Sosial Media, Kedaulatan atas Diri, dan Kesadaran

Sosial Media, Kedaulatan atas Diri, dan Kesadaran 05/03/2024 139 view Lainnya rehartanto.art

Sisi positif yang timbul tentunya berbarengan dengan sisi negatif, tulisan ini hendak menyoroti tentang hubungan manusia dengan sosial media, serta pengaruhnya terhadap kedaualatan atas diri.

Dalam tradisi keagamaan, Tuhan merupakan Pencipta Alam Semesta—yang dalam bahasa para filosof dan sufi disebut sebagai ‘Sebab Awal’. konsekuensi logis dari meyakini Tuhan ialah harus patuh dan taat kepada seluruh perintah dan larangan yang telah disampaikan melalui Kitab Suci.

Agama menurut KBBI ialah ”Sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya”. Penjelasan KBBI, kika dibaca secara saksama maka sejatinya titik tekannya terdapat di “sistem yang mengatur” artinya Agama terdiri dari aturan-aturan yang menjadi pedoman untuk manusia berhubungan dengan Tuhan, serta hubungan dengan manusia lain. Setiap perintah dan larangan tentunya diikuti dengan sanksi bagi yang melanggarnya.

Penulis melihat sosial media layaknya sebuah agama, beragamnya sosial media serupa dengan beragamnya agama yang ada, jika agama memiliki Nabi dan Rasul yang dapat menjadi teladan maka sosial media juga demikian, memiliki panutan yang dapat dijadikan sebagai teladan dalam melakukan aktivitas berselancar di sosial media, sebutan untuk mereka ini biasanya ialah “Influencer”, “Selebgram”, “Artis”, atau siapa saja yang memiliki jumlah pengikut yang banyak. Jadi untuk menjadi manusia seperti apa di sosial media, misalnya; apa yang harus diunggah, unggahan seperti apa yang dapat mendatangkan banyak pengikut, itu semua berpedoman pada mereka. Semua aturan yang terbentuk ini pada akhirnya hanya untuk mendatangkan likes dan followers.

Di dunia sosial media likes dan followers menjadi Tuhan bagi mereka, semua perintah yang dilakukan oleh idola mereka, akan dilakukan, tak perduli baik atau buruk, benar atau salah, selama segala tindakan itu bisa mendapatkan ridho dari pengikut yang berupa ; “likes dan followers

Hilangnya Kedaulatan Atas diri

Jika zaman Dahulu eksistensi manusia dapat dibuktikan bukan hanya melalui proses berpikir seperti yang dilakukan oleh Rene Descrates yang menelusuri eksistensi dirinya yang kemudian sampai pada satu kesimpulan yakni “Cogito Ego Sum” yang jika diartikan ialah Aku berpikir Maka “Aku” ada, kesadaran akan aktifitas berpikir yang dilakukan secara terus-menerus olehnya mulai dari berpikir setiap hal di luar dirinya hingga meragukan eksistensi dirinya sendiri—keraguan atas eksistensi dirinya sendiri yang kemudian meyakinkan dirinya bahwa dirinya memang ‘ada’.

Berbeda dengan zaman dahulu, manusia kini akan semakin susah untuk menempuh jalan kontemplasi untuk bertemu ‘dirinya’. Banyak hal yang mempengaruhi fenomena tersebut, salah satu di antaranya berkaitan dengan eksistensi manusia pada era ini semakin ditentukan dari seberapa banyak “klik” di media sosial—yang dalam istilah Budi Hardiman “aku klik maka aku ada”. penulis memahaminya ialah bahwa eksistensi manusia ditentukan seberap banyak “klik” (baca: aktif) di sosial media. Itu sebabnya semua orang berlomba-lomba untuk menjadi penganut agama yang bernama sosial media, dan bertuhan pada likes dan followers.

Atas nama likes dan followers, semua manusia berlomba-lomba untuk meng-ada-kan diri mereka dengan cara melakukan setiap hal. Buruknya fenomena ini adalah hilangnya kedaulatan atas diri, artinya hal ini merupakan implikasi dari konsep kebertuhanan dan keber-agama-an seperti di atas. Individu menjadi boneka, kenapa? Karena manusia digerakan oleh faktor di luar. Dampak lebih besar lagi ialah manusia menjadi kesulitan untuk memilah mana yang ‘aku’ sebenarnya dan bukan ‘aku’ sebenarnya. Hilangnya kesadaran bahwa diri tiap manusia itu bukanlah yang ditampilkan di sosial media, jika menggunakan konsep sufisme maka diri yang sejati ialah yang memainkan sosial media; melihat, mendengar dan merasakan segala yang terjadi di sosial media.

Dampak dari hilangnya kedaulatan atas diri adalah penderitaan—galau, sedih, mudah marah, serta emosi yang tidak terkendali. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengindentifikasi mereka sebagai pikiran mereka, sehingga jika terlintas di dalam pikiran mereka tentang kesedihan atau marah maka mereka seketika berubah mengikuti arus pikiran mereka. Pandangan orang tentang mereka, dianggap sebagai sebenar-benarnnya diri mereka.

Dapat dikatakan bahwa kehilangan terbesar yang dialami oleh setiap manusia bukanlah kehilangan barang mewah atau orang terkasih, melainkan kehilangan ‘dirinya sendiri’.

Subjek Kesadaran

Mengembalikan kesadaran atas diri yang sejati merupakan salah satu cara untuk mengembalikan kedaulatan atas diri yang telah hilang. Konsep stoikisme berupaya untuk memberi solusi atas masalah yang dihadapi oleh manusia-manusia seperti yang dimaksud di atas, salah satunya ialah dengan menyadarkan manusia bahwa adanya keterpisahan antar realitas eksternal, pikiran dan kesadaran.

Henry Manampiring menjelaskan sebuah konsep yang dinamakan ‘Dikotomi Kendali’, jadi ada hal-hal yang dapat dikendalikan dan ada juga yang tidak dapat dikendalikan, satu-satunya yang dapat dikendalikan adalah pikiran, realitas eksternal—segala hal yang terjadi di luar diri merupakan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Mengendalikan pikiran merupakan bentuk adanya kedaulatan diri, sebab kesadaran menjadi pengendali penuh atas pikiran bukan faktor eksternal dari luar diri. Lebih jauh, kesadaran dapat menjadi subjek yang mengamati setiap hal yang menjadi objek seperti pikiran, kondisi tubuh, juga hal-hal di luar diri kita.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya