Stop Audisme, Yes Bahasa Isyarat

Pengamat Isu Publik dan pendidikan
Stop Audisme, Yes Bahasa Isyarat 23/09/2022 171 view Pendidikan basoetta.my.id

Bulan ini tepatnya tanggal 23 September adalah Hari Bahasa Isyarat Internasional. Penetapan tanggal ini didasarkan pada sejarah berdirinya World Association of the Deaf (WFD) pada 23 September 1951. Bahasa isyarat merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh teman tuli. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada 466 juta orang dengan gangguan pendengaran di dunia pada tahun 2019, dan pada tahun 2050 diprediksi 900 juta orang, atau 1 dari 10 orang di seluruh dunia, akan memiliki gangguan pendengaran. Sedangkan data dari Sistem Informasi Manajemen Disabilitas (SIMPD), 7,03% merupakan teman tuli di Indonesia.

Bersamaan dengan perayaan bahasa isyarat yang dirayakan setiap tahunnya pada bulan September, sudah saatnya hak-hak dan keberadaan teman tuli menjadi perhatian yang lebih besar bagi pemerintah dan masyarakat sekitar. Ditambah lagi teman tuli sering mengalami sikap audisme dari masyarakat sekitar.

Audisme adalah bentuk diskriminasi terhadap teman tuli. Kejadian yang cukup kontroversi dilakukan oleh Menteri Sosial, Tri Rismaharini, yang memaksa teman tuli untuk berbicara. Selain itu Tri Rismaharini menambahkan bahwa teman tuli harus memanfaatkan dan memaksimalkan pemberian Tuhan. Pernyataan ini membuat seakan-akan teman tuli tidak menghargai pemberian Tuhan.

Kejadian seperti itu, menjadi pekerjaan rumah yang penting bahwa siapa saja bisa bersikap audisme. Penyebab utama dikarenakan bahwa kita semua menyadari keberadaan teman tuli tetapi kita tidak memahami keberadaan mereka. Dalam kehidupan sosial teman tuli kesulitan untuk berinteraksi dengan kita, dan kita pun kesulitan untuk berinteraksi dengan mereka. Kesulitan tersebut dikarenakan bahasa isyarat belum menjadi bahasa yang familier bagi banyak orang Indonesia. Sehingga banyak teman tuli yang lebih memilih untuk sekolah di sekolah berkebutuhan khusus atau Sekolah Luar Biasa.

Sistem pendidikan kita yang lebih memperhatikan bahasa asing agar dikuasai oleh anak muda membuat bahasa isyarat menjadi hal yang kurang diminati dan memiliki prestise bagi sebagian masyarakat apalagi anak muda. Zaman sekarang pemuda dan pemudi di Indonesia, berlomba-lomba untuk mempelajari bahasa asing seperti Mandarin, Inggris, Korea, dan Jepang. Salah satu penyebab kurang minatnya anak muda dan mudi mempelajari bahasa isyarat dikarenakan kurangnya pemahaman betapa “pentingnya mempelajari bahasa isyarat”.

Dari kecil hingga dewasa, kurikulum pendidikan di Indonesia memberikan pemahaman bahwa ketika kita menguasai bahasa Inggris kita mampu bersaing dengan dunia, atau kita diharuskan belajar bahasa mandarin dikarenakan prospek ke depan yang menjadikan negara Cina sebagai kiblat perdagangan.

Pemahaman tersebut yang akhirnya mendorong masyarakat terutama kaum muda mudi untuk mempelajari bahasa asing. Hal ini secara tidak langsung membuat masyarakat merasa tidak ada keuntungan yang didapat ketika mempelajari bahasa isyarat.

Mempelajari bahasa asing bukanlah suatu kesalahan, tetapi bukankah lebih baik jika kita juga mempelajari bahasa isyarat sebagai bentuk paling sederhana untuk mengakui keberadaan para teman tuli dan bentuk toleransi paling nyata terhadap teman tuli. Karena di sekitar kita, mungkin akan kita jumpai teman tuli, namun kita sendiri kesulitan untuk memahami dan merespons teman tuli dan sebaliknya.

Dalam UUD 1945 pasal 28I ayat 4, negara pun menjamin pemenuhan hak asasi manusia. Salah satu bentuk pemenuhan hak asasi manusia adalah bahasa. Sehingga bahasa isyarat yang merupakan bahasa ibu bagi teman tuli merupakan bahasa yang sudah seharusnya perlu dipelajari oleh kita semua. Karena pemenuhan hak asasi manusia tidak boleh meninggalkan siapa pun. Salah satu yang bisa pemerintah lakukan adalah memasukkan bahasa isyarat sebagai bahasa yang wajib dipelajari di sekolah dan diikutsertakan dalam kurikulum pendidikan seperti bahasa Inggris dan mandarin atau menjadikan bahasa isyarat sebagai ekstrakulikuler yang wajib di pelajari.

Pemahaman sejak dini tentang bahasa isyarat akan meminimalisir tindakan audisme terhadap teman tuli. Teman tuli tidak akan kesulitan berinteraksi dengan kita dan kita pun tidak akan kesulitan berinteraksi dengan mereka. Kepercayaan diri dan kebanggaan para teman tuli untuk berinteraksi dengan sekitar pun akan meningkat. Karena ketidakmampuan teman tuli untuk mendengar dan berbicara membuat mereka merasa lingkungan yang ada di sekitarnya terasa jauh seolah terdapat gap antara mereka dan dunia yang akhirnya secara tidak langsung menimbulkan ketidakpercayaan diri mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitar mereka. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menciptakan lingkungan yang terasa lebih bersahabat dan nyaman untuk mereka, bahwa bukan hanya teman tuli saja yang mencoba memahami kita, tetapi kita juga memahami mereka. Yuk belajar bahasa isyarat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya