Sisi Lain Keberhasilan Warga Indonesia Menggapai Negeri Impian

Mahasiswa
Sisi Lain Keberhasilan Warga Indonesia Menggapai Negeri Impian 02/08/2020 1602 view Budaya flickr.com

Belakangan, banyak warga Indonesia bisa mencicipi berlibur, sekolah, bahkan kerja di manca negara, khususnya negara-negara maju, seperti Australia, Amerika Serikat, dan beberapa Negara Eropa. Masyarakat awam memandang, pergi ke manca negara untuk keperluan apapun merupakan pencapaian yang luar biasa. Terlebih lagi dengan adanya medsos; Facebook dan Instagram, pengabadian pengalaman para pelancong, ekspatriat, dan mahasiswa Indonesia ketika berada negara impian mudah termediasi.

Contoh paling kecil, berfoto atau berswafoto - ada yang lebay narsis dan ada yang wajar- seperti di menara Eiffel Paris, Sydney Opera House, atau apapun itu. Tidak sedikit pula yang terlampau semangat menulis pengalamannya di status Facebook, hampir menyaingi jumlah kata rubik opini di kolom Kompas, ditambah dengan gaya bahasa Indonesia campur-aduk keminggris.

Anda pernah iri atau kagum? Jujur saya pernah merasakan keduanya sekaligus. Apa yang mungkin hadir di benak kita? Jika dia pelancong, bayang-bayang status kaya melekat kepadannya, jika berkerja dan bersekolah S2/S3 betapa pintarnya mereka, juga pasti mahir berbahasa asing. IELTS, TOEFL, atau nilai kompetensi bahasa asing lainnya pasti selangit. Bagaimanapun, punya pengalaman hidup dan berlibur ke luar negeri sangat membanggakan!

Lantas, tidak sedikit dari pelancong, ekspatriat, dan mahasiswa Indonesia menuliskan kiat-kiat dan berbagi pengalaman bagaimana menggapai impian, menyambangi negeri nan jauh. Silahkan anda periksa situs, https://www.travelingajadulu.com/, dikelola oleh seorang travel blogger kelas menengah yang pernah melancong ke lebih dari 50 negara.

Dia juga merangkum tujuh travel blogger terbaik Indonesia. Mungkin di antaranya tidak asing di telinga warganet; www. naked-traveler.com dan www. backpackstory.me. Boleh juga anda periksa. Jika ada kiat tentang seirit-iritnya atau bahasa kerennya se-backpacker nya mengatur ongkos perjalanan dan akomodasi, tapi bisa dipastikan melancong ke luar negeri tidak murah.

Tidak ada gunanya berdebat tentang nilai tukar uang Rupiah terhadap Dollar Australia atau Amerika, terlebih lagi Euro. Sebelum menginjakkan kaki di negeri tujuan ada setumpuk uang yang harus dipersiapkan demi mendapatkan VISA, terutama ke negara-negara di benua Eropa, Amerika Utara, dan Australia.

Sebagai contoh, untuk mendapatkan VISA turis ke Australia dengan perkiraan masa kunjungan 3-7 hari, pelamar harus membuktikan jumlah tabungan di rekening bank paling tidak Rp 20.000.000-30.000.000, jika lebih justru makin baik. Pihak kedutaan semakin yakin jika pelamar tidak bakal menggembel dan tidak merampok setibanya di Australia karena uangnya pas-pasan, atau pelamar dinilai cukup kaya untuk melancong ke Australia. Jangan harap mendapatkan VISA turis jika tabungan anda receh-receh.

Untuk urusan sekolah ke luar negeri, pernah membaca buku Beasiswa Lima Benua karya Ahmad Fuadi? Plesetan dari buku novelnya Negeri Lima Menara. Buku yang katanya berisi tentang 100 kiat memburu beasiswa. Tidak tanggung-tanggung di bagian bawah sampul buku ini tertulis: Penerima 10 Scholarship, Fellowship, Exchange & Residency Program dari Mancanegara. Judul buku lain tentang kiat-kiat memburu beasiswa semakin semarak terbit dan tersedia di toko buku seiring dengan tersedianya program beasiswa ke luar negeri.

Sebelum anda mengoyak segel plastik dan melirik daftar isinnya, kandungan buku ini gampang ditebak, pada bagian awal, pasti berisi dongeng perjuangan berdarah-darah mendapatkan nilai TOEFL atau IELTS tinggi sebagai syarat mutlak mendapatkan surat penerimaan sekolah di manca negara. Selanjutnya, buku-buku ini berplot seperti film India, cerita bahagia dan betapa indahnya mencapai impian.

Mengenai cerita tentang pengalaman ekspatriat di manca negara, awalnya saya tidak begitu peduli sebelum status teman di Facebook, sebut saja namanya envious spy, yang berjudul Pindah ke Australia itu gak gampang (Part 1) muncul. Ia menceritakan betapa susahnya mendapatkan pekerjaan di Melbourne, Australia, perlu usaha berlipat ganda. Untuk mendapatkan VISA kerja ia harus merogoh kocek Rp. 50.000.000.

Belum lagi, ujian kompetensi IELTS Rp.3.000.000 sekali test, ditambah lagi dengan usahanya mendengarkan siniar BBC, demi mengasah sensitifitas logat british-nya. Juga, usaha pengayaan perbendaharaan kata prokem Inggris-Australia. Dia menuliskan, IELTS sendiri Ltotally different compared to TOEF…kalaupun kamu bangga udah bisa nonton film Amerika tanpa subtitle, belum tentu kamu ngerti waktu orang Aussie ngomong sesuatu … belum termasuk bahasa slank yang biasa dipakai tapi bikin kita lost in translation kayak arvo mean afternoon, pedo mean pedestrian, barbie mean bbq, atau defo mean definitely but devo mean devastated.

Maaf..Bagi saya, ulasan para pelancong atau travel blogger, cerita kiat-kiat dan keberhasilan gemilang diterima studi di manca negara, dan cerita sukses ekspatriat di negeri rantau tidak lebih dari sekedar umbar privilege kelas menengah yang tidak konstruktif. Apakah mereka terlilit gejala psikologis kompleks inferioritas yang berkelindan dengan perasaan bangga berlebihan? Anda bisa menyimpulkan atau biarkan ahli psikologi dan antropologi yang membahasnya, tulisan ini sekedar uneg-uneg.

Sebenarnya, ada banyak hal yang dapat kita refleksikan tentang pengalaman hidup di negeri rantau. Bukan sekedar membandingkan betapa nyamannya negeri seberang dan betapa bobroknya negeri kita. Atau pernahkan kita berpikir kritis bahwa proses administratif yang berat sebagai syarat masuk negara maju, seperti cerita di atas, adalah bentuk diskriminatif sistemik, karena kita manusia kulit berwarna yang berasal dari negara Dunia Ketiga?

Berangkat keluar negeri bagi kita untuk keperluan apapun seperti ibarat menembus benteng Takesi, sementara orang asing begitu mudahnya menyambangi Indonesia; belajar, berlibur, bekerja. Lagi-lagi Australia sebagai contoh, pelancong Australia tidak memerlukan VISA masuk Indonesia di bawah kunjungan 30 hari.

Tidak ada jaminan bagi mereka harus membawa uang banyak. Menjadi fenomena terkini, banyak pelancong backpackers menjadi begpackers, kehabisan uang dan mengemis, terutama di Bali. Anehnya, masih ada warga lokal yang menyumbangkan uang kepada mereka, bahkan menyediakan tempat menginap secara cuma-cuma. Jika kita mengemis dan menggembel di Australia barang kali kita akan ditindak otoritas setempat, dipenjara atau dideportasi.

Sewaktu saya menempuh studi di Fakultas Ilmu Budaya di UGM (2004-2013), beberapa jurusan sering dikunjungi professor asing yang tidak mengusai bahasa Indonesia. Toh, mereka tetap mengajar menggunakan bahasa Inggris di tengah-tengah mahasiswa yang penguasaan bahasa Inggrisnya terbatas, di sini siapa yang repot?

Juga banyak mahasiswa asing yang meneliti kebudayaan dan masyarakat Indonesia tanpa penguasaan bahasa Indonesia yang baik, terlebih bahasa lokal. Toh, ketika penelitian lapangan mereka dibantu rekan mahasiswa Indonesia sebagai penerjemah. Juga banyak guru-guru penutur asli bahasa Inggris di sekolah dan tempat kursus sekedar mengucapkan “terima kasih” masih belepotan.

Alih-alih mengajar peserta didik tingkat dasar, mereka ditempatkan dengan nyaman di kelas lanjutan yang dipenuhi peserta kursus berbahasa Inggris fasih. Jangan harap itu terjadi kepada kita. Jika ingin sekolah, meneliti, menjadi guru bahasa Indonesia sekalipun di manca negara, anda harus mempunyai kompetensi bahasa mereka dan syarat-syarat lain yang memberatkan. Apakah ini bentuk superioritas barat terhadap negara Dunia Ketiga atau percikan hak istimewa si putih (white privilege)? Silahkan menyimpulkan, tulisan ini sekedar kicauan seorang rakyat biasa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya