Solusi dari Meningkatnya Kekerasan pada Anak di Masa Pandemi

Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Kelas I Manokwari
Solusi dari Meningkatnya Kekerasan pada Anak di Masa Pandemi 10/08/2021 967 view Lainnya yogya.ayoindonesia.com

Masa pandemi Covid-19 tentu menjadi tantangan yang menyulitkan bagi semua kalangan. Dengan tantangan tersebut menjadikan semua kelompok umur rentan terkena dampaknya, salah satunya adalah kelompok usia anak-anak. Di mana mereka rentan mengalami tindak kekerasan oleh orang dewasa sebagai ekses dari kurang bisanya para orang dewasa mengelola beban psikologis selama pandemi ini.

Secara umum kasus kekerasan terhadap anak-anak setiap tahun cenderung terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan pada 2015 tercatat 1.975 dan meningkat menjadi 6.820 di 2016,” ujar Jokowi dalam rapat terbatas ‘Penanganan Kasus Kekerasan Terhadap Anak’ di Istana Merdeka, seperti tertulis pada setneg.go.id

Bahkan sejak pandemi Covid-19 ini, kekerasan terhadap anak cenderung semakin mengalami peningkatan. Seperti diungkapkan oleh Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Valentina Gintings. “Berdasarkan data SIMFONI PPA, pada 1 Januari – 19 Juni 2020 telah terjadi 3.087 kasus kekerasan terhadap anak, diantaranya 852 kekerasan fisik, 768 psikis, dan 1.848 kasus kekerasan seksual, angka ini tergolong tinggi. Oleh karena itu dalam menghadapi new normal ini, kita harus pastikan angka ini tidak bertambah lagi dengan melakukan upaya pencegahan yang mengacu pada protokol penanganan anak korban kekerasan dalam situasi pandemi Covid-19.”

Sebenarnya negara sudah berupaya memberikan perlindungan khusus bagi anak yang dalam situasi darurat sebagaimana yang diatur dalam Pasal 59 Undang-Undang Perlindungan Anak yang berbunyi: “Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/ atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza) anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/ atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.”

Faktor Penyebab Kekerasan

Salah satu yang menyebabkan meningkatnya kekerasn terhadap anak selama pandemi menurut Dr. Yulina Eva Rianydalah Dosen IPB dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) bahwa perubahan pada kondisi finansial keluarga akibat adanya Covid-19 (kesulitan mengakses kebutuhan pokok), diyakini akan semakin memperburuk tekanan psikologi pada keluarga yang dapat berdampak fatal bagi kondisi keluarga. Seperti kita tahu bersama selama pandemi Covid-19 ini banyak karyawan atau pekerja dirumahkan, kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan ataupun kesulitan didalam mencari pekerjaan yang baru.

Dengan tidak adanya pekerjaan, semakin sulit pula untuk mencukupi kebutuhan hidup. Hal ini akan menambah tekanan psikologis dalam hidupnya selain bentuk tekanan lainnya yang mungkin sudah dirasakan sebelumnya. Sebagai bentuk pelampiasan beban psikologis tersebut, orangtua atau orang dewasa cenderung menjadikan anak sebagai salah satu sasaran luapan emosi dari beban psikologis yang dirasakan. Dimana anak dianggap tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan perlawanan, sehingga menjadi sasaran yang empuk untuk menjadi pelampiasan emosi.

Sementara itu, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi menambahkan “Jika melihat data SIMFONI PPA, kasus kekerasan anak semakin meningkat. Ini berarti masih banyak pihak yang belum paham akan pentingnya pengasuhan. Melalui acara ini kita bisa memahami tugas untuk memberikan pengasuhan dalam keluarga sehingga hak anak dapat terpenuhi, terwujudnya kesejahteraan berkelanjutan, ada status hukum yang jelas dan tidak hanya memenuhi materi tapi juga kasih sayang bagi anak. Ini semua dilakukan demi kepentingan terbaik bagi anak terutama pada masa pandemi ini.”

Mengoptimalkan Pengasuhan

Berdasarkan fakta-fakta yang dihadirkan diatas, menurut saya kata kunci untuk mengurangi kekerasan terhadap anak dan memberikan perlindungan yang optimal bagi anak adalah pola pengasuhan/parenting yang tepat. Menurut Masud Hoghughi, professor fakultas psikologi, University of Hull Amerika, megatakan bahwa pengasuhan merupakan hubungan antara orang tua dengan anak yang multidimensi dan dapat terus berkembang. Mencakup beragam aktifitas dengan tujuan anak mampu berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi, dan pengasuhan sosial.

Dimana komponen dari kunci pengasuhan adalah upaya memenuhi kebutuhan anak untuk kesejahteraan fisik, sosial, dan emosionalnya. Dan melindungi anak, melalui menghindarkan dari potensi kecelakaan atau kondisi bahaya atau pelecehan. Memberikan aturan dan memastikan bahwa aturan terkontrol serta mampu ditegakkan, mendukung anak agar mampu mengembangkan potensi dalam dirinya. Prinsip pengasuhan menurut Hoghughi tidak menekankan pada siapa (pelaku) namun lebih menekankan pada aktifitas dari perkembangan dan pendidikan anak.

Sedangkan Lestari (2012) berpendapat bahwa pengasuhan adalah tugas orangtua dalam mencukupi kebutuhan dasar anak dan melatihnya keterampilan hidup yang mendasar, memberikan yang terbaik bagi kebutuhan materil anak, memenuhi kebutuhan psikologis dan emosi anak,serta menyediakan kesempatan untuk menempuh pendidikan yang terbaik serta mengembangkan bakat atau potensi anak. Dengan segala aspek dalam tumbuh kembang anak yang sangat beragam, pengasuhan merupakan kerjasama kedua orangtua baik ayah dan ibu, bukan salah satu figur saja. Keterlibatan ayah dan ibu dalam pengasuhan sangat diperlukan karena keterlibatan mereka untuk saling melengkapi dan memberikan nilainya masing-masing. Sehingga diharapkan nilai pengasuhan seorang anak akan menjadi semakin utuh.

Menurut Koentjoro (2004) figur ibu dalam perkembangan psikologis anak akan memenuhi kebutuhan kasih sayang, berbanding terbalik dengan figur ayah yang cenderung lebih tegas dan disiplin. Di masa pandemi ini, di mana keadaan memaksa sebuah keluarga untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama-sama di rumah. Sebenarnya memberikan peluang kepada orang tua untuk bersama-sama terlibat lebih aktif untuk evaluasi atau instropeksi tentang apakah pola pengasuhan selama ini kepada anak sudah mencukupi segala aspek yang diperlukan oleh seorang anak.

Salah satunya ketika anak usia Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, di dalam keadaan normal mereka bersekolah dengan tatap muka. Di situ orangtua cenderung menyerahkan tugas sebagai orangtua kepada pihak sekolah untuk mendidik seluruh aspek si anak. Ketika pandemi pembelajaran dilakukan secara daring dan orangtua dipaksa harus turut mendampingi belajar anak-anaknya.

Sebagian orangtua akan mengeluh karena merasa anak sulit untuk cepat mengerti pelajarannya. Sehingga dalam proses pendampingan belajar tersebut orangtua malah cenderung emosi terhadap anaknya. Hal ini menandakan bahwa orangtua kurang begitu mengenal karakter anaknya. Padahal keluarga harus menjadi lingkup sekolah pertama bagi anak, tentu ayah dan ibu berperan selaku guru.

Adanya pandemi yang membuat orangtua dan anak menghabiskan lebih banyak waktu dirumah. Kesempatan ini harus dapat dimanfaat oleh para orangtua untuk kembali menyatukan visi dan misi bagaimana harus mendidik anaknya dan juga dapat memanfaatkan waktu ini untuk kembali mengenal karakter anaknya lebih dalam.

Dengan megetahui karakter dan aspek kebutuhan anak, maka orangtua dapat memilih pola pengasuhan (parenting) yang tepat. Sehingga kita selaku orangtua dapat memastikan keterpenuhan aspek untuk bertumbuh dan berkembang anak secara optimal. Dengan begitu anak-anak pun mampu mengeluarkan setiap potensi yang ada di dalam dirinya.

Anak-anak diibaratkan seperti kanvas putih, kita sebagai orangtua adalah seorang pelukis yang memberikan warna terhadap kanvas itu. Hasil lukisan baik atau buruk semuanya tergantung kembali kepada warna apa yang kita berikan ke dalam kehidupan anak. Setiap anak tidak berharap untuk dapat dilahirkan, tetapi kitalah sebagai orangtua yang selalu mengharapkan dan berdoa kehadiran anak di dalam setiap keluarga. Jadi mengasuh anak dengan maksimal dan dengan ikhlas merupakan wujud syukur atas jawaban doa kita akan kehadiran anak di dalam keluarga.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya