Tantangan Perempuan Dalam Budaya Patriarki Indonesia

Tantangan Perempuan Dalam Budaya Patriarki Indonesia 01/11/2023 642 view Budaya quora.com

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan keberagaman budaya dan adat istiadat. Namun di balik indahnya keberagaman tersebut, terdapat realitas sosial yang sangat memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian lebih, yaitu budaya patriarki. Patriarki berasal dari kata patriarkat yang merujuk pada struktur yang menempatkan laki-laki pada peran utama. Budaya patriarki merupakan sistem sosial di mana laki-laki mendominasi dalam berbagai aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Penting untuk dipahami bahwa budaya patriarki bukanlah suatu hal yang bersifat permanen dan tidak muncul secara tiba-tiba. Hal ini merupakan hasil dari sejarah panjang, tradisi dan norma sosial yang berkembang seiring berjalannya waktu. Dalam konteks Indonesia, budaya patriarki mempunyai akar sejarah yang dalam. Dan sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak dulu.

Misalnya, sejarah patriarki di Indonesia berakar pada tradisi pertanian yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin keluarga. Nenek moyang kita seringkali adalah seorang petani dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas tanah dan aset keluarga. Kedudukan laki-laki dianggap lebih kuat dan dihormati, sedangkan perempuan memiliki kedudukan yang lebih rendah.

Sampai sekarang budaya patriarki masih berkembang di tatanan masyarakat Indonesia. Meskipun beberapa perubahan telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir, budaya patriarki masih sangat kuat di beberapa wilayah Indonesia. Dampak patriarki yang terus berlanjut di Indonesia adalah masalah sosial yang melibatkan ketidaksetaraan gender dan peran gender yang terbatas.

Beberapa dampak negatif dari patriarki yang masih ada di masyarakat Indonesia seperti ketidaksetaraan gender. Patriarki menyebabkan ketidaksetaraan gender, yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari seperti di tempat kerja, di keluarga, dan di masyarakat.

Perempuan seringkali menghadapi diskriminasi dalam hal upah, promosi dan akses terhadap pendidikan serta hambatan dalam mengejar karir atau aspirasi pribadinya. Akibatnya timbul berbagai permasalahan sosial yang menghambat kebebasan perempuan dan melanggar hak-hak yang seharusnya dimiliki perempuan

Budaya patriarki juga dapat memperkuat kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga masih sangat sering terjadi di Indonesia. Patriarki cenderung memperkuat perilaku tersebut dengan memperkuat gagasan bahwa perempuan memiliki peran yang lebih rendah dalam masyarakat.

Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA), dalam periode 1 Januari-27 September 2023 ada 19.593 kasus kekerasan yang tercatat di seluruh Indonesia, dari seluruh kasus kekerasan tersebut, 17.347 orang korban merupakan perempuan.

Kemen-PPPA juga menemukan, jenis kekerasan yang paling banyak dialami korban berupa kekerasan seksual, yaitu sebanyak 8.585 kasus, diikuti kekerasan fisik 6.621 kasus, dan kekerasan psikis 6.068 kasus. Dari data tersebut sudah sangat jelas bahwa kekerasan pada perempuan sampai saat ini masih terus terjadi.

dampak negatif patriarki yang lain adalah partisipasi politik yang terbatas. Peran perempuan dalam politik seringkali terbatas dan mereka kurang terwakili dalam pemerintahan. Meskipun pada saat ini sudah ada perubahan positif dalam partisipasi politik perempuan, namun Indonesia masih memiliki rendahnya keterwakilan perempuan di pemerintahan dan organisasi atau lembaga-lembaga politik.

Budaya patriarki yang kuat seringkali menghalangi perempuan untuk berpartisipasi dalam politik dan memegang posisi berpengaruh. Contohnya pada pemilu 2019, keterwakilan perempuan di lembaga legislatif nasional (DPR-RI) berada pada angka 20,8% atau 120 anggota legislatif perempuan dari 575 anggota DPR RI. Hanya sekitar 20% kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dipegang oleh perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan lebih banyak upaya untuk mendorong partisipasi perempuan dalam politik, termasuk pelatihan dan dukungan terhadap kandidat perempuan, serta menghilangkan hambatan budaya yang menghalangi perempuan untuk berpartisipasi dalam politik.

Budaya patriarki juga berdampak pada pembagian kerja yang tidak setara. Di Indonesia sendiri sosial budaya yang selalu menempatkan laki-laki di urutan pertama, dan perempuan di urutan kedua, terus terjadi di kehidupan sehari-hari contoh yang paling sederhana yang bisa kita lihat sampai saat ini adalah hanya seorang istrilah yang memasak dan bersih-bersih dalam kehidupan rumah tangga, sedangkan suami duduk dengan tenang. Walaupun pada dasarnya kita menganggap bahwa kemampuan memasak dan melakukan tugas-tugas rumah tangga lainnya merupakan hal mendasar bagi setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan, tidak masalah apakah perempuan atau laki-laki yang melakukan pekerjaan tersebut. Namun dengan terus adanya budaya patriarki maka hal tersebut akan selalu menjadi kewajiban bagi perempuan.

Patriarki dapat menyebabkan pembagian kerja yang tidak adil dalam keluarga, di mana perempuan sering kali memikul lebih banyak beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Hal inilah yang dapat menghambat partisipasi perempuan di luar rumah dan menghambat kemajuan karir mereka.

Sampai saat ini budaya patriarki di Indonesia masih cukup menuai pro dan kontra dari sudut pandang masyarakat yang berbeda-beda. Dari segi yang mendukung budaya ini beranggapan bahwa budaya ini telah diwariskan sejak zaman dahulu oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Dan kebudayaan ini harus dilestarikan dari generasi ke generasi. Dan selalu menganggap buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, ujungnya juga di dapur.

Namun ada juga yang beranggapan bahwa di era digital saat ini, sudah banyak perempuan yang mempunyai karir sendiri sehingga untuk menjadi seorang istri yang baik tidak harus selaluh memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Karena mereka menganggap perempuan juga berhak menentukan pilihan terbaik dalam hidupnya tanpa kendala. Dengan memiliki pendidikan yang tinggi dan berkualitas akan membuat karir seorang perempuan semakin bagus, perempuan akan menjadi lebih mandiri, kuat, dan tangguh, walaupun tidak luput dari kodratnya.

Mari kita mengakhiri patriarki di Indonesia. karena untuk mengatasi dampak patriarki yang berkepanjangan ini, diperlukan upaya Bersama dari kita sebagai Masyarakat, pemerintah dan Lembaga-lembaga politik indonesia, termasuk pendidikan yang mendorong kesetaraan gender, perubahan budaya dan sosial yang menghormati peran dan hak-hak perempuan, serta kebijakan yang mendukung kesetaraan gender dan menegakkan hukum yang melarang kekerasan terhadap perempuan secara tegas.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya