Timnas Day, Bukan Timnas Die

Timnas Day, Bukan Timnas Die 10/05/2024 44 view Lainnya cnbcindonesia.com

Keep Your Heads Up. Rome Wasn`t bulit in day” Tulis salah satu netizen di kolom komentar akun Instagram timnas Indonesia. Sebuah perasaan yang diungkapkan oleh seseorang yang melihat masa kini sebagai sebuah harapan di masa depan. Tidak ada yang disesalkan dan disalahkan, semua sudah berjuang untuk mencapai yang terbaik.

Laga piala Asia u-23 sudah selesai dan Indonesia harus menempati juara keempat dalam piala itu. Sebuah pencapaian yang sudah tinggi, tapi belum memuaskan. Timnas Indonesia U-23 menjadi sebuah timnas solid dan kreatif selama pergelaran piala Asia U-23 di Qatar. Mereka mampu mengalahkan Australia, Yordania bahkan sang penguasa Asia yaitu Korea selatan dengan menang adu pinalti.

Tidak ada yang mengira bahwa Indonesia bisa melangkah ke semifinal dengan mengalahkan negara-negara yang sangat kuat. Namun di semifinal, Timnas Indonesia harus tunduk dengan kekuatan Uzbekistan yang bermain lebih terbuka dan lebih leluasa. Kemudian, dalam perebutan juara tiga, Indonesia juga harus menyerah dengan negara Irak yang mampu menguasai dan mengontrol lapangan dengan sangat baik. Tiket Olimpade 2024 di Paris juga tidak bisa diraih Timnas U-23, karena dikalahkan oleh timnas Guinea dengan skor 1-0.

Melalui perjalanan yang panjang ini, Timnas U-23 telah memberikan yang terbaik bagi negara Indonesia. Mereka telah berusaha dengan keringat dan air mata untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Dalam sebuah permainan, sebuah kekalahan memang sesuatu yang menyakitkan, tapi bukanlah akhir untuk sebuah permainan itu. Justru melalui kekalahan itu, permainan harus terus dikembangkan dan ditumbuhkan, supaya menjadi lebih baik. Ketua umum PSSI Erick Thoir juga menyebut kegagalan Timnas Indonesia untuk lolos ke olimpiade banyak meninggalkan banyak hal positif. Salah satunya yaitu mampu meraih juara 4 di Piala Asia U-23 sebagai negara yang baru pertama kali tampil di ajang ini.

Pencapaian dan kebanggaan ini adalah sebuah kegilaan yang diberikan oleh coach Shin Tae Yong kepada Timnas Indonesia sekarang ini. Dia mampu meracik dan meramu permainan Indonesia dengan sangat baik, sehingga berbuah dengan baik pula. Kegagalan sekarang ini bukanlah akhir atau kematian dari timnas Indonesia, tapi sebuah hari dimana Indonesia mampu harus terus bertumbuh dan berkembang dalam segala aspek. Sehingga di masa depan timnas Indonesia mampu meraih piala Asia, tembus olimpiade bahkan mampu bermian di piala dunia. Sebuah harapan di masa depan telah timnas ukir secara perlahan di kancah sepak bola Asia.

Indonesia tidak lagi berpangku tangan dan menonton negara-negara lain main di kancah Asia. Kini Timnas hadir di piala Asia sebagai wajah baru yang mampu bertumbuh dan berkembang seperti negara-negara lainnya. Dahulu Timnas Indonesia hanya bermain melawan Vietnam, Thailand dan negara Asean lainnya. Tapi, kini Indonesia bermain melawan sang raja Asia yaitu Jepang, Korea Selatan dan negara-negara kuat lainnya.

Untuk mencapai level itu semua tidaklah mudah, ada waktu yang harus dikorbankan, ada keringat yang harus dicurahkan dan ada usaha yang harus terus dilakukan dengan baik. Karena tidak ada piala yang didapatkan dengan hanya berpangku tangan, tapi piala harus didapatkan dengan luka dan darah. Kelihatan sangat mustahil, tapi sangat mungkin terjadi bila dilatih, dibimbing dan dievaluasi.

Mungkin banyak yang masih pesimis bahwa Indonesia bisa bermian di kancah Asia seperti sekarang ini karena banyak menggunakan pemain naturalisasi, sedangkan pemain lokal dibuang. Pemain naturalisai bukanlah pemain asing, tapi juga pemain nasional yang sama memiliki cinta tanah air seperti seluruh masyarakat Indonesia.

Mereka ada supaya memberikan warna dan semangat baru untuk semua pemain lokal Indonesia, supaya berlatih dan berjuang dengan keras sehingga menjadi pemain yang mampu mengharumkan nama Indonesia. Tidak ada yang dianaktirikan oleh Shin Tae Yong, semua pemain bagi dia sama. Hanya sekarang dia lebih fokus membangun timnas dari usia muda dan mulai memasukan pemain naturalisai ke timnas Indonensia.

Kini bibit muda itu mulai tumbuh, dan kini mulai memasuki masa pertumbuhan yang harus merasakan angin dan badai kencang dari berbagai arah. Itulah timnas Indonesia saat ini. semakin tinggi dia terbang, dan semakin hebat juga angin yang harus ia hadapi. Itulah Garuda Indoensia saat ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya