Surat Untuk Ayah

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Surat Untuk Ayah 12/11/2022 55 view Pendidikan cnnindonesia.com

Selamat hari ayah! Ucapan yang kian berseliweran di postingan status media sosial ini mengalir deras pada hari spesial, 12 November sebagai hari ayah.

Moment spesial tersebut mengingatkan seluruh umat manusia betapa penting dan berharganya sosok ayah yang hadir dalam sebuah keluarga. Maka, jika direfleksikan ayah adalah sosok seorang kepala keluarga dalam suatu rumah tangga. Ayah yang bertugas memimpin ini memiliki tugas, peran dan tanggung jawab yang besar dalam menciptakan, merawat, menumbuhkembangkan dan menjaga keharmonisan kehidupan dalam keluarga. Ayah memberikan sumber kehidupan dan kesejahteraan bagi istrinya dan juga anak-anaknya.

Peringatan hari ayah mau memberikan peringatan khusus betapa ayah adalah sosok orang tua yang patut dihormati, dicintai, ditaati bagi seorang anak. Demikian juga sebaliknya peringatan hari ayah mau mengajak “ayah” untuk berefleksi sejauh mana tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga berjalan dengan baik dan lancar. Anak dan istri patut dicintai dan dilindungi sebagaimana mestinya, dan bagaimana seorang ayah hadir sebagai penyejahtera hidup keluarga.

Tugas dan Kewajiban Anak

Peringatan hari ayah mengingatkan penulis akan kesepuluh perintah Allah yang menjadi hak dan kewajiban umat Katolik dalam implementasi kehidupannya.

Hal tersebut terdapat dalam perintah keempat yakni “Hormatilah Ayah Ibumu” bandingkan Keluaran 20:12. Secara singkat perintah keempat ini mengingatkan anak-anak akan tugas dan kewajiban terhadap orang tua. Dalam usia lanjut, dalam keadaan sakit, kesepian, kesulitan, mereka hendaknya membantu kedua orang tuanya baik secara moral maupun material (bdk. KGK 2218).

Orang tua kita memang tidak selalu sempurna dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Meskipun demikian mereka telah berkorban lebih banyak dari pada penghargaan yang diberikan anaknya baik tenaga, waktu, pikiran, jerih payah, moril dan materil. Meskipun cenderung ada perbedaan pendapat antara ayah dan anak, namun memberikan penghormatan, ketaatan dan kasih sayang adalah kewajiban moral etis yang tidak dapat tidak dilakukan oleh seorang anak.

Adalah cara sederhana yang dapat dilakukan oleh seorang anak yakni menjadikan orang tua sebagai bagian dari hidup kita sendiri saling berkomunikasi tentang kehidupan untuk saling menguatkan, memberi semangat dan motivasi, menghormati mereka yang sudah memberi hidup (merawat menumbuhkembangkan dan membesarkan), menghargai, sabar, memaafkan dan mendoakan adalah cara-cara sederhana yang dapat dilakukan.

Tugas dan Kewajiban Orang Tua

Peringatan hari ayah kiranya juga mau mengingatkan tugas dan peran sebagai ayah. Di zaman sekarang ancaman akan kehidupan keluarga dan perkawinan kian memprihatinkan. Perhatikan saja ada begitu banyak perkawinan yang hancur, keluarga yang ‘broken home’, orang tua yang terlalu sibuk dengan karir dan bisnis sehingga lupa akan pentingnya menjalin relasi bersama dalam keluarga, kurangnya komunikasi, dan sebagainya. hal ini kemudian berdampak besar bagi kehidupan anak-anak. Mereka cenderung depresi, kehilangan orientasi, kurang mendapat bimbingan dan kasih sayang, kurang mendapat pendidikan dan perhatian lebih yang berakibat pada pergaulan bebas, seks bebas, dan ragam perilaku yang negatif lainnya.

Dewasa ini bahkan keharmonisan hidup dalam keluarga sangat rendah. Penyebabnya beragam seperti beban psikologi yang berat, tekanan, stress baik dalam urusan bisnis maupun relasi, aura dan temperamen negatif yang sulit diatasi, pergaulan yang tidak sehat (judi, mabuk-mabukan, perilaku seksual dan sebagainya). Maka orang tua diingatkan bahwa ketahanan keluarga adalah kondisi dinamika suatu yang memiliki keuletan, ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik, meteril dan psikis mental spiritual guna kehidupan yang mandiri, pengembangan diri dan keluarga harmonis yang melahirkan kesejahteraan dan kebahagiaan (bdk. Pasal 1 angka 15 UU Nomor 10 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera).

Orang tua harus berusaha sedapat mungkin agar jangan sampai anak mereka tumbuh semaunya sendiri dan tanpa kendali yang berarti. Ibarat sebuah rumah maka kehidupan dalam keluarga juga harus dibangun atas dasar yang kuat yaitu iman yang kuat. Dalam hal ini setiap agama dapat mempraktikan kehidupan moral dan iman anaknya. Sebagai contoh adalah pentingnya pengajaran akan iman dari orang tua pada anaknya hingga pada pengaplikasiannya dalam hidup sehari-hari. Orang tua mengambil peran penting dalam pengajaran moral dan iman, tutur kata dan sikap, tindakan dan pengambilan keputusan yang baik dan benar sesuai iman yang baik. Tugas orang tua adalah membentuk karakter anak menjadi pribadi yang beriman sekaligus bermoral baik pada Tuhan maupun sesama manusia, alam, dan seluruh ciptaan.

Dalam Gereja Katolik misalnya, Gereja menegaskan dan mengajarkan demikian bagi para orang tua: “Karena orang tua telah menyalurkan kehidupan pada anak-anak, orang tua terikat akan kewajiban amat serius untuk mendidik anak-anak mereka. Maka, orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik yang utama dan pertama bagi anak-anak mereka” (bdk Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis 3, lihat juga KGK 1653 dan Familiaris Consortio 36). Dengan demikian orang tua harus menyediakan waktu bagi anak-anak untuk membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi yang mengenal dan mengasihi Allah. Kewajiban dan hak orang tua untuk mendidik anak-anak mereka tidak dapat seluruhnya digantikan ataupun dialihkan kepada orang lain (lih. Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio 36, 40).

Dari keseluruhan relasi kehidupan keluarga orang tua dan anak tersebut di atas kiranya jelas bahwa pentinglah membangun hal-hal yang baik dalam keluarga. Penulis amat prihatin dengan kehidupan keluarga yang akhir-akhir ini mengalami kemerosotan dan penurunan tugas dan tanggung jawab moral. Hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga orang tua yang kurang memberi perhatian satu sama lain. Bangunan kehidupan keluarga yang sejati, harmonis, penuh kebahagiaan dan cinta adalah bagian penting yang perlu diperjuangkan dalam kehidupan. Hal ini tidak dapat dikerjakan dan dilakukan oleh orang tua sendiri, ayah sendiri, ibu sendiri atau anak-anak sendiri. Melainkan perlunya kerjasama yang harmonis, kompak dan serasi. Semua ini tentu demi kesejahteraan kehidupan keluarga-keluarga Indonesia dan dunia yang semakin baik, benar dan harmonis sebagai manusia yang bermartabat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya