Strategi Mengatasi Penyebaran Covid-19 di NTT

Pendidik
Strategi Mengatasi Penyebaran Covid-19 di NTT 06/02/2021 222 view Lainnya mytrip.co.id

Pandemi Covid-19 semakin terus bergejolak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Penambahan pasien mengalami peningkatan setiap harinya dan angka yang meninggal dunia pun terus bertambah. Sejauh ini sudah sebanyak 2.295 pasien dirawat dan 2.246 pasien sembuh serta 139 orang pasien meninggal (Kompas, 28/01/2021 hal 1).

Penularan Covid 19 di NTT sebenarnya memiliki masalah yang sangat berbeda dengan daerah lain sebab NTT merupakan provinsi kepulauan. Keadaan geografis yang demikian menyebabkan terjadinya penumpukan antrean sampel swab PCR dan waktu tunggu hasil test yang sangat lama sebagai akibat dari laboratorium tes PCR yang tidak tersedia di semua pulau. Kondisi ini menyebabkan penerapan 3T (Test, Tracing, Treatment) yang menjadi salah satu rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu upaya pencegahan menjadi sangat tidak efektif. Akibatnya adalah rumah sakit di beberapa daerah kolaps sehingga terjadi beberapa kasus dimana pasien memilih untuk melakukan isolasi atau penyembuhan di rumah sendiri dan berakhir meninggal dunia.

Menurut penulis ada beberapa strategi yang belum secara maksimal diterapkan dalam perang melawan Covid 19 di NTT. Pertama adalah pergerakan orang yang masih secara bebas diijinkan keluar atau masuk suatu pulau. Episentrum penularan Covid 19 di NTT menurut penulis sebenarnya ada di Kota Kupang. Ini karena Kota Kupang merupakan ibu kota Provinsi yang menjadi pusat mobilitas penduduk terkhususnya melalui transportasi laut dan udara.

Sejauh ini, lonjakan kasus di Kota Kupang semakin tidak terkendali. Lonjakan kasus ini menyebabkan IGD pada RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang sebagai rumah rakit rujukan Provinsi ditutup untuk sementara waktu karena penuh. Jika ini tidak secepatnya bisa dikendalikan maka kabupaten lain seperti Sabu Raijua, Rote Ndao, Lembata, Flores Timur dan lainnya dikhawatirkan bisa mengalamai hal yang serupa. Hal ini mengingat pergerakan manusia dari Kota Kupang ke daerah-daerah tersebut masih terus terjadi setiap harinya. Untuk mencegah hal tersebut, Pemerintah NTT perlu menerapkan strategi baru sebagai upaya memperketat pergerakan manusia agar penularan tidak semakin meluas.

Strategi yang dipakai dalam perang melawan Covid 19 di NTT seharusnya disesuaikan dengan kondisi geografis NTT sebagai sebuah daerah kepulauan. Pencegahan penularan melalui metode 3T harus menyasar mobilitas orang dari pulau satu ke pulau yang lain. Cara ini yang masih belum efektif diterapkan sebagai akibat dari biaya tes yang mahal. Salah satu solusi yang menurut penulis mungkin bisa diterapkan adalah penggunaan GeNose C19 sebagai alat pendeteksi virus pada transportasi penumpang jalur laut. GeNose C19 yang merupakan salah satu alat pendeteksi virus karya anak bangsa dengan tingkat akurasi di atas 90 % serta bisa mengidentifikasi orang yang terinfeksi hanya dalam beberapa menit melalui hembusan nafas. Selain cepat dan akurat, GeNose C19 juga berbiaya sangat murah yakni Rp15.000 - Rp25.000 dan sudah mendapat izin edar dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes).

Penggunaan alat GeNose C19 ini bisa dipakai untuk mendeteksi penumpang pada kapal ferry ataupun kapal penumpang lainnya yang dalam banyak kejadian dimana penerapan protokol kesehatan sering diabaikan. Sampai saat ini pelayaran penumpang laut di NTT masih terus beroperasi sebagai bagian dari penggerak roda ekonomi. Artinya penularan Covid 19 via transportasi laut sangat mungkin terjadi. Secara teknis, alat ini bisa ditempatkan di semua pelabuhan penyebrangan antar pulau baik itu pelabuhan penumpang Pelni ataupun ASDP di NTT.

Pendanaan yang kuat adalah salah satu hambatan yang nantinya akan dihadapi oleh pemerintah NTT dalam menerapkan strategi ini sebab satu unit alat GeNose C19 diperkirakan seharga Rp 40 juta. Oleh karena itu, harga tiket penumpang yang menggunakan transportasi laut per trayeknya harus disesuaikan dengan biaya operasional alat tersebut. Pelabuhan yang padat akan trayek penyeberangan seperti pelabuhan Bolok di Kabupaten Kupang harus menjadi prioritas pengadaan serta penggunaan GeNose C19. Jika strategi ini diterapkan maka semua penumpang wajib mengantongi hasil negatif dengan metode deteksi GeNose C19 sebelum melakukan perjalanan keluar atau masuk suatu pulau.

Persoalan lain yang nantinya akan dihadapi adalah adanya oknum-oknum pemburu uang instan yang bisa memalsukan hasil tes tanpa melakukan tes. Oleh karenanya Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Daerah (Pemda), Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Polri, TNI dan lembaga terkait lainnya harus bersama-sama secara simultan mengawasi penerapan penggunaan GeNose C19 pada transportasi penumpang jalur laut.

Kedua adalah strategi layanan semacam via call center Covid 19 perlu dioptimalkan untuk mempermudah pasien mengakses layanan kesehatan. Tugas call center Covid 19 adalah menginformasikan dan mengarahkan pasien Covid 19 yang kritis serta membutuhkan perawatan di rumah sakit seperti fasilitas tempat tidur atau ruang perawatan dan lainnya. Ada beberapa contoh kasus di pulau Jawa di mana keluarga pasien harus mengunjungi satu per satu rumah sakit rujukan bahkan hingga harus menelepon Kementrian Kesehatan (Kemenkes) agar supaya bisa mendapatkan akses pelayanan rumah sakit. Kejadian seperti sangat kita harapkan untuk tidak terjadi di NTT. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut maka strategi ini harus diterapkan agar usaha penanggulan Covid -19 di NTT dapat berjalan maksimal.

Data terkait keterisian tempat tidur atau ruang perawatan di rumah sakit atau puskesmas sebenarnya merupakan hal yang sangat penting sebab mempermudah pasien dalam memperoleh pelayanan kesehatan dimana lebih mengefektifkan waktu dan mengefisienkan tenaga. Secara teknis, data terkait keterisian tempat tidur atau ruang perawatan dapat diperoleh dengan mudah dengan melakukan koordinasi langsung dengan pihak rumah sakit atau puskesmas. Jika data lengkap dan komunikasi hanya berjalan satu arah yaitu antara pasien dan petugas call center Covid 19 maka layanan kesehatan dapat dengan mudah diakses oleh pasien dengan tanpa harus mengunjungi satu per satu rumah sakit.

Penggunaan layanan call center Covid 19 sangat penting khususnya pada daerah yang memiliki lebih dari satu rumah sakit rujukan seperti di Kota Kupang. Selain itu tugas call center Covid 19 juga bisa mengatur pelayanan pasien berdasarkan tingkat kedaruratan tanpa harus bertatap muka langsung sehingga dapat meminimalisir penularan. Layanan call center Covid 19 juga bisa membantu dengan cepat dalam memutuskan apakah pasien tersebut cukup melakukan isolasi mandiri di rumah ataukah perlu mendapat layanan di rumah sakit. Jika pasien tersebut kritis dan memang perlu perawatan maka call center Covid 19 yang bertugas menghubungi rumah sakit untuk mendatangi pasien sehingga penularan yang mungkin bisa terjadi selama mengantar pasien ke rumah sakit dapat dihindari.

Kita berharap kasus pasien yang meninggal saat melakukan isolasi mandiri di rumah karena rumah sakit penuh tidak tidak terjadi di NTT sebab mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas adalah hak setiap warga negara Indonesia. Penulis percaya, jika kedua solusi ini digunakan serta dibarengi dengan penerapan 3M+3T secara ketat maka peningkatan jumlah kasus positif Covid 19 dan pasien meninggal di NTT dapat secepatnya ditekan. Semoga

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya