Stoikisme Bangsa Indonesia Melucuti Fasisme Penjajah Belanda

Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya
Stoikisme Bangsa Indonesia Melucuti Fasisme Penjajah Belanda 09/06/2024 71 view Lainnya Pinterest

Stoikisme mulai memasuki Indonesia pada paruh kedua abad ke-19, terutama melalui pengenalan gagasan-gagasan filsafat barat oleh kalangan intelektual dan terpelajar Hindia Belanda pada masa itu. Gagasan-gagasan ini kemudian diadopsi dan digunakan oleh beberapa tokoh nasionalis dan aktivis dalam konteks perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Selama masa penjajahan Belanda di Indonesia, ada beberapa kelompok yang mulai mengadopsi paham Stoikisme, terutama di kalangan intelektual dan tokoh nasionalis.

Stoikisme mengajarkan konsep-konsep seperti ketenangan batin, penerimaan terhadap takdir, dan pengendalian diri, yang dianggap relevan dalam menghadapi kesulitan dan penindasan yang dialami oleh masyarakat Indonesia pada saat itu. Paham ini membantu mereka untuk tetap teguh dan tidak putus asa dalam menghadapi tantangan yang dihadapi.

Meskipun tidak seluruh masyarakat mengadopsi paham Stoikisme, namun pengaruhnya dapat dirasakan dalam semangat perlawanan dan keteguhan hati dalam mencapai kemerdekaan. Paham Stoikisme memberikan relevansi yang kuat dengan semangat juang rakyat Indonesia untuk menumpas penjajah Belanda selama masa penjajahan. Konsep-konsep seperti ketenangan batin, penerimaan terhadap takdir, dan pengendalian diri membantu masyarakat Indonesia dalam menghadapi penindasan dan kesulitan yang dialami.

Dengan mempraktikkan prinsip-prinsip Stoikisme, mereka belajar untuk tetap teguh dan tidak putus asa dalam menghadapi tantangan yang dihadapi, serta membangun semangat perlawanan yang kuat terhadap penjajahan Belanda. Semangat ini diperkuat oleh keyakinan bahwa mereka memiliki kekuatan internal untuk bertahan dan berjuang untuk kemerdekaan mereka.

Oleh karena itu, adopsi paham Stoikisme memberikan landasan filosofis yang kuat bagi semangat juang rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka dari penjajah Belanda. Stoikisme terbukti berhasil memengaruhi pandangan hidup kaum terjajah di Hindia Belanda karena menyajikan landasan yang kuat untuk menghadapi tekanan dan kesulitan di bawah penindasan Belanda.

Di bawah cengkeraman penjajah, rakyat Indonesia menderita penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan, memerlukan kekuatan mental dan spiritual untuk bertahan. Stoikisme menghadirkan konsep-konsep seperti ketenangan pikiran, penerimaan akan takdir, dan pengendalian diri, memberikan mereka kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi tantangan itu. Oleh karena itu, Stoikisme bukan hanya menawarkan pandangan hidup filosofis, tetapi juga memberikan alat praktis bagi rakyat terjajah untuk mempertahankan harga diri dan semangat perlawanan mereka terhadap penjajahan Belanda.

Meskipun tidak banyak catatan yang khusus membahas keyakinan Stoikisme di kalangan kaum pesuruh selama era penjajahan Belanda di Hindia Belanda, namun beberapa konsep Stoikisme seperti ketenangan batin dan penerimaan terhadap takdir mungkin dapat ditemukan dalam keyakinan atau praktik spiritual yang ada di kalangan mereka.

Kaum pesuruh, meskipun berada dalam kondisi sosial dan ekonomi yang sulit, sering kali mengembangkan strategi dan mekanisme untuk mengatasi tekanan dan kesulitan yang mereka hadapi sehari-hari. Oleh karena itu, meskipun tidak secara eksplisit, konsep-konsep Stoikisme mungkin telah memiliki pengaruh yang tidak langsung pada pandangan hidup dan praktik spiritual kaum pesuruh di era tersebut. Mereka yang tidak bisa baca tulis, dan pekerjaannya hanya sebagai pesuruh wong londo tetap menjalankan apa yang telah digariskan dengan begitu tabah.

Hal tersebut membuktikan bahwa stoikisme di Hindia Belanda pada masa kependudukan Belanda, tidak hanya menyasar kepada kelas priayi yang memiliki privilese terhadap pendidikan dan pengetahuan, tetapi juga mendiami pikiran orang-orang “kelas teri” yang disakiti dan dizalimi oleh bangsa lain di tanah air kecintaannya sendiri. Miris sekali.

Salah satu tokoh nasionalis Hindia Belanda yang terkenal dengan penyebaran pemikiran Stoikisme adalah Tirto Adhi Soerjo. Ia adalah seorang aktivis, jurnalis, dan pemimpin pergerakan nasional di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Tirto Adhi Soerjo juga dikenal sebagai pengarang dan penerjemah karya-karya Stoikisme yang ia sebarkan di kalangan masyarakat pribumi di seluruh wilayah Hindia Belanda.

Tirto Adhi Soerjo lahir pada tahun 1880 di Jawa Timur, Hindia Belanda, dan meninggal pada tahun 1918. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh nasionalis yang berperan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Selain itu, Tirto juga merupakan seorang jurnalis yang mendirikan beberapa surat kabar yang memperjuangkan hak-hak rakyat pribumi. Selama hidupnya, Tirto Adhi Soerjo tidak hanya aktif dalam dunia politik dan jurnalistik, tetapi juga dalam bidang pendidikan dan pemikiran. Ia tertarik pada pemikiran Stoikisme, yang merupakan aliran filsafat dari Yunani kuno yang menekankan pada kontrol diri, ketenangan batin, dan penerimaan atas segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan yang menimpa hidupnya.

Tirto tidak hanya mempelajari pemikiran Stoikisme untuk dirinya sendiri, tetapi juga menganggapnya relevan dan penting untuk disebarkan di kalangan masyarakat pribumi di Hindia Belanda. Melalui tulisannya, Tirto menyebarkan ide-ide Stoikisme tentang kebijaksanaan hidup, ketegasan moral, dan ketahanan dalam menghadapi cobaan kehidupan kepada masyarakat.

Sebagai pengarang dan penerjemah, Tirto Adhi Soerjo menghadirkan karya-karya Stoikisme dalam bahasa Jawa dan Indonesia, sehingga lebih mudah dipahami dan diakses oleh masyarakat luas. Dengan demikian, peran Tirto dalam penyebaran pemikiran Stoikisme di Hindia Belanda tidak hanya memberikan kontribusi pada perkembangan pemikiran filosofis di Indonesia, tetapi juga memengaruhi pandangan dan sikap masyarakat terhadap kehidupan dan pemerintahan kolonial pada masa terpuruk itu.

Fasisme Pada Badan Instansi Pemerintah Belanda di Hindia Belanda

Ideologi Fasisme Belanda yang diterapkan pada Hindia Belanda dalam sejarah terasa sangat kentara. Meskipun Belanda tidak memiliki rezim fasisme yang sama seperti di Jerman atau Italia, namun ada beberapa prinsip dan praktik yang dapat diidentifikasi sebagai ideologi fasisme yang diterapkan di Hindia Belanda seperti: Pemerintahan Hindia Belanda bergaya otoriter dikelola secara otoriter oleh pemerintah Belanda di mana keputusan pusat dibuat tanpa banyak partisipasi atau representasi dari penduduk pribumi yang jauh dari setara.

Eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh Belanda pada Hindia Belanda dipandang sebagai sumber daya ekonomi bagi negeri kincir angin. Tanah dikuasai oleh perusahaan Belanda untuk keuntungan ekonomi mereka sendiri, mirip dengan praktik eksploitasi yang dianut oleh rezim fasisme.

Penindasan pjuga menjadi penggerak penjajah dalam ruang lingkup Hindia Belanda. Kelompok-kelompok yang menentang pemerintahan Belanda atau memperjuangkan kemerdekaan sering kali ditindas dengan keras. Pembatasan kebebasan berbicara, berkumpul, dan berorganisasi sering kali diterapkan.

Pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan pemisahan rasial yang ketat di Hindia Belanda. Orang pribumi dianggap rendah dan diperlakukan secara tidak adil oleh pemerintah kolonial, dengan kebijakan diskriminatif yang memperkuat dominasi Belanda. Kontrol Budaya pun dilakukan Belanda bagi pribumi di Hindia Belanda sering kali ditekan atau diabaikan demi memperkuat pengaruh Belanda. Bahasa, agama, dan tradisi lokal sering kali dianggap rendah atau dilarang. Maka segala aktivitas dan kehidupan mayoritas menggunakan budaya bahasa Belanda, kecuali untuk pribumi kelas bawah yang tidak diberikan akses menerapkannya.

Pemerintah kolonial Belanda menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan kekuasaannya di Hindia Belanda dan menindas perlawanan lokal. Secara fisik dan psikis menyerang penduduk sipil Hindia Belanda, menculik dan mengasingkan pahlawan-pahlawan revolusi bangsa, melegalkan militerisme digunakan dalam kejahatan politik terhadap bangsa pribumi yang tidak kuat dan militan. Hal ini kemudian membuat Panglima Sudirman yang sakit paru-paru mau berjuang di belantara sepanjang memimpin bala tentara Hindia Belanda untuk memerangi penjajah yang semena-mena.

Pemerintah Belanda menggunakan propaganda untuk memperkuat dominasinya di Hindia Belanda dan membangun narasi nasionalis Belanda yang menggambarkan kolonisasi sebagai misi yang beradab dan positif. Praktik-praktik ini mencerminkan beberapa prinsip ideologi fasisme yang umum ditemukan dalam sistem kolonial Belanda di Hindia Belanda.

Lalu, pada Agustus tahun 45, stoikisme telah terbukti mampu bertahan diantara gencarnya fasisme oleh bangsa Belanda. Walaupun penjajah sempat melakukan agresi militer dua kali, namun dengan kerendahan hati dan penentuan langkah yang bijak yang diambil oleh tokoh nasionalis Indonesia untuk memilih alternatif diplomasi melalui konferensi demi konferensi, menjadikan Indonesia negara yang mampu berdikari. Menjalankan amanat dan cita-cita bangsa dalam perundang-undangan dan kepemimpinan anak negeri sendiri, untuk menjadi bangsa yang merdeka. Bangsa yang mampu menghapuskan penjajahan, yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya