Tuan Biswas, Rumah dan Harapan

Penulis Lepas
Tuan Biswas, Rumah dan Harapan 26/07/2023 204 view Budaya Pribadi

Malthus (1766-1834) pada masanya dianggap tabu bahkan keliru karena pesimismenya tentang pasar bebas. Pasalnya, ia memprediksi, bahwasannya ledakan penduduk akan menyebabkan malapetaka. Ironinya itu dilandasi, oleh kelangkaan tanah untuk bercocok tanam agar menghasilkan pangan bagi manusia. Syahdan, manusia akan terlilit oleh kelaparan yang berujung malapetaka kelaparan.

Syahdan, dua abad setelahnya, John Maynard Keynes (1883-1946) mengakui gagasan Malthus itu, sebagai pengingat yang alhasil memantik agar lekas-lekas berpikir mengenai masa depan hidup manusia. Membludaknya angka kelahiran hidup manusia itu, berpeluang timbulnya letupan-letupan singgungan politik yang berimbas peperangan hingga bencana kelaparan, walaupun bagi lorong-lorong pabrik, mereka semua itu pencetak dolar.

Tanah nan subur dialihkan menjadi sentra industri, pada awal abad ke-18, belum membuat cemas peradaban waktu itu. Mereka masih bisa menikmati coklat panas, sembari menyeka keringat untuk menyiapkan tenaga guna kembali bekerja di ruang-ruang pabrik. Bagi mereka, tanah pertanian yang berubah menjadi sentra industri adalah keniscayaan yang tak penting diganggu gugat.

Malthus bah Sang Nabi, mengingatkan imbas getir apabila kita tak memikirkan sekepal tanah yang mereka jajaki itu, lamat-lamat akan membuat mereka menjadi asing. Sontak, tawa gurau nampak jelas pada raut muka masyarakat waktu itu. Setelah dihantam realitet berupa krisis hebat di tahun 1930-an acap kali kita kenali sebagai The Great Depresion, Keynes meneruskan kembali ucapan lantang Malthus. Beberapa masyarakat pun tersadar, selebihnya berdehem terdiam.

Mulai dari Malthus, Keynes hingga membumbung tinggi ide-ide tentang pasar bebas, nyatanya membuat Michel Gorbachev dan Anwar Hoja gigit jari. Mereka akhirnya merengkuh ide-ide berkonsep pasar bebas, karena begitu menggiurkan. Beberapa frenchise menyembul memasuki ruang-ruang kota. Syahdan, tanah-tanah itu digantikan untuk kebutuhan perputaran modal.

Majalah Tempo 5 Juni 1993 mewartakan pelik-pelik perumahan. Di sepanjang kota dan kabupaten, tertancap banyak iklan perumahan. Rumah itu diibaratkan sebuah mahkota bagi sebuah keluarga. Keberadaannya pun, banyak diburu. Walaupun, belum juga pondasi dicor, sudah ludes dipesan.

Syahdan, buku Ekonomi Orde Baru disunting oleh Anne Booth dan Peter McCawley (LP3ES, 1990) membeberkan aras perjalanan Orde Baru dalam visi gigantik untuk tujuan ekonomi yang kuat. Buku itu menjelaskan, aras permodalan di era Orde Baru begitu fantastis, bahkan investasi pada sektor perumahan pun terbilang gemilang dibandingkan di era sebelumnya.

Melalui informasi yang disuguhkan oleh Tempo, terbesit beberapa analisa mengenai konsep gambaran hidup manusia di perkotaan yang sudah pepat dengan bangunan yang bercokol dari tanah satu ke tanah lainnya. Syahdan, kota yang begitu pepat dan dihuni oleh ribuan kepala itu, alhasil para penyedia perumahan harus berpikir keras.

Munculah rumah rusun atau rumah rusun mewah acap kali kita kenal sebagai apartemen. April lalu, narasi hunian apartemen milenial, apartemen milineal menyeruak, termasuk yang disahkan oleh Presiden Jokowi (13/04/2023), menggiring kaum milenal menyelami lebih dalam bagaimana hunian apartemen milenial itu, konon bakal digandrungi di samping pesimisme Maltus yang bisa saja terjadi.

Rumah, menjadi ruang intim bagi keberlangsungan hidup manusia. Melalui rumah, seorang bocah nan polos mulai mengenal hangatnya selimut, ataupun kenikmatan dijejali pengetahuan. Walakin, tak semua dapat merasakan itu. Beberapa dipaksa mencicipi kerasnya sengatan matari, ditambah dingin yang menusuk di malam hari, yang membuat kulitnya selalu kumal.

Tuan Biswas yang Tersenyum

Buku gubahan V.S Naipul berjudul Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas (Penerbit Pendulum, 2000), menyuguhkan secara intim sejumput keluarga yang hidup dengan keterbatasannya kala rumah tak dimilikinya. Ia hanya menumpang, di rumah milik mertua, yang membuat ayah mendiang V.S Naipul selalu mengernyitkan dahinya karena menanggung pahit, membutuhkan sepetak rumah untuk merawat keluarga secara seyogyanya.

Kisah dalam novel itu, mengajak kepada pembaca untuk menampilkan seluk-beluk masyarakat dunia ketiga. Begitu kentara, bagaimana perubahan kebudayaan benar-benar terjadi. Aspek-aspek ketimuran ataupun dogma yang disuguhkan oleh agama, beberapa mulai dikesampingkan karena terhalang persoalan perut. Rumah menjadi peran penting untuk Tuan Biswas. Ia membanting tulang, menggeluti apapun untuk mendapatkan secercah harap tentang sepetak rumah.

Ketika Tuan Biswas bertemu, seorang pengacara yang menyediakan bantuan, untuk menggulung seorang preman perampas tanah Bipti, yang membuat Tuan Biswas berpindah ke keluarga Tulsi, menyebabkannya semakin menggerutu. Tuan Biswas belum mengenal rent to own yang hari ini sering kita kenal strategi bisnis untuk merengkuh nasabah agar lekas-lekas punya rumah.

Syahdan, melalui penggambaran novel, Tuan Biswas harus banyak mengeluarkan keringat megumpulkan uang untuk harap sepetak rumah. Desa Ramai alhasil jadi tempat tinggal Tuan Biswas. Waktu yang terhitung lama, untuk membangun sebuah kelurga membuatnya terus berpikir, bagaimana mendidik sebuah keluarga yang cerdas? Perut yang tak lagi rata digantikan dengan buncit mengganjal, raut muka yang menggelambir, dan daya ingat yang semakin luntur, membuatnya resah, waktu yang ia habiskan itu, luput untuk membayar tanggung jawab membuat pintar anaknya itu.

Kiwari, generasi hari ini harus pintar-pintar mengelola apapun. Mulai dari, lekas-lekas mengangsur rumah, biaya pendidikan anak kelak nanti. Persoalan itu, banyak digubris menjemput asa baru bagi generasi mendatang. Syahdan, perihal itu beberapa khalayak menganggap sudah semestinya harus dihadapi, namun secuilnya malah membuat kalbunya meronta-ronta. Perlu dipersiapkan.

Opini Prita Hapsari Gozie (06/08/2022) Berjudul Investasi untuk Biaya Pendidikan Kuliah Anak menanggapi mengenai biaya pendidikan yang terus menerus naik, menggiring kaum milineal lekas-lekas mengatur keuangannya dengan benar. Di samping mempersiapkan rumah tak hanya untuk berteduh, seperti yang diresahkan oleh Tuan Biswas, mafhum sepetak rumah itu ruang penempaan awal mula seorang bacah bakal berahadapan dengan dunia yang tak punya belas kasih

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya