Standar Ganda dalam Slogan My Body, My Choice

Anak Rumahan
Standar Ganda dalam Slogan My Body, My Choice 05/08/2021 106 view Agama moslemcouncil.org.hk

Slogan "My Body, My Choice" merupakan bentuk aspirasi yang dilakukan para wanita di berbagai belahan dunia terkait dengan pilihan hidup mereka akan tubuh mereka sendiri. Beberapa mengartikan ini sebagai sarana untuk melegalkan tindakan aborsi, pilihan dalam berhubungan seksual, pencegahan kekerasan, dan hal-hal lain yang terkait dengan tubuh perempuan. Termasuk pilihan untuk divaksin atau tidak.

Slogan ini tidak sepenuhnya salah, namun akan menjadi bermasalah jika dibiarkan liar tanpa ada batasan yang jelas. Akan menjadi bermasalah jika setiap orang punya definisinya masing-masing tentang slogan ini. Slogan ini seperti mata uang yang memiliki dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.

Bila “My Body, My Choice”, atau dalam bahasa Indonesia adalah “Tubuhku, Pilihanku” adalah sebuah slogan untuk mendukung agar perempuan tidak dieksploitasi, dikapitalisasi, ditindas, didiskriminasi ataupun dimanfaatkan secara fisik, saya rasa saya setuju dengan hal itu. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki hak terhadap tubuh mereka sendiri, baik laki-laki maupun perempuan.

Namun akan berbeda jika slogan ini menjadi justifikasi atas segala hal yang dilakukan perempuan terhadap tubuh mereka. Sebagai contoh untuk membenarkan tindakan aborsi.

Di dalam Islam, Rosulullah SAW menyampaikan sebuah hadis yang sarat makna. Beliau bersabda “Tidak rugi dan tidak merugikan” (Hadis Arbain ke-32).

Hadis ini adalah sebuah hadis yang melarang kita untuk berbuat kemudaratan atau keburukan. Kita punya hak terhadap diri kita sendiri selama kita tidak menyebabkan keburukan bagi diri sendiri ataupun orang lain. Merugikan diri sendiri saja dilarang, apalagi merugikan orang lain. Ada hak orang lain yang juga harus kita jaga. 

Bila kita tarik garis pada persoalan aborsi, proses kehamilan tentu saja tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Setidaknya ada dua orang yang terlibat dalam proses ini. Tentu saja tidak boleh ada paksaan di dalamnya. Perempuan atau laki-laki punya hak yang sama dalam memutuskan aktivitas seksual. Jika terjadi proses pembuahan dan terjadi kehamilan, maka ini adalah bentuk tanggung jawab kedua belah pihak. Bukan hanya ibu atau ayahnya saja. Walaupun secara fisik, anak tersebut ada di tubuh ibu.

Lalu apakah boleh melakukan aborsi jika ayah dan ibu sepakat? Tunggu dulu. Ketika proses kehamilan terjadi, maka ada orang ketiga yang juga terlibat di sini. Ada calon bayi yang juga punya hak untuk hidup dan dilahirkan ke muka bumi. Hanya karena belum dilahirkan, bukan berarti dia tidak punya hak. Hanya karena lemah, bukan berarti dia boleh dilenyapkan begitu saja. Melakukan aborsi sama saja dengan membunuh. Ingat, membunuh itu bukan hal sepele dalam Islam.

Berbeda dengan aborsi karena alasan medis. Dalam Islam sendiri bila aborsi dilakukan karena alasan medis, dalam hal ini dapat membahayakan ibu dan bayinya, maka ini diperbolehkan. Dengan dasar memilih keburukan yang lebih kecil daripada keburukan yang lebih besar. Daripada kehilangan ibu dan bayinya sekaligus, maka kehilangan bayinya saja tentu menjadi pilihan yang lebih baik.

Slogan ini juga kerap digunakan oleh seorang wanita yang memutuskan untuk tidak menikah, Saya rasa ini sah-sah saja. Terlepas dari segala kontrovesinya, pilihan menikah atau tidak adalah keputusan orang yang akan menikah. Mereka punya hak untuk memutuskan tanpa adanya paksaan atau intevensi dari pihak manapun. Termasuk juga dengan keputusan untuk memiliki anak atau tidak.

Jika keputusan menikah adalah keputusan personal, sedikit berbeda dengan keputusan untuk memiliki anak. Karena anak merupakan anak bersama ibu dan bapaknya, maka hal ini harus diputuskan dan didiskusikan bersama. Tidak bisa hanya salah satu saja. Karena kelak anak akan memiliki dua orang tua, tidak hanya satu.

Sayangnya penggunaan slogan ini tidak sepenuhnya adil. Slogan ini seolah-olah hanya berlaku untuk ide-ide yang mendukung satu sisi mata uang saja. Sedangkan untuk urusan sebaliknya tidak berlaku.

Bila seorang wanita tidak ingin memiliki anak, maka harus didukung dengan dalih jika tubuhnya adalah pilihannya. Dia punya hak penuh untuk punya anak atau tidak. Sedangkan bagi perempuan yang punya pendapat berbeda, justru tidak mendapatkan dukungan yang sama.

Misal sepasang suami-istri yang baru menikah mengumumkan jika mereka ingin memiliki 15 anak, lantas ramai-ramai dikritik. Apa ada yang salah dengan rencana itu? Mengapa orang yang berencana tidak punya anak mendapat dukungan sedangkan yang ingin punya anak banyak malah dapat kritikan?

Menurut saya, keduanya punya hak sama. Untuk urusan kemampuan dan kesehatan, itu bukan urusan kita. Bila mereka mampu secara finansial, fisik dan sosial, punya hak apa kita untuk protes? Toh mereka tidak minta bantuan kita untuk membesarkan anak-anaknya. Jika untuk urusan kesehatan, bila si ibu cukup sehat dan mampu untuk memiliki 15 anak tanpa ada masalah kesehatan, siapa kita untuk protes?

Biarlah ini menjadi urusan mereka dan dokter kandungan mereka. Kan itu juga baru rencana. Permasalah punya anak atau tidak bergantung kepada Allah. Manusia hanya bisa berencana.

Jika Allah mengizinkan mereka punya anak 15, siapa kita mau protes? Yang jelas, itu adalah pilihan hidup mereka yang harus kita hormati. Tidak boleh direndahkan atau diintervensi, sama juga dengan pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. 

Standar ganda lainnya juga terjadi pada muslimah di Eropa. Sebagai contoh, wacana larangan hijab bagi karyawan di wilayah eropa atau diskriminasi yang dilakukan oleh senat Perancis terhadap seorang wanita berhijab.

Jika perempuan Amerika memiliki kebebasan untuk merayakah Go Topless Day sebagai bentuk kesetaraan gender dan menandai hak perempuan terhadap pilihannya, mengapa hal yang sama tidak berlaku bagi perempuan yang memilih untuk berhijab? Jika perempuan bisa berjalan-jalan topless di Amerika, mengapa muslimah Eropa tidak boleh memakai hijab saat bekerja? Bukankah mereka punya hak terhadap tubuh mereka sendiri?

Di sisi lain, ada juga perlakuan seksis pada atlet-atlet yang terjadi di ajang olimpiade yang sedang berlangsung saat ini. Tim bola tangan pantai wanita Norwegia dijatuhi sanksi denda sebesar 1.500 euro atau sekitar 25 juta rupiah karena menolak untuk menggunakan bikini dalam pertandingan mereka (Republika.co.id, 27/07/21).

Mengapa atlet perempuan bola tangan pantai harus memakai bikini? Bukankah ini juga bentuk eksploitasi tubuh perempuan? Bukankah atlet perempuan seharusnya punya hak untuk memakai pakaian yang nyaman bagi mereka sehingga bisa maksimal dalam bertanding? 

Seorang perempuan seharusnya memiliki hak untuk mengenakan pakaian yang menurut mereka pantas dikenakan di muka umum. Ada norma agama dan sosial yang berlaku di sini. Karena ketika keluar rumah, akan ada orang lain yang melihat. Maka akan berlaku hukum-hukum dalam interaksi sosial.

Seorang wanita juga seharusnya tidak dilihat hanya berdasarkan pakaian yang mereka kenakan. Jika berpakaian terbuka disebut maju, jika berpakaian tertutup disebut tertindas. Mereka semua punya hak yang sama dalam menentukan pilihan.

Seharusnya slogan “My Body, My Choice” punya standar yang jelas. Dengan begitu akan sangat membantu dalam melindungi wanita dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi dan perlakuan tidak adil. Namun, jika “My Body, My Choice” hanyalah slogan untuk menjustifikasi semua tindakan yang dilakukan perempuan tanpa ada batasan, maka ini bukanlah hal yang benar untuk dilakukan.

Karena pada dasarnya, tubuh kita, baik laki-laki atau perempuan, adalah titipan. Titipan dari Allah yang harus kita jaga. Karena tubuh ini hanyalah titipan, maka harus digunakan sesuai dengan keinginan Sang Pemilik. Tidak boleh sembarangan apalagi melanggar batas-batas yang sudah ditentukan. Karena kelak, tubuh ini akan diambil oleh pemiliknya dan kita akan dimintai pertanggungjawaban atas tubuh tersebut.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya