Tertipu Khayalan Bungkus Mie Instan

Admin The Columnist
Tertipu Khayalan Bungkus Mie Instan 04/01/2020 972 view Catatan Redaksi Piqsels.com

Berceritalah kepada saya. "Mereka itu rumahnya diambil. Trus mereka tidur di sini..".

Ia mencoba menjelaskan pemandangan miris waktu itu. Di suatu malam, kami pergi berjalan kaki ke toko perlengkapan alat tulis. Dan harus melalui lorong bawah tanah stasiun kereta. Tempat di mana banyak orang tak berumah memilih tidur.

Lorong itu terasa hangat. Bukan karena pemanas ruangan. Melainkan sirkulasi udara yang tak lancar. Udara tercium sesak. Berkelindan dengan bau yang tak sedap.

Dinding-dinding lorong telah diberi garis batas. Lengkap dengan nama. Semacam pertanda, dari mana sampai mana, adalah tempat tidurnya siapa.

Lalu tergeletaklah di bawahnya perlengkapan tidur. Kasur, selimut, bantal, kardus, sampai obat nyamuk bakar. Menyala di lorong pengap.

Tak ada kenyamanan di sana. Namun inilah tempat tinggal mereka.

"Bagaimana engkau tahu?", sahut saya.

"Karena mereka membawa kopor. Isinya baju-baju. Trus datang ke sini..'ohh..ada tempat untuk tidur'..", jawabnya

Khayalan. Penjelasan itu hanyalah sebuah khayalan.

Mungkin tuan-tuan pembaca tak mengerti maksud saya ini. "Bagaimana mungkin penjelasan demikian disebut khayalan?".

Begini saya beri tahu.

Yang berkomentar tadi adalah putri saya. Usianya baru tujuh tahun. Ia tak memiliki data, siapa, bagaimana dan mengapa orang-orang datang dan tidur di lorong pengap itu.

Modal putri saya itu hanyalah lagu "Bongkar", "Siang Di Seberang Istana", "Si Budi Kecil". Dan beberapa penjelasan kami ketika menonton film-film penggusuran di Indonesia.

Tapi demikianlah yang namanya khayalan. Orang-orang amat sukar membedakannya dengan realitas. Apalagi jika itu adalah khayalan logis. Sebuah khayalan yang masuk akal dan beralasan.

"Ini banjir, saudara-saudara. Percayalah. Akan lebih mudah saya selesaikan jika saya menjadi presiden".

Atau, "Ini banjir, karena Gubernurnya tak seiman".

Terasa logis. Karena jabatan Presiden memiliki kekuasaan untuk memaksa lintas institusi menyelesaikan banjir. Dan terasa logis pula, jika Gubernurnya seiman dengan mayoritas maka tuhan tak akan marah dan memberi banjir.

Lalu bagaimana kenyataannya? Saya berharap agar saudara-saudara kita di Jakarta dan sekitarnya dapat melalui banjir dengan semangat perlawanan. Melawan hasrat, karena khalayan yang tampak logis itu bukanlah kenyataan.

Tapi... yang namanya khayalan yang logis, tuan, pastilah indah dan meyakinkan.

Suatu ketika, para teknokrat membangun khayalan indah akan kesejahteraan. "Kalau mega proyek ini berhasil dibangun, semua akan sejahtera". Demikian bunyinya.

Lantaran wajah-wajah di hadapan mereka tampak lugu. Maka ditambahkanlah logika-logika canggih.

"Trickle down effect", menetes ke bawah. Pertumbuhan ekonomi yang diciptakan proyek penggusur ribuan jiwa itu akan dirasakan oleh lapisan bawah. Atau, "the rising tide lifts all boats", pertumbuhan ekonomi itu ibarat air pasang. Mustilah semua kapal akan terangkat. Pastilah membuat semua orang meningkat kesejahteraannya.

Padahal, ekonomi justru mengalir ke atas. Bukan menetes ke bawah. Dan pertumbuhan ekonomi malah membenamkan rakyat ke dalam lumpur kemelaratan. Bukan mengangkatnya.

Logis, iya. Menipu, juga iya.

Tentang demokrasi, juga ada khayalan di sana. One man, one vote. Setiap orang memiliki satu hak suara. Jadi, masing-masing dari diri saya, tuan, bung dan nona, punya hak menentukan kebijakan pemerintah.

Indah betul terdengar telinga. Ya.. hanya di telinga. Karena realitasnya sugguh berbeda.

Khayalan itu memyembunyikan suatu rahasia tentang kepemilikan uang. Rahasia yang membuat demokrasi yang dijanjikan itu menjadi berbeda sama sekali.

Kepemilikan uang berbanding lurus terhadap kekuatan politik. Semakin banyak uang seseorang, semakin besar kekuatan politiknya.

Jadi, tak ada one man one vote bagi kita-kita yang kere merana ini. Di demokrasi model begini, semua keputusan tergantung maunya segelintir orang berduit. Mereka dengan mudah menggunakan triliunan uangnya untuk menentukan bunyi kebijakan. Bahkan menentukan hasil pemilu.

Lalu, dikhayalkannya pula bahwa kebebasan usaha akan membawa kebahagiaan.

Produsen bebas dari ancaman pekerja, karena ia bisa menyewa tenaga kerja yang sesuai dengan budgetnya. Dan tenaga kerja juga bebas dari paksaan pemilik pabrik untuk bekerja di sana. Karena mereka bisa memilih pabrik yang bisa memberi gaji sesuai dengan keinginan mereka.

Maka kebebasan model begini akan menciptakan efisiensi. Keuntungan tertinggi, dan gaji tertinggi.

Tapi kenyataannya tidak begitu juga. Kebebasan membuat korporasi menjadi tuan di negeri ini. Mereka menyandera pemerintah.

Mereka sudah beroperasi tahunan. Ratusan ribu rakyat bekerja pada korporasi itu. Pemasukan negara juga besar. Sedangkan di sisi lain, mereka bebas menutup pabriknya. Atau memindahkan pabriknya ke negara lain. Maka bisa dibayangkan dampaknya bagi negeri ini kalau mereka betul-betul kasih tutup itu pabrik.

"Jadi engkau jangan macam-macam. Kalau buruh dan rakyat mu yang banyak omel itu tak dibungkam, kami kasih pindah ini perusahaan. Lalu kamu mau apa?", begitu kira-kira ancaman mereka kepada pemerintah.

Maka kebebasan menjelma menjadi keterikatan. Mau tak mau, pemerintah berhamba kepada perusahaan. Peraturan yang membuat tidak nyaman si pemodal, dihapus sudah. Meski peraturan itu melindungi buruh dan rakyat.

Malang betul nasib kita. Kebebasan usaha yang semula digadang-gadang bisa memberi kebahagian, ternyata palsu.

Ahh..namanya khayalan yang logis tuan, banyak dari kita yang tertipu. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Bukan hanya tertipu hal-hal besar di atas. Tapi juga oleh hal-hal kecil dan sehari-hari.

Banyak juga dari kita tertipu oleh khayalan logis dari sebungkus mie instan. Harga dua ribuan. Di gambar depan ada ayam, telur, sayur, dan udang.

Logikanya, itu mie punya ayam, telur, sayur dan udang dibalik bungkusnya. Kenyataannya? Semua itu hanyalah khayalan. Tak ada satupun di dalam bungkus mie instan itu.

Lalu kesimpulannya? Yaa...memang mie instan itu terasa nikmat dan pantas dibeli.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya