Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia 05/05/2021 132 view Lainnya jurnalposmedia.com

Tan Malaka, demikianlah nama Pahlawan Nasional RI yang kini telah tenggelam dan terlupakan. Padahal gelarnya diberikan sejak tahun 1963 hingga sekarang masih belum terhapuskan. Namun gelar ini mulai dilupakan dan seolah dihapuskan dalam buku sejarah sejak zaman orde baru hingga sekarang karena dianggap sebagai seorang komunis yang membahayakan. Baik melalui pemikirannya maupun tindakannya yang revolusioner.

Jujur saja saya bahkan baru mengetahui bahwa Tan Malaka adalah salah satu pahlawan yang berpengaruh kuat terhadap kemerdekaan negara kita. Oleh karena itu saya juga mau berterima kasih dengan adanya perkuliahan Filsafat Nusantara yang memiliki visi dan misi yang baik demi membangun semangat nasionalisme, menambah khasanah ilmu pengetahuan dan wawasan berpikir filsafat kebangsaan Indonesia. Salah satunya mengenal tokoh Pahlawan Nasional Tan Malaka yang kini telah kerap kali dilupakan. Padahal jasanya amatlah besar bagi bangsa Indonesia.

Lebih dari itu Tan Malaka adalah sosok seorang intelektual (pemikir yang brilian), pejuang yang militan, seorang revolusioner yang kontroversial, kritis, cerdas, berani, sederhana, dan pejuang kemerdekaan bangsa bukan hanya kata-kata tetapi dengan tindakan dan pemikirannya yang tegas dan visioner. Maka ia juga disebut seorang tokoh dengan pemikiran aliran kiri yang juga mengingat bahwa ia banyak belajar di Belanda juga dari tokoh aliran kiri seperti Lenin, Karl Marx, dan Engels.

Bergabung dalam organisasi-organisasi beraliran komunis baik di luar maupun dalam negeri seperti PKI. Maka tidak heran kalau ia juga memiliki pemikiran komunis-sosialis yang terkandung dalam buku-bukunya seperti Garpolek, Massa Actie, menuju Indonesia merdeka, Soviet atau parlemen, semangat muda atau Madilog (materialisme dialektika logika).

Sikap, perkataan, pemikiran, dan tindakan-tindakan Tan Malaka yang amat radikal, berani, revolusioner dan visioner juga membuat ia banyak ditakuti oleh lembaga internasional maupun nasional pada zamannya. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa hidupnya yakni: dipenjara sebanyak 13 kali, dikejar polisi rahasia di 11 negara dua benua, memiliki 23 nama samaran, dan hidup selama 20 tahun dalam pelarian, ia juga menguasai delapan bahasa (minang, Indonesia, Tagalog, Mandarin, Jerman, Belanda, Rusia, Inggris). Meskipun demikian semuanya itu diperjuangkan demi kemerdekaan bangsa Indonesia sepenuhnya.

Tan Malaka sendiri merupakan pahlawan yang hebat. Jujur saja saya baru saja mengetahui bahwa Tan Malaka adalah Bapak Republik Indonesia, juga filsuf Indonesia, pejuang kemerdekaan kaum miskin proletariat, pejuang pendidikan, dsb. Sebab selama ini yang saya ketahui bahwa Bapak Republik Indonesia adalah Soekarno. Saya kira masih banyak generasi bangsa yang mengalami nasib yang sama dengan saya.

Dalam buku "Menuju Indonesia", buah pemikirannya lahir untuk menggagas nama Republik Indonesia ini yang juga dijadikan sumber inspirasi, acuan dan pedoman oleh Soekarno dan kawan-kawan dalam merumuskan konsep Republik Indonesia nantinya. Namun sayangnya hal ini banyak tidak diketahui sehingga kerap kali Soekarno lah yang dianggap sebagai bapak republik bangsa ini.

Karya dan pemikiran Tan Malaka yang menjadi sorotan, kekaguman, dan ketertarikan saya untuk menanggapi pemikirannya adalah Madilog (Materialisme Dialektika Dialog). Karyanya ini saya anggap sebagai pejuang revolusioner bagi generasi muda bangsa saat ini dalam meneladani pemikirannya yang amat visioner demi kemerdekaan yang sepenuhnya sebagaimana gagasan Tan Malaka sendiri.

Madilog yang secara sederhana adalah buah gagasan yang mengedepankan sikap dan perilaku dengan cara yang baru dan visioner. Cara berpikir dengan logis, konkrit dan dinamis serta dengan hal spiritual-rohaniah. Cara berpikir yang akan mengubah karakter Indonesia yang inferiority complex, minder, lemah, munafik, dll (sebagaimana pembelajaran sebelumnya mengenai karakter dan kepribadian masyarakat Indonesia). Cara berpikir generasi muda yang logis (sistematis-metodologis), dinamis dan konkrit-materialis (mengikuti perkembangan zaman). Cara berpikir yang Indonesialis yang berarti berkebangsaan Indonesia.

Kiranya pola pikir yang revolusioner ini jugalah yang kini menjadi visi misi Nawacita Presiden Jokowi yakni revolusi mental yang akan mengubah pola pikir anak bangsa yang cerdas, kreatif, inovatif, disiplin, mandiri, bertanggung jawab dll. Kesemuannya ini akan dicapai melalui pendidikan berdasarkan jenjang yang dijalani terutama saya sendiri sebagai mahasiswa berfilsafat untuk semakin belajar dari para tokoh bangsa yang berani, kuat, visioner, revolusioner, maju dsb. Sebagaimana yang diteladankan oleh Tan Malaka sendiri.

Akhirnya Tan Malaka dengan segala pemikiran dan perjuangnnya demi kemerdekaan Indonesia merupakan sosok yang patut diteladani dan dihormati sebagai pahlawan nasional serta jangan dilupakan. Sebab tanpa Tan Malaka, quo vadis Republik Indonesia? Terima kasih Bapak Revolusioner, Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka, pahlawanku.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya