Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan

Alumni Universitas Bhayangkara Jakarta
Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan 13/07/2023 204 view Pendidikan pixabay

Tahun 2023, Kemendikbudristek mengeluarkan dua episode Merdeka Belajar, yakni episode ke-23 dan 24. Episode tersebut adalah peluncuran buku bacaan bermutu untuk literasi Indonesia dan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan.

Dalam perjalanannya, Merdeka Belajar cukup menjadi terobosan baru dunia pendidikan Indonesia dengan berbagai tema yang berbeda dengan fokus transformasi menuju Merdeka Belajar bagi seluruh unsur pendidikan di Indonesia. Episode terakhir yang dirilis pada 28 maret tahun ini berjudul Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.

Dalam rilisnya, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen), Iwan Syahril dalam laporannya menyampaikan tentang agenda peluncuran Merdeka Belajar episode 24 bahwa miskonsepsi yang telah lama berakar di masyarakat mengakibatkan proses pembelajaran pada anak cenderung berfokus pada pembinaan calistung.

Dalam sambutannya, Kemendikbudristek melalui mas Menteri Nadiem Makarim menyampaikan bahwa Satuan Pendidikan di tingkat dasar adalah tempat di mana anak mendapatkan proses pendidikan untuk membangun enam kemampuan fondasi anak.

Fondasi ini meliputi mengenal nilai agama dan budi pekerti, keterampilan sosial dan dan bahasa untuk interaksi, kematangan emosi untuk berkegiatan di lingkungan belajar, kematangan kognitif untuk melakukan kegiatan belajar literasi numerasi, pengembangan keterampilan motorik dan perawatan diri, serta pemaknaan terhadap belajar yang positif. Keenam kemampuan pondasi anak tersebut harus disiapkan dan diajarkan sehingga anak atau peserta didik benar-benar siap untuk menjadi pelajar yang baik dan sesuai profil pelajar pancasila yang dinilai sebagai karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih peserta didik.

Wujud dari episode Merdeka Belajar kali ini adalah kebijakan yang membuat calon peserta didik mendapatkan proses pendidikan yang sesuai tumbuh kembangnya dan secara komprehensif mencakup enam pondasi anak didapatkan secara maksimal. Dalam laporannya, Iwan Syahril juga mengatakan kementerian telah mengeluarkan surat edaran yang berisi pondasi penguatan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan sebagai langkah awal sebelum episode ini dirilis supaya dapat diaplikasikan oleh satuan pendidikan dengan pengadaan peraturan turunan dan pengawasan secara tepat oleh pemerintah daerah setempat.

Dalam surat edaran tersebut harus disosialisasikan kepada masing-masing satuan pendidikan tingkat dasar di setiap daerah yang meluruskan pemahaman bahwa transisi PAUD ke SD haruslah selaras dan berkesinambungan, jangan ada gap yang akan menimbulkan kejenuhan anak dalam belajar. Selain itu, masa transisi tidak berfokus pada kognitif saja, melainkan juga dengan pengembangan emosi, kemandirian, berinteraksi, sedangkan literasi dan numerasi diajarkan bertahap. Sehingga orientasi anak siap sekolah adalah sebagai proses bukan hasil.

Jika dilihat sekilas, bentuk dari kebijakan ini berupa regulasi yang mengatur bagaimana seharusnya satuan pendidikan berlaku kepada peserta didiknya. Lebih rincinya sesuai yang telah dijelaskan di atas, satuan pendidikan khususnya tingkat dasar sudah seharusnya menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan positif sehingga tidak membuat anak tertekan dengan banyaknya PR dan persaingan antar siswa yang membuat anak merasa kalah atau menang dari pada yang lain.

Telah diketahui bersama selama ini pendidikan di Indonesia adalah berorientasi pada hasil atau nilai, anak hanya diminta melakukan tugas dan dinilai hasilnya tanpa mempertimbangkan bagaimana cara anak menjawab atau mengerjakan tugasnya. Hal tersebut yang membuat anak sebagai peserta didik terhambat baik sebagai individu. Anak pada akhirnya tidak akan berkembang dengan maksimal dan memiliki kecenderungan melihat proses pendidikan sebagai sesuatu yang membosankan.

Kebijakan Merdeka Belajar episode 24 ini menjadi upaya transformasi pendidikan yang segar. Dengan dua prinsip yang akan ditekankan yaitu yang pertama menghilangkan tes calistung untuk memasuki Sekolah Dasar, atau melarang satuan pendidikan tingkat dasar mewajibkan calon anak didiknya bisa membaca dan berhitung dan juga yang kedua yaitu melakukan orientasi untuk siswa baru dan juga orang tua dengan rentang waktu dua pekan. Dengan adanya kedua hal tersebut setidaknya seluruh tenaga pendidik memiliki satu pandangan yang sama tentang bagaimana harus mengolah dan membimbing proses tumbuh kembang anak di sekolah dengan banyak melakukan inovasi di seluruh bagian lingkungan pendidikan.

Anak adalah investasi masa depan. Maka dari itu, setiap stake holder yang terlibat dalam dunia pendidikan harus saling berkesinambungan dan mendukung setiap langkah transformasi untuk menciptakan tujuan pendidikan yang diharapkan. Sebagai pemangku kebijakan, pemerintah telah melakukan upaya perbaikan, satuan pendidikan juga harus mengupayakan kesejahteraan bagi lingkungan di dalamnya termasuk orang tua peserta didik. Kebijakan ini harus didukung penuh oleh orang tua peserta didik guna memaksimalkan kegiatan pendidikan anak yang menyenangkan. Orang tua juga bisa mengawasi anak dan membantu anak belajar dan bermain di rumah sehingga peran orang tua dan guru masing-masing hadir untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi anak.

Tentu saja pada pelaksanaannya tidak akan semudah bagaimana mengeluarkan kebijakan. Namun butuh upaya masing-masing peran dengan fungsi yang sudah disebutkan.

Terakhir, kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi anak dengan didukung oleh orang tua, guru, dan satuan pendidikan terkait yang langsung terlibat dengan peserta didik. Mari bersama-sama wujudkan pendidikan anak dengan lingkungan belajar yang menyenangkan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya