Tua di Jalan

Mahasiswa PBSI UNJ 2022
Tua di Jalan 11/04/2024 210 view Lainnya Ilustrasi macet (Pixabay/wal_172619)

Memiliki rumah di Jakarta adalah impian besar. Bisa memiliki rumah di Jakarta dan dekat kantor tempat bekerja rasanya seperti menaklukan puncak tertinggi. Namun, impian tersebut bagaikan pungguk merindukan bulan. Kesenjangan antara gaji dan harga rumah di Jakarta terpaut jauh selisihnya.

Menurut Tim Jurnalisme Data Harian Kompas, harga tengah pasaran rumah seluas 60 meter persegi atau kurang di Jakarta Utara mencapai Rp 1,5 miliar ke atas. Di Jakarta Barat kisaran Rp 1 miliar ke atas. Di Jakarta Pusat, Timur, dan Selatan kisaran Rp 500 juta ke atas. Dengan Upah Minimum Kota (UMK) Jakarta Rp Rp 5.067.381, harga rumah yang dapat mereka jangkau adalah Rp 182,4 juta.

Nah, harga rumah yang mahal ini menjadi beban bagi kelas menengah. Dengan UMK Jakarta yang hanya Rp 5.067.381, apakah rumah seluas 60 meter persegi atau kurang di Jakarta sanggup mereka beli? Kalau bisa, mereka harus butuh berapa puluh tahun untuk membeli rumah tersebut? Dicicil selama dua puluh tahun pun, gaji mereka tidak cukup membeli rumah di Jakarta.

Akhirnya banyak dari mereka yang mencicil rumah di Kabupaten Bekasi, Depok, dan Bogor. Sebenarnya rumah di kabupaten tersebut belum tentu cukup dengan uang Rp 182,4 juta. Tapi banyak dari mereka memaksa untuk mencicilnya, daripada ngontrak di Jakarta atau tinggal bersama orang tua (buat mereka yang sudah berkeluarga).

Mencicilnya dengan gaji UMK Jakarta, ditambah kerja sampingan, atau istri juga ikut bekerja pun membutuhkan waktu kisaran 10 sampai 20 tahun untuk melunasinya. Karena mereka memilih mencicil rumah di Kabupaten Bekasi, Depok, dan Bogor. Akhirnya nasib pun mendorong mereka menjadi “tua di jalan”.

Istilah “tua di jalan” bukan hanya menggambarkan usia yang semakin bertambah. Tapi juga menggambarkan bagaimana sebagian besar waktu dan energi mereka banyak dihabiskan di jalanan. Coba kita hitung saja empat jam perjalanan pulang dan pergi selama lima hari dalam seminggu (kalau kerja di ranah food and beverages atau industri hospitality lainnya enam, hari). Lima hari tersebut dikalikan empat minggu, lalu hasilnya dikalikan lagi dua belas bulan, terus dikalikan berapa lama mereka kerja di Jakarta sampai meninggal. Sudah berapa jam itu, cuma untuk perjalanan pulang dan pergi saja.

Menjadi "tua di jalan” sudah umum dialami oleh mereka yang sudah saya ceritakan di atas. Ketika mereka mencari solusi untuk memiliki rumah yang terjangkau oleh gaji, mereka harus menerima konsekuensinya. Belum lagi mereka harus menghadapi macet kalau naik sepeda motor atau mobil. Di Jakarta dan sekitarnya, perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu berapa puluh menit bisa berubah menjadi dua jam karena macet.

Dari sudut pandang ekonomi, waktu yang terbuang dalam perjalanan panjang dan macet ini juga berarti menambah pengeluaran untuk bahan bakar. Hal ini dapat menambah beban finansial bagi mereka yang berjuang untuk membayar biaya cicilan rumah. Kejadian ini tidaklah asing di Jakarta. Perjalanan empat puluh menit di Jakarta saja, mereka anggap itu perjalanan yang dekat. Bayangkan saja, seberapa macet Jakarta.

Begitu juga dengan naik kendaraan umum, terutama di jam-jam sibuk. Mereka pun jadi pepes di KRL Commuter Line dan bus Trans Jakarta karena harus berdempet-dempetan. Kalau bayangkan kalian jadi seorang perempuan yang setiap harinya dalam keadaan berdempet-dempet seperti ini. Ketakutan akan dilecehkan pasti selalu terbayang dalam benak mereka. Apalagi kasus pelecehan seksual di kendaraan umum marak sekali terjadi.

Lalu sebelum jadi pepes mereka harus jadi pelari dulu di stasiun untuk mengejar kereta agar tidak ketinggalan. Kalau ketinggalan mereka harus menunggu lagi, bahkan di kereta selanjutnya kemungkinan lebih penuh dari kereta sebelumnya. Kalian bisa lihat video orang larian-larian di Stasiun Manggarai di sosial media.

Jadi, istilah “tua di jalan”, bukanlah sekedar fenomena yang menggambarkan usia semakin bertambah. Tapi juga merupakan refleksi dari ketidakseimbangan ekonomi yang harus segera diatasi pemerintah. Kondisi ini menunjukkan betapa sulitnya kehidupan sehari-hari mereka yang bekerja di Jakarta, namun tinggal di luar Jakarta. Mereka yang memilih tinggal di luar Jakarta harus menghadapi beban besar, baik dari segi waktu, maupun dari segi finansial. Mereka harus rela menghabiskan waktu berharga hanya untuk perjalanan saja. Yaitu, waktu yang seharusnya bisa menjadi waktu luang untuk mengembangkan diri mereka.

Kritik terhadap kondisi ini adalah sistem upah dan harga rumah saat ini tidak sejalan. Dengan demikian, kesenjangan yang begitu besar antara gaji dan harga rumah tidak hanya menghambat akses mereka terhadap perumahan yang layak, tetapi juga menghasilkan konsekuensi yang berat dalam hal waktu, energi, dan kesejahteraan. Perlu adanya langkah-langkah konkret dari pemerintah untuk menyeimbangkan antara gaji yang diterima dengan harga rumah yang terjangkau, sehingga masyarakat tidak lagi harus mengorbankan sebagian besar hidup mereka di jalanan.

Kalau memang Jakarta sudah sempit, dan mengharuskan mereka tinggal di luar Jakarta, setidaknya pemerintah menaikkan gaji secara proporsional dengan kenaikan harga-harga barang dan jasa, serta biaya hidup terus naik. Masa iya, mereka yang sudah berjam-jam di jalanan masih harus merasakan beban naiknya biaya pendidikan, naiknya biaya bahan pokok, dan lain-lain. Masa di setiap harinya mereka hidup harus dalam banyak ketakutan sih?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya