Teroris Dan Takdir Dalam Pemikiran Fethullah Gulën

Hamba Amatir
Teroris Dan Takdir Dalam Pemikiran Fethullah Gulën 13/04/2021 293 view Agama today.line.me

Aksi teror kembali menjadi perbincangan publik dan seolah menghantui kembali masyarakat Indonesia. Sesaat menjelang paskah serta bertepatan dengan Minggu Palma, teroris melancarkan aksi pengeboman di Gereja Katedral, Makassar. Tak lama dari kejadian tersebut Mabes Polri diserang oleh orang bersenjata yang diduga terlibat dalam jaringan teroris.

Pandangan terorisme ini mempunyai pemikiran fundamentalisme atau Islam militan yang merujuk pada keinginan kelompok tertentu untuk memaksakan versi Islam konservatif mereka ke dalam masyarakat dan politik. Namun, kelompok ini sering menggunakan ancaman dengan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka. Kita ketahui, bahwa Islam adalah agama yang disebarluaskan secara damai. Tentu saja Islam tidak membenarkan adanya praktek kekerasan.

Cara-cara radikal untuk mencapai tujuan politis atau mempertahankan apa yang dianggap sakral bukanlah cara yang Islami. Maka proses Islamisasi tidak boleh disamakan dengan Islamisme atau menuntut agar semua masyarakat harus beragama Islam dan hukum yang ada di Islam harus menjadi pedoman bagi segala segi kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, poiltik, maupun budaya. Jika Islamisme dipaksakan di Indonesia, maka akan membuat konflik yang sangat beragam, karena hal tersebut mengandung kontradiksi dengan semboyan negara Indonesia yakni “Bhinneka Tunggal Ika”.

Terorisme hadir dalam semu agama. Setiap agama yang memiliki wahyu akan ada segelintir orang yang berpandangan keras atau ekstrem dan meyakini ajarannya adalah paling benar dan yakin benar. Ajaran agama bersifat trasendental karena agama menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu pertanggungjawaban atas ulah manusia sebenarnya secara pribadi kepada Tuhan Sang Pencipta. Manusia mempunyai tanggung jawab selama hidupnya di muka bumi yang kelak hidupnya itu akan dipertanggungjawabkan setelah kematian secara pribadi bukan secara kolektif.

Sifat membela yang benar adalah semangat dalam beragama. Namun jika agama disalahgunakan untuk tujuan negatif dengan cara memanfaatkan ketidaktahuan sekelompok massa untuk kepentingan kelompok yang malah justru menyesatkan, maka agama seharusnya tidak menoleransi hal tersebut. Karena jika hal tersebut dilakukan dan dibiarkan, hal ini akan menimbulkan permasalahan dalam kehidupan manusia secara kronis. Membuat dalil sendiri atas nama agama untuk mengancam hingga membunuh orang yang belum tentu mengetahui pokok permasalahan, bahkan tidak tahu apa-apa. Untuk apa mereka dibunuh? Pertanyaan ini mungkin hanya perlu dijawab dengan hati nurani dan rasanya tidak perlu dijawab.

Dalam firman Allah surat Al-Maidah ayat 32 telah dijelaskan bahwa “Siapapun yang membunuh seorang manusia tanpa alasan atau melakukan kerusakan di bumi, maka ia seolah-olah membunuh manusia seluruhnya. Dan siapa yang menyelamatkan seorang manusia, maka seakan-akan ia menyelamatkan seluruh manusia”. Dari ayat tersebut, terorisme yang terkadang memakan korban jiwa yang bahkan tidak bersalah dan menimbulkan kerusakan bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Saat ini tindakan terorisme atas nama jihad merupakan tafsiran jihad yang keliru. Jihad dalam konteks jihad itu sendiri mempunyai etika yang tetap mengacu pada prinsip rahmatan lil’alamin (kasih sayang bagi seluruh alam) dari ajaran Islam. Bahkan ketika jihad dalam konteks perang sekalipun dilarang menggangu anak-anak tak berdosa, wanita lemah, orang tua tak berdaya, masyarakat sipil tak bersenjata, dilarang membumihanguskan perkampungan secara membabi buta, menghancurkan tempat-tempat ibadah, serta menggangu hewan ternak sekalipun.

Jihad dalam Islam bertujuan untuk mencapai kedamaian dan bukan kerusakan. Jihad yang dilakukan dalam peradaban Islampun hanya untuk membela agama dari serangan musuh, bukan mencari musuh. Maka, hukum melakukan jihad adalah wajib sedangkan hukum melakukan teror adalah haram, baik dilakukan oleh seorang individu maupun kelompok.

Teror dengan melakukan aksi bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Hal ini jelas berbeda dengan pelaku al-amaliyah al-istisyhad atau orang yang bertindak mencari syahid, karena al-amaliyah al-istisyhad mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri adalah orang-orang yang pesimis atas dirinya sendiri dan atas ketentuan Allah, karena merupakan salah satu bentuk tindakan keputusasaan dan mencelakakan diri sendiri.

Semua aliran teologi Islam sepakat mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Adil dalam menentukan takdir dan berkehendak. Namun ketika membahas masalah takdir atau fatalism, menjadi bahan perdebatan yang sangat sengit di kalangan para teolog. Orang yang pernah dinobatkan sebagai orang nomor satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia dalam Foreign Policy Magazine yaitu Muhammad Fethullah Gulën.

Gulën adalah orang seorang ulama kharismatik dan paling berpengaruh di Turki. Salah satu pemikirannya adalah tentang takdir dan kebebasan. Gulën dipandang mengajarkan Islam Sunni-Hanafi yang moderat, mirip dengan pengajarannya Said Nursi. Gulën mengutuk terorisme dan mendukung dialog lintas agama serta memprakarsai dialog semacam itu dengan Vatikan dan beberapa organisasi Yahudi.

Menurut pemahaman Fethullah Gulën, takdir adalah segala sesuatu yang ada, mulai dari partikel subatom sampai alam semesta secara keseluruhan yang diketahui oleh Allah. Adapun berkaitan dengan perbuatan buruk yang dilakukan oleh seseorang, Gulën berpendapat bahwa perbuatan itu tidak bisa dinisbahkan sebagai takdir Tuhan. Perbuatan buruk adalah tanggung jawab manusia dan dosa akibat perbuatan itu adalah risiko manusia. Karena Tuhan tidak menyukai dan membenarkan perbuatan semacam itu. Semua dosa dan kesalahan itu milik manusia dan dilakukan atas kemauan manusia.

Perbuatan buruk atau dosa yang dilakukan manusia bersumber dari dirinya sendiri bukan dari Tuhan. Jika kita merujuk pada Q.S. Al-Araf ayat 172 dan Q.S. Al-Rum ayat 30, pada dasarnya fitrah manusia itu lebih mengutamakan kebaikan daripada keburukan dan lebih mendahulukan yang bermanfaat daripada yang berbahaya.

Maka aksi terorisme yang membahayakan banyak orang tidak dibenarkan dalam agama Islam. Hal ini mempunyai korelasi dengan pemikiran Muhammad Fethullah Gulën tentang takdir. Bahwa takdir meninggal syahid atau di jalan Tuhan dengan cara membuat teror atau jihad secara keliru dengan mengatasnamakan agama atau Tuhan bukanlah sesuatu yang diajarkan dalam Islam. Doktrin-doktrin tentang jihad yang dibawakan dengan kekerasan tidak pernah dibenarkan dalam agama Islam dan agama manapun.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya