Tindak Lanjut KTT-G20; Mengintegrasikan SDG’s melalui “One Health”

Mahasiswa
Tindak Lanjut KTT-G20;  Mengintegrasikan SDG’s melalui “One Health” 23/11/2022 28 view Lainnya idea.grid.id

“Dunia tidak boleh mengulang kesalahan saat pandemi Covid-19. Seluruh anggota G20 diharapkan menyiapkan sejumlah langkah sebagai antisipasi dalam menghadapi kemungkinan masalah kesehatan di waktu mendatang”. Demikian penjelasan Presiden Jokowi pada perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Bali, 16 November 2022.

Sudah hampir dua tahun sistem kesehatan dunia mendapatkan tekanan besar untuk bangkit dan pulih dari pandemi Covid-19. Hampir 6,45 juta kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia telah dilaporkan ke WHO sejak virus itu pertama kali terdeteksi di China pada akhir 2019.

Selain berdampak pada kesehatan, pandemic covid-19 juga berdampak pada kehidupan masyarakat global contohnya pada sektor ekonomi. Hal itu disebabkan pembatasan dalam aktivitas bisnis dan kehidupan masyarakat (lockdown) yang menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat hingga kemudian terjadi pemutusan hubungan kerja. Akibatnya banyak perusahaan dan pelaku usaha di berbagai negara harus menutup unit. Bahkan untuk negara-negara berkembang pandemi Covid-19 menyebabkan terjadinya devaluasi, penutupan sektor UMKM hingga timbulnya banyak permasalaan sosial.

Salah satu pelajaran paling penting yang didapat dari pandemi Covid-19 adalah sistem kesehatan global yang lambat untuk merespon pandemi dan tidak siap untuk mencegah keadaan kedaruratan kesehatan masyarakat di masa depan.

Dampak Pandemi Covid-19 yang cukup besar ini menumbuhkan semangat bagi Indonesia dalam berjuang menghadapi seluruh tantangan, khususnya pada sektor perekonomian. Salah satu upaya nyata yang dilakukan oleh Indonesia dalam memulihkan perekonomian nasional adalah melalui Forum Internasional G20.

Tema Presidensi G20 Tahun ini yaitu “Recover Together, Recover Stronger” bertujuan untuk membangun kembali sistem kesehatan global yang lebih kuat dan dapat bertahan menghadapi krisis kesehatan di masa depan serta mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Konsep Ketahanan sistem kesehatan didefinisikan sebagai kemampuan pelaku kesehatan, institusi, dan masyarakatnya untuk mempersiapkan diri dan merespon krisis Kesehatan secara efektif. Sistem kesehatan yang tidak siap di seluruh dunia secara tidak langsung berkontribusi besar pada penularan penyakit secara cepat, alhasil berdampak buruk terhadap stabilitas ekonomi, sosial dan politik negara.

Perlu adanya Reformasi Sistem Kesehatan Nasional.

Tahun 2020 sebagai awal dampak dari pandemi dilakukan berbagai upaya untuk melakukan reformasi sistem kesehatan nasional 2021-2024, sesuai dengan arahan Presiden, fokus arah kebijakan yaitu penguatan sistem kesehatan sebagai bagian dari pembelajaran pasca Covid-19 dengan melibatkan banyak Kementarian/Lembaga seluruh Sub Sistem Kesehatan Nasional.

Berkaitan dengan hal tersebut, Indonesia telah memiliki terobosan pembangunan kesehatan, di antaranya melalui: Penyebaran tim kesehatan untuk menjangkau daerah-daerah tertinggal, perbatasan kepulauan (DTPK) dan daerah bermasalah kesehatan (DBK) melalui program Nusantara Sehat, Dimulainya pendekatan Kesehatan Keluarga yang berfokus pada kunjungan rumah guna mendeteksi dini, pengobatan, dan mengutamakan tindakan promotif-preventif dengan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK); Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS); serta perlindungan asuransi kesehatan sosial yang disebut Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diperluas dari waktu ke waktu untuk mencapai cakupan Universal Coverage.

Namun hal tersebut dianggap belum cukup menjawab kesiapan negara dalam menghadapi pandemi di masa depan. Banyak negara telah memberikan komitmen sumber daya dan upaya menuju penguatan sistem kesehatan berdasarkan bencana baru-baru ini, tetapi rencana dan pendekatan yang dapat ditindaklanjuti untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh belum mencapai konsensus. Beberapa penyakit menyebar dengan cepat antara lain karena kurangnya kemampuan untuk mencegah, mendeteksi, dan merespon dari sebagian besar negara, termasuk negara-negara yang terkena dampak baik ancaman biologi, kimia, maupun fisik, seperti hepatitis akut misterius, cacar monyet (monkey pox), dan lain-lain.

One Health Solusinya

Melalui KTT-G20, Indonesia berkomitmen untuk bekerja sama membangun global yang nyata, kolaborasi yang harmonis untuk pemulihan pandemi yang dipercepat dan kuat dengan tetap berpegang pada prinsip solidaritas, akuntabilitas, dan kesetaraan. Ada sejumlah strategi untuk memiliki sistem surveilans yang terintegrasi di antaranya melalui kemampuan surveilans genomic dengan kolaborasi dan komunikasi lintas negara dengan metode One Health.

One Health adalah usaha kolaborasi berbagai profesi dan institusi kesehatan yang bekerja secara lokal, nasional, dan global dalam mencapai kesehatan yang optimal melalui pencegahan dan mitigasi dampak buruk akibat interaksi hewan, manusia, dan lingkungan.

Sinergisasi multi-disiplin akan membantu percepatan penelitian biomedik pada topik yang melibatkan lebih dari satu bidang profesional, memperluas ilmu kedokteran dan meningkatkan kualitas pelayanan Kesehatan One Health dengan mengidentifikasi hubungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Lingkungan yang sehat akan memengaruhi kesehatan manusia dan hewan. Demikian juga, populasi yang sehat menandakan lingkungan yang baik dan layak huni. Konsep ini mendorong kolaborasi lintas sektoral antara ahli kesehatan manusia, Kesehatan hewan, dan lingkungan hidup untuk mengatasi masalah seperti penyakit yang berasal dari hewan, keamanan dan keamanan pangan, dan pencemaran lingkungan.

Tantangan yang dihadapi oleh kesehatan dunia berkaitan dengan penyakit infkesi baru muncul (emerging infectious diseases) dan penyakit infeksi yang muncul kembali (re-emerging infectious diseases) adalah resistensi antimikroba, penularan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Penyakit Menular Baru Muncul (PMBM) atau Emerging Infectious Diseases (EID) di seluruh dunia 75 persen di antaranya adalah penyakit yang berasal dari hewan atau disebut zoonotic, sedangkan untuk penyakit infeksi yang sudah ada terlebih dahulu 60 persen adalah zoonotic. Hal ini disadari atau tidak, manusia dan hewan hidup di satu ekosistem dan saling berinteraksi secara langsung atau tidak. Semakin terhubungnya dunia sehingga memudahkan penularan penyakit dari satu daerah ke yang lain, serta degradasi kualitas lingkungan yang berdampak pada kesehatan hewan dan manusia.

Roadmap One Health

Untuk itu kita terus berbenah diri, melakukan evaluasi, dan melakukan implementasi untuk membuat One Health ini menjadi isu yang penting di tiap-tiap negara peserta G20, terutama negara-negara yang kaya dengan keanekaragaman hewani dan hayati seperti Indonesia. Yang menjadi tantangan dalam implementasi one health adalah ego profesi untuk berkolaborasi. Kolaborasi penting supaya lintas departemen dan lembaga lebih memperhatikan one health sebagai isu bersama tidak menitikberatkan ke satu atau dua profesi yag bertanggujawab. Sehingga diharapkan one health ini menjadi isu prioritas di beberapa tempat yang memang menunjukkan fluktuasi peningkatan kasus tinggi yang disebabkan oleh hewan.

Kolaborasi interdisipliner dan lintas negara diperlukan untuk menjamin pencegahan, kesiapsiagaan dan penanggulangan pandemi di masa depan. Kolaborasi semacam ini membutuhkan peningkatan kapasitas, kemitraan ilmiah, dan upaya berbagi pengetahuan.

Untuk itu, agar pendekatan One Health ini terimplementasi dengan benar, maka harus dijabarkan secara teknis dengan rencana aksi nasional diikuti dengan rencana aksi hingga tingkat kabupaten kota, pentingnya advokasi One Health kepada penentu kebijakan publik seperti kepala daerah, anggota DPR, atau politisi, untuk lebih memperkenalkan One Health agar tercipta dukungan politis dari kalangan penentu kebijakan publik sehingga implementasi One Health ini bisa dilaksanakan melalui tuntutan politik yang lebih kuat lagi dan disusun ke dalam sebuah regulasi sehingga bukan sekedar program kerja biasa.

Selain itu meningkatkan kesadaran masyarakat, dengan edukasi dan peningkatan kesadaran secara terus menerus, agar masyarakat umum terutama tokoh-tokoh publik dan akademisi mengetahui dan sadar akan pentinya pendekatan One Health ini bagi masyarakat. Dengan berhasilnya pendekatan One Health ini, selain mewujudkan kesehatan masyarakat, juga akan membantu mempertahankan keanekaragaman hayati dan melindungi keberlangsungan ekosistem di bumi sehingga menjamin stabilitas energi, air, dan udara bersih, makanan bernutrisi, dan perubahan iklim sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goasl (SDG’s) 2030.

Sehingga hasilnya akan mendukung rencana yang dikembangkan oleh Organisasi Dunia lainnya seperti Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Badan Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), dan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) sebagai kerangka operasi untuk mewujudkan intervensi One Health. Karena kesehatan manusia sangat bergantung pada lingkungan sosial yang sehat dan bebas risiko, maka sangat penting untuk memiliki konsep yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan potensi epidemiologi seiring dengan perspektif ekonomi sebagai faktor yang sangat berpengaruh pada masa depan masyarakat dengan sehat secara produktif.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya