Solusi Mengatasi Korupsi

Mahasiswa.
Solusi Mengatasi Korupsi 11/11/2021 800 view Lainnya nasional.kompas.com

Korupsi merupakan momok yang menjadi keresahan warga sejak dahulu kala, sebelum Indonesia merdeka hingga Indonesia berdiri sebagai sebuah negara yang sah di mata dunia. Kemudian korupsi berlanjut pada era Orde Lama, Orde Baru hingga era Reformasi.

Kasus-kasus seputar korupsi kerap dibicarakan dan hadir sebagai topik hangat dari tahun ke tahun lantaran cukup banyak elit politik yang terjebak dalam kasus korupsi. Korupsi telah menjadi kebiasaan elite politik di Indonesia. Pelaku yang telah tertangkap basah sebagai tersangka tidak dijadikan sebagai pembelajaran bagi politisi lain agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama.

Pelaku tindak pidana korupsi yang telah dijatuhi hukuman seakan tidak menimbulkan efek jera bagi yang lain. Boleh jadi, hukuman yang dikenakan kepada para pelaku korupsi terlalu ringan sehingga mereka menganggap konstitusi negara Indonesia memanjakan mereka, dengan kata lain, selalu memberi peluang untuk melakukan kejahatan dengan ganjaran yang ringan.

Solusi yang tepat harus segera diambil sebagai tanggapan atas maraknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Pendidikan anti korupsi harus diajarkan di sekolah-sekolah sejak dini dengan penjelasan dan gambaran-gambaran sederhana yang mampu membentuk karakter dan moral anak bangsa.

Sejalan dengan hal tersebut, Rousseau memiliki gagasan menarik yang bisa kita jadikan referensi mengatasi korupsi. Dalam bukunya The Social Contact, Rousseau mengedepankan dua keadaan yang melingkungi manusia, yakni keadaan alamiah dan keadaan sosial.

Keadaan alamiah adalah keadaan asali di mana manusia hidup dan mewujudkan diri sebagai manusia yang bebas dan otonom. Tidak ada struktur aturan yang mengikat otonomi dan kebebasannya. Sedangkan, keadaan sosial adalah keadaan artifisial yang lahir oleh karena tuntutan kompleksitas kebutuhan manusia yang tidak dapat dicapai individu dalam keadaan alamiah.

Rousseau melihat bahwa di balik kemajuan dan hubungan sosial tersimpan momok yang besar. Kemajuan sama sekali tidak memurnikan moralitas manusia, sebaliknya mengkorupsikannya. Pandangan demikian adalah tanggapan Rousseau untuk membalikan anggapan masyarakat Prancis yang telah dibanjiri ideologi pencerahan.

Ia ingin menunjukkan bahwa kemajuan seni dan ilmu pengetahuan bukanlah puncak dari peradaban Prancis. Oleh karena itu, Rousseau menyerukan untuk “back to nature”, kembali ke alam! Rousseau melihat bahwa moralitas yang genuine, yang asali, yang sungguh-sungguh manusiawi justru ditemukan dalam manusia yang masih alamiah.

Manusia yang alamiah adalah manusia yang lugu, jujur, lurus hatinya, dan identik dengan dirinya sendiri. Rousseau mengangap perkembangan ilmu pengetahuan dan seni menjadikan manusia hidup dalam kebohongan dan kemunafikan.

Pengetahuan yang dimiliki digunakan untuk membangun argumen pembenaran diri, meskipun telah bertindak keliru pada dasarnya. Individu kerap bersembunyi di balik topeng agar dinilai baik di kalangan sosial masyarakat.

Korupsi dapat digolongkan sebagai tindakan yang lahir dari keadaan sosial. Kebiasaan bersikap korup –mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya– adalah hal buruk yang timbul akibat ketidakjujuran. Para wakil rakyat terpilih karena kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. Rakyat memercayainya sebagai sosok yang akan hadir dengan tanggung jawab penuh atas segala masalah yang ada dalam masyarakat. Kemudian kepercayaan itu luntur seiring berjalannya waktu, lantaran ada wakil rakyat yang terjebak kasus korupsi.

Realitas demikian ingin mengatakan bahwa individu kerap bersikap bijak, sanggup, baik, dan tanggung jawab di depan publik demi memperoleh sesuatu yang diinginkannya, kekuasaan. Apa yang terjadi setelah tampuk kekuasaan diperoleh? Melepas topeng kebaikan yang selama ini dikenakan dan segala bentuk kepalsuan demi kedudukan sosial perlahan ditanggalkan, lalu menunjukkan wajah asli yang salah menggunakan kekuasaan dan korup.

Keadaan alamiah atau keadaan asali yang digambarkan Rousseau dapat dijadikan landasan dasar untuk mengatasi korupsi. Manusia yang jujur dan lurus hati adalah manusia yang tidak berlaku korup.

Mereka melakukan segala sesuatu secara bebas, kejujurannya lahir dari hati, dan “tidak dibuat-buat”. Lalu pertanyaan yang seharusnya muncul adalah bagaimana cara manusia kembali ke keadaan alamiah?

Kembali pada keadaan alamiah bukan berarti bahwa individu meninggalkan kemajuan pengetahuan dan seni, lalu mulai hidup seperti manusia zaman dahulu yang lugu dan jujur tanpa pengetahuan yang mumpuni. Kembali pada keadaan alamiah yang dimaksudkan adalah individu sanggup memanfaatkan pengetahuan dan seni sebaik mungkin demi kemajuan dan kebaikan bersama –tentu tidak untuk memanipulasi publik.

Pendidikan karakter sejak dini juga sangat penting untuk membentuk karakter-karakter anak bangsa yang anti korupsi karena hal-hal seperti ini sesungguhnya hanya membutuhkan pembiasaan diri sejak dini –mengontrol keinginan-keinginan tidak teratur yang muncul. Akhirnya individu akan menuai apa yang ia tabur.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya