Tangisan Bumi Kalimantan dan Senyuman Manis Kapitalis

Mahasiswa
Tangisan Bumi Kalimantan dan Senyuman Manis Kapitalis 28/08/2020 3864 view Budaya Greenpeace.org

Baru-baru ini terjadi peristiwa penangkapan Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan, Effendi Buhing oleh pihak kepolisian Polda Kalimantan Tengah (26/08/2020) dengan tuduhan pencurian lahan milik PT. Sawit Mandiri Lestari yang beroperasi di Kalimantan Tengah (Tribun Pontianak, 27/8).

Buhing sempat menolak penangkapan atas dirinya karena alasan penangkapan yang tidak jelas, dan kemudian dia dipaksa dan diseret ke mobil oleh petugas kepolisian yang diutus untuk membawanya ke Polres. Penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian dianggap melanggar norma-norma etis kemanusiaan oleh masyarakat setempat dan tokoh-tokoh adat Dayak, sehingga menuai respon yang negatif pula dari masyarakat Dayak.

PT. Sawit Mandiri Lestari yang beroperasi di Kalimantan Tengah dianggap telah merusak hutan adat yang selama ini dilindungi oleh masyarakat Dayak di Kinipan. Masyarakat setempat sudah berulang kali meminta kepada PT. SML untuk tidak lagi memperluas lahan sawit dan membabat hutan adat mereka, tetapi permintaan itu tidak diindahkan oleh pihak perusahaan. Kemudian muncul aksi-aksi penangkapan terhadap masyarakat Dayak yang menolak dan kontra terhadap perusahaan sawit itu.

Masalah sengketa tanah ini sudah pernah disampaikan kepada pihak pemerintah, Bupati Lamandau, tapi tanggapan yang diberikan oleh beliau tampak absurd; tidak memihak masyarakat yang menderita (yang seharusnya menjadi prioritas), tapi tampak - secara tersirat dengan dibungkus kata-kata yang intelektual - mendukung pihak perusahaan. Saya melihat bahwa ada tali yang mengikat pemerintah dengan pihak perusahaan, sehingga pemerintah daerah tidak memberikan tanggap yang tegas terhadap masalah sengketa tanah ini.

Tanah Kalimantan atau Borneo adalah salah satu wilayah dengan teritorial yang luas di Indonesia dan menyimpan sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan alam yang melimpah menjadi sumber pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat setempat, terutama masyarakat Dayak. Tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan, tapi alam menjadi tempat di mana orang-orang Dayak membangun dan melestarikan budaya dan tradisi leluhur.

Akan tetapi apa daya, alam Kalimantan yang indah dan kaya itu justru menjadi sasaran empuk bagi para perampok yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan kesadaran ekologis, yaitu kaum kapitalis. Dengan dorongan nafsu dan keinginan yang absurd, mereka membentangkan operasi kapitalis ke pulau Kalimantan; menggali emas sebanyak mungkin, menggunduli hutan seluas mungkin dan meninggalkan kerusakan yang parah untuk masyarakat setempat. Mereka pergi membawa hasil alam dengan senyuman manis. Mereka puas telah memperkosa alam Kalimantan dan mengeksplotasinya.

Pihak pemerintah seakan-akan tampak terdiam melihat operasi kaum kapitalis ini. Mungkinkah mereka telah diberi makan dan minum oleh para kapitalis sehingga membuat mulut mereka tidak bisa berbicara tentang kebenaran dan keadilan?

Pemerintah mengizinkan banyak investor dan perusahaan-perusahaan untuk membuka lahan bisnis di Indonesia; perkebunan sawit, tambang batu bara, perusahaan kayu, dan lain sebagainya, terutama di Kalimantan. Mungkin saja maksud dari izin itu ialah untuk meningkatkan perekonomian negara supaya tercipta kesejahteraan dan keadilan bagi rakyatnya. Akan tetapi, saya melihat ambiguitas di balik konsep “pertumbuhan ekonomi”. Di satu sisi pertumbuhan ekonomi memaksudkan kesejahteraan hidup bagi negara dan rakyatnya, tapi bersamaan dengan tujuan itu alam atau hutan menjadi korbannya. Sesuatu yang paradoks.

Alam menjadi korban dari misi pertumbuhan ekonomi negara dengan membiarkan buldoser meratakan hutan, bom meledakan bukit-bukit dan asap hitam mencemari udara. Dampak yang ditimbulkan membuat masyarakat setempat menderita dan menjerit meminta pertolongan dan keadilan, tapi suara mereka tidak diindahkan dan dianggap sebagai tangisan seorang bayi. Kaum kapitalis mencoba memberikan rupiah dan beberapa karung beras dengan harapan mereka diam.

Pemerintah dan kaum kapitalis mungkin telah menjalin tali persahabatan sehingga mereka saling mendukung satu sama lain. Bagi masyarakat kecil dan tidak berpendidikan, mungkin kurang menyadari hal ini sehingga mereka mudah untuk dibodohi dan dijadikan budak kekuasaan. Namun mereka tetap merasakan niatan jahat yang dibungkus dengan pakaian rapi dan popularitas.

Hilangnya sense of humanity merupakan bahaya besar bagi peradaban manusia. Bila ada pemerintahan, lembaga, perusahaan, dan komunitas tertentu yang kehilangan rasa kemanusiaan ini, maka dapat dipastikan akan terjadi chaos yang mengerikan. Dan saya berpendapat bahwa banyak perusahaan yang tidak memperhatikan hal ini sehingga mereka beroperasi layaknya binatang karena hanya mencari kepuasaan sementara.

Manusia dan alam tidak bisa dipisahkan. Pembicaraan tentang kemanusiaan juga harus mencakup soal eksistensi alam, sebab manusia hidup dari alam. Jika alam rusak maka kemanusiaan itu juga akan rusak karena akan terjadi kelaparan, kekeringan dan akhirnya kematian. Manusia itu memang mengolah alam untuk keberlangsungan hidupnya, tapi harus dengan bijaksana; mengambil sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan.

Alam itu harus dijaga bukan dihancurkan. Mungkinkah pemerintah dan kaum kapitalis serta kita semua menyadari hal ini? Peristiwa sengketa tanah yang terjadi di Kinipan Kalimatan Tengah, antara masyarakat adat dengan perusahaan PT. Sawit Mandiri Lestari, mungkin dapat membantu kita menjawabnya.

Karena kasus penangkapan Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan, Effandi Buhing, banyak saudara-saudara sebangsa Dayak memberi respon yang tegas terhadap masalah ini. Mengapa? Kita perlu memahami filosofi orang Dayak terkait relasi antara orang Dayak dengan alam atau hutan.

Seperti yang saya katakan di atas bahwa alam menjadi sumber kehidupan dan tempat untuk melestarikan adat dan budaya. Maka orang Dayak begitu akrab dengan alam (hutan) karena alam memberikan apa yang mereka butuhkan. Oleh masyarakat Dayak, alam bukanlah objek melainkan subjek sama seperti manusia itu sendiri, sehingga mereka mampu memandang alam atau hutan itu sebagai ibu yang senantiasa merawat dan memelihara pertumbuhan manusia. Tanah dan hutan adalah identitas bagi orang Dayak. Jika hutan itu dirusak dan dieksploitasi maka orang Dayak akan berada di depan sebagai tameng yang akan melawan para oknum yang mencoba untuk memperkosa alam.

Ini adalah tradisi dan kebudayaan orang dayak bahwa alam itu itu harus dijaga, kalau pun dimanfaatkan, ambillah hasil alam secukupnya dengan bertanggung jawab. Inilah yang senantiasa dilakukan oleh orang-orang Dayak melalui budaya bercocok tanam, berburu dan tradisi lainnya. Mereka mengerti bagaimana harus memanfaatkan alam tanpa merusaknya.

Mungkin banyak orang luar yang akan memandang ini sebagai sesuatu yang bersifat mitologis (dan primitif). Akan tetapi, perlu dipahami bahwa mitos itu merupakan pemandu yang akan membantu manusia menjadi lebih manusiawi bukan hewani. Menjadi manusiawi harus dipahami secara komprehensif; mencakup seluruh eksistensi manusia, termasuk relasi manusia dengan alam.

Oleh karena itu, pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang mencoba untuk meningkatkan perekonomian dan mencari segudang rupiah harus mengerti filosofi masyarakat lokal dan menghargai kebudayaan tradisional, memiliki sense of humanity dan etika. Mungkin ini pernyataan yang cukup keras, tapi faktanya memang demikian. Kaum kapitalis mengeruk kekayaan alam Kalimantan dan pergi dengan kantong dipenuhi rupiah dan senyum manis di bibir; bergembira atas penderitaan masyarakat kecil.

Di mana posisi pemerintah ketika ada rakyatnya menderita? Di mana posisi petugas keamanan negara ketika rakyatnya terancam bahaya? Di manakah keadilan yang dijanjikan pemerintah? Masyarakat Dayak Kinipan Kalimantan Tengah yang sekarang dituduh mencuri lahan perusahaan mempertanyakan ini semua.

Mereka butuh peran pemerintah sebagai penguasa daerah. Meraka butuh putugas keamanan untuk membela mereka. Mereka butuh keadilan dan pengakuan atas hutan adat mereka. Begitu malang nasib rakyat kecil yang tidak memiliki legalitas atas kebudayaannya, sehingga mereka harus menangis dan menderita di bawah kaki penguasa yang tersenyum lebar karena sudah kenyang dengan uang.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya