bisa kita kendalikan adalah apa yang berasal dari pikiran kita, seperti pendapat, keyakinan, ambisi, dan tujuan kita.

Orang menderita, menurut para filsuf Stoic, karena mereka membuat kebahagiaan bergantung pada hal-hal yang pada akhirnya berada di luar kendali mereka. Dan di sanalah orang memperbudak diri mereka sendiri. Untuk melepaskannya, kita harus berusaha untuk bersikap apatis terhadap semua hal di luar kendali kita dan memfokuskan kebahagiaan kita hanya pada hal-hal yang berada dalam kendali kita.

Namun, kebanyakan orang dalam masyarakat memilih untuk mengejar kecenderungan eksternal seperti kekuasaan, kekayaan, atau kepuasan seksual. Namun, mengejar itu tidak menjamin kehidupan yang lebih baik. Akan ada dua konsekuensi jika kita mengandalkan hal-hal di luar kendali kita untuk kebahagiaan. Saat kita merasa tidak mampu, kita tidak bahagia, dan saat kita memilikinya, kita sering khawatir akan rasa takut kehilangannya.

Para filsuf Stoa tidak menganjurkan menghindari sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan. Barang eksternal, seperti kesehatan, kemakmuran, posisi, ketenaran, makanan dan minuman yang baik, cinta, dan kenikmatan seksual, lebih disukai oleh kaum Stoa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya