Taksiran Presiden Terhadap Milenial

Penulis
Taksiran Presiden Terhadap Milenial 30/11/2019 483 view Lainnya istockphoto.com

Saya menaruh harapan yang besar untuk gebrakan yang diambil Pak Presiden kali ini dengan diangkatnya Andi Taufan Garuda Putra (CEO Amartha), Ayu Kartika Dewi (Perumus Gerakan Sabang Merauke), Adamas Belva Syah Devara (Pendiri Ruang Guru), Putri Indahsari Tanjung (CEO dan Founder Creativepreneur), Aminuddin Maruf (Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII), Billy Gracia Yosaphat Mambrasar (Peraih beasiswa kuliah di Oxford) dan Angkie Yudistia (Pendiri Thisable Enterprise) melengkapi 13 staf khusus Presiden.

Semoga gebrakan ini tidak hanya seperti buzzword namun lebih karena esensi dan urgensinya. Para stafsus milenial yang ditunjuk diharapkan dapat menjadi penyambung lidah Presiden dengan rakyat, menelisik sisi-sisi strategis yang luput dari perhatian para menteri Presiden.

Namun ada ragu yang timbul dalam benak saya, tentang alasan Pak Presiden mengambil langkah ini. Saya harap strategi ini bukan untuk meredam suara para milenial kritis yang tidak berada dalam inklusivitas Presiden.

Gejayan memanggil mungkin jadi peristiwa terbesar yang menghidupkan lagi euforia demo mahasiswa. Bahwa mahasiswa dituntut kritis dan bisa menjadi evaluator kebijakan yang dicanangkan pemerintah. Karenanya, semoga para staf milenial ini dapat menjadi jembatan untuk merumuskan kebijakan pemerintah yang lebih maksimal, menyuarakan pendapat rakyat bukan hanya untuk politik kepentingan sekelompok golongan.

Gebrakan Milenial

Bila kita lihat peristiwa-peristiwa 1 tahun belakangan, milenial merupakan kunci tidak hanya di Indonesia tapi juga di ASEAN.

Sebut saja Syed Saddiq, yang viral menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia di bulan Juli 2018. Lalu peristiwa #GejayanMemanggil yang merupakan inisiasi mahasiswa yang viral hingga bisa menggelar demo serentak hampir di seluruh tanah air. Hingga Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia) yang menggandeng 88 Rising management di pertengahan tahun 2019 karena kepiawaiannya mengorbitkan Rich Brian di tangga lagu hip-hop dunia.

Milenial, sekumpulan anak muda yang walau terkesan santai dan YOLO (you only live once), tapi dapat bersinergi dan kompak untuk menyuarakan pendapatnya. Mungkin kreativitas ini yang menjadi alasan kenapa Presiden Jokowi sekarang lebih menggaet para milenial. Dan mungkin sisi reaktif ini juga yang menyebabkan Pak Presiden ingin mencari tahu lebih jauh pola pikir para milenial sehingga melibatkan mereka dalam pemerintahan.

Santai namun serius, bermartabat tapi tetap asik dan cenderung tidak ambil pusing. Itu gambaran saya tentang milenial.

Ketergantungan dengan headset, game online, kerja di co-working space atau sekedar minum kopi cantik di kafe untuk feed social media. Tapi hal tersebut biasa digunakan untuk diskusi santai tentang beragam isu yang berkembang. Diawali dengan berbagi di sosial media, isu dapat dibuat viral dengan cepat. Sebut saja isu tentang persyaratan Halal MUI di Toko Tous les Jours yang viral 2 hari terakhir. Aksi #TumpukDiTengah yang ramai di twitter agar lebih peka untuk membereskan mangkuk atau piring di meja setelah makan di warung. Bahkan tindakan dan aksi masif mahasiswa di tanggal 24 September 2019 lalu, baik dengan turun ke jalan atau pun melalui FGD (Forum Group Discussion) yang menghasilkan petisi mahasiswa terhadap pengesahan UU KPK dan RKUHP.

Keraguan dan Secercah Harapan

Secercah harapan muncul dari benak saya. Analoginya mudah, sebagaimana di lingkungan tempat tinggal saya, ketika ada anggota DPR tinggal di salah satu blok perumahan, sudah pasti jalanan di perumahan yang rusak langsung di cor. Segesit itu aksi wakil rakyat merespon keresahan warga. Apalagi dengan dipilihnya milenial-milenial muda untuk membantu Presiden mencari solusi-solusi strategis, yang notabene telah memiliki pendidikan dan pengalaman mengembangkan inovasi yang mereka gemari, tidak mainstream dengan pola pikir habis lulus kerja melainkan bagaimana menciptakan lapangan kerja melalui komunitas yang dekat dengan mereka. Sudah tentu akan menguntungkan kami, para pemuda kekinian yang gemar bersosial media. Sekiranya ada harapan Pak Presiden untuk bisa mengatasi isu perpecahan di Papua, isu disabilitas, pendidikan hingga entrepreneurship melalui kolaborasi para stafsus milenial ini.

Namun perlu diperhatikan, akankah Presiden mendengar dan memperhitungkan solusi-solusi kritis yang diberikan para stafsus milenial ini di rapat Kabinet Indonesia. Ketika staf milenial dihadapkan dengan para menteri yang sebagian besar adalah generasi X, baby boomers atau bahkan tradisionalis.

Akankah suara para stafsus milenial ini kuat untuk menggerakkan orang-orang lama yang cenderung lambat dan resistant terhadap inovasi. Sistem yang efektif, namun bila pengguna tidak piawai, apakah akan mencapai target? Seberapa kuat persentase solusi para stafsus milenial ini dalam penyusunan strategi yang akan diambil Presiden Jokowi? Saya pun belum bisa menghitung-hitung karena ini murni hak prerogatif Presiden melaksanakan tugas eksekutifnya.

Belum lagi, seberapa dekat para stafsus milenial ini merasakan kehidupan mayoritas rakyat Indonesia yang bukan dari kalangan berada. Masih belum terpapar pendidikan yang layak, yang kadang harus berjuang untuk meneruskan sekolah mereka, yang harus membagi konsentrasi untuk mengejar pendidikan atau mencari uang agar bisa makan. Akankah usulan strategi yang diberikan stafsus milenial ini tepat dengan kondisi masyarakat saat ini?

Semoga para staf milenial ini bukan menjadi cara pak presiden meredam polemik rancangan undang-undang KUHP yang masih menuai pro kontra. Semoga stafsus milenial ini pun diangkat bukan karena mengikuti trend semata. Semoga nilai taksir presiden terhadap milenial ditujukan karena keragaman berpikir, kemampuan berinovasi dan memiliki kreativitas yang sangat dibutuhkan di era seperti sekarang ini. Semoga stafsus milenial ini dapat membawa manfaat yang besar untuk kemajuan Indonesia, mempererat toleransi dan kepekaan antar sesama dan menjadi penyambung lidah rakyat yang fleksibel untuk semua generasi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya