Swasembada Bawang Putih

Swasembada Bawang Putih 21/08/2021 89 view Ekonomi Merdeka.com

Semangat memperingati kemerdekaan ke 76 menggelora di tengah perjuangan melawan covid-19. Namun, sudahkah kita merdeka dalam arti luas? Penulis mencoba dari sudut kecil, merdeka dalam memenuhi kebutuhan komoditi yang bersentuhan dengan kepentingan masyarakat, yaitu bawang putih. Mungkinkah bangsa ini swasembada bawang putih? Merdeka dalam pemenuhan kebutuhan masyarakatnya menuju Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh.

Bawang putih dalam kehidupan masyarakat Indonesia sangatlah vital, dalam proses menghasilkan makanan, hampir semuanya membutuhkan bawang putih dalam bumbunya. Bawang putih juga dibutuhkan sebagai bahan baku industri kecil seperti keripik pisang dan sejenisnya. Selain itu, bawang putih dipercaya pula untuk penanganan ataupun pencegahan penyakit, seperti kolesterol, jantung, darah tinggi.

Kondisi tersebut menyebabkan bawang putih menjadi salah satu produk pertanian yang banyak mendapat perhatian. Dari mana dan bagaimana pemenuhan kebutuhan bawang putih sering menjadi sorotan.

BPS mencatat secara kumulatif impor bawang putih Januari-November 2020 tercatat sebanyak 461,72 ribu ton. Angka impor ini meningkat dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Di mana pada Januari-November 2019 impor sebanyak 358,44 ribu ton (cnbcindonesia.com). Produksi bawang putih nasional sejak 2017 hingga 2019 mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Tahun 2018 produksi bawang putih Indonesia mencapai 39,3 ribu ton, naik 101,44 persen jika dibanding produksi tahun 2017. Kemudian di tahun 2019 produksi bawang putih mengalami kenaikan yang sangat “fenomenal” yaitu 125,98 persen. Tahun 2020 angka produksi bawang putih nasional mengalami penurunan 7,89 persen.

Potensi

Berbicara bawang putih di Indonesia, maka akan langsung menuju Jawa Tengah. Meski ada Nusa Tenggara Barat yang besar pula perannya dalam produksi bawang putih nasional, namun Jawa Tengah merupakan penyumbang terbesar. Selama kurun 2018-2020 lebih dari 40 persen bawang putih nasional disumbang oleh Jawa Tengah, bahkan di tahun 2018 hampir 50 persen produksi bawang putih nasional berasal dari Jawa Tengah. Artinya, apa yang terjadi di bawang putih Jawa Tengah akan berpengaruh signifikan terhadap produksi bawang puith nasional.

Sentra produksi bawang putih Jawa Tengah berada di Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang. Kurun waktu 2018-2020 dua kabupaten tersebut menyumbang lebih dari 75 persen produksi bawang putih Jawa Tengah. Dominasi kedua wilayah tersebut dalam produksi bawang putih sangatlah mungkin mengingat secara geografis wilayahnya relatif berhawa dingin berada di dataran tinggi.

Menurut Sunarjono (2010) yang mengatakan bahwa Tanaman bawang putih akan tumbuh baik jika ditanam di dataran tinggi di atas 1.000 m dpl. Dengan suhu 15-25°C. Kondisi tahun 2020 dari kedua kabupaten tersebut menarik untuk dicermati, dengan kondisi geografis yang hampir sama tapi terjadi perbedaan arah tumbuh produksi bawang putihnya.

Pemicu

Pencapaian swasembada tentunya akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari internal budidaya maupun eksternal yang mempengaruhi secara tidak langsung produksi bawang putih. Faktor internal akan melibatkan diri petani dan mungkin akan teratasi oleh pembinaan yang dilakukan pemerintah melalui program dari kementrian pertanian. Faktor eksternal datang dari luar sebagai akibat kondisi lingkungan yang mempengaruhi.

Pertama aksesibiltas, dengan area yang berada di dataran tinggi biasanya akan direpotkan oleh akses untuk mencapai lokasi budidaya. Akses ini sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap proses produksi dan pasca panen. Media produksi yang modern sebagai bagian teknologi untuk peningkatan produksi membutuhkan kemudahan akses benih unggul yang dibutuhkan guna kenaikan produksi harus mencapai lokasi budidaya, Kemudahan akses ke lokasi panen bawang putih dimungkinkan akan mengurangi penyusutan sebagai akibat kerusakan umbi ataupun jatuh di perjalanan.

Kedua, kepastian harga, kestabilan harga dari bawang putih sangat dibutuhkan oleh petani. Pada awal tahun hingga pertengahan tahun 2020 harga bawang putih relatif tinggi, berbagai media menuliskan harga di bulan-bulan tersebut mencapai di atas Rp 50 ribu per kg. Sebaliknya setelah melewati pertengahan tahun harga bawang putih relatif rendah. Gatra.com tanggal 16 November 2020 menuliskan Petani bawang putih dari Pancot, Kelurahan Kalisoro Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah memilih menunda jual hasil panennya menunggu saat harganya pantas. Harga saaat itu berkisaran antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per kg, lebih rendah jika dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya Rp 35 ribu per kg. Ketidakpastian harga ini sangat mungkin menjadi faktor terjadinya penurunan produksi bawang putih di tahun 2020 dibanding 2019.

Ketiga, impor, ketidakpastian harga di pasaran pastinya akan berpengaruh langsung dengan ketersediaan dari bawang putih. Kelangkaan bawang putih di pasaran mengharuskan pemerintah melakukan impor. Impor bawang putih dilakukan di bulan April 2020, pada saat yang hampir bersamaan sedang terjadi panen raya bawang putih di Temanggung, kondisi ini mungkin secara makro tidak memiliki dampak negative, tapi secara mikro berpengaruh terhadap serapan pasar bawang putih yang dipanen oleh petani. Pasar lebih memilih bawang putih impor, petani dengan varietas lokalnya akan kesulitan menjual panennya di pasar. Kesulitan penjualan panen ini akan berdampak pula munculnya spekulan yang memanfaatkan peluang dari “terpepetnya” petani.

Membandingkan dengan kebutuhan dan produksi bawang putih,maka dapat dikatakan impor tersebut berlebihan. Dengan produksi 88 ribu ton dan kebutuhan 500 ribu ton maka defisit bawang putih di 2020 adalah kisaran 410 ribu ton. Permasalahan impor yang tidak tepat menyebabkan susahnya hasil panen petani terserap pasar akan berdampak pada ketertarikan petani menanam kembali bawang putih. Mereka akan lebih memilih komoditas hortikultura lain atau tanaman pangan, yang lebih mudah akses pasarnya. Terlebih petani-petani di wilayah yang sesuai dengan kecocokan tanaman adalah petani subsisten ataupun petani gurem. Dengan kondisi tersebut sangatlah wajar jika petani akan giat melakukan penanaman jika hanya ada “program” khusus dari pemerintah, setelah program tersebut selesai maka selesai pula mereka menanam.

Masih Ada Harapan

Covid-19 yang masih berkecamuk saat ini dan mungkin akan berlanjut, pastinya akan berpengaruh terhadap produksi bawang putih. Seperti di kegiatan produksi lainnya, covid-19 pada umumnya berpengaruh negatif. Namun demikian untuk bawang putih diharapkan pengaruhnya positif, bawang putih dibutuhkan dalam bumbu masak. Saat covid-19 di mana masyarakat lebih lama tinggal di rumah sangat mungkin memiliki kecenderungan akan memasak. Dengan kata lain kebutuhan bawang putih pun kemungkinan akan bertambah, menjadi peluang untuk semangat peningkatan produksi bawang putih.

Jawa Tengah sebagai penyumbang terbesar bawang putih serta memiliki kondisi geografis yang cocok untuk budi daya bawang putih berpeluang meningkatkan produksinya. Wilayah-wilayah tersebut seperti Kabupaten Karanganyar dengan Tawang Mangunya. Kabupaten-kabupaten yang mengelilingi Gunung Slamet yaitu Kabupaten Banyumas dengan Baturadennya, Pemalang, Tegal sekitar lokasi wisata Guci, Brebes di sekitar areal perkebunan Kaligua. Kemudian wilayah tengah Jawa Tengah searah dengan Temanggung yaitu Banjarnegara dan Wonosobo dengan diengnya yang sudah mendunia, serta wilayah lainnya yang masih mungkin.

Peluang peningkatan produksi bawang putih Jawa Tengah ini dibutuhkan, mengingat ketersediaan bawang putih secara nasional masih jauh dari kebutuhan. Tahun 2020 kementrian pertanian mencatat kebutuhan bawang putih nasional mencapai 500 ribu ton namun produksi bawang putih nasional baru mencapai 88,8 ribu ton. Masih lebih dari 80 persen kebutuhan bawang putih harus didatangkan dari luar negeri.

Selanjutnya pemicu dari permasalahan tercapainya swasembada dapat teratasi oleh sinerginya para pihak yang terlibat dalam proses produksi bawang putih hingga sampai ke konsumen. Pemerintah bersinergi dalam bentuk melahirkan regulasi yang berpihak pada petani dengan tetap memperhatikan konsumen. Regulasi tersebut menghasilkan sistem harga yang menguntungkan bagi petani namun terjangkau oleh masyarakat.

Regulasi tersebut menghasilkan sistem distribusi yang memudahkan terserapnya bawang putih hasil panen petani di pasar dan melancarkan akses masyarakat dalam memperolehnya. Regulasi-regulasi tersebut diimplementasikan dengan sebenarnya.

Para petani bersinergi dengan mengikuti petunjuk ataupun saran dari petugas kementrian pertanian dalam rangka peningkatan produksi dan pelaksanaan regulasi yang berpihak kepada petani tersebut. Pengusaha dan pedagang bersinergi dengan peduli pada petani dan konsumen, posisikan seakan-akan berada dalam posisi mereka, sehingga dalam proses bisnisnya selain dengan akal juga memperhatikan hati. Dengan sinergi para pihak tersebut bukanlah mustahil swasembada bawang putih akan tercapai.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya