Sinetron Azab; Hidayah atau Tata-cara Komedi Bekerja

Mahasiswa Terujung
Sinetron Azab; Hidayah atau Tata-cara Komedi Bekerja 17/07/2020 1324 view Lainnya Dafunda.com

Saya sebenarnya adalah tipikal pemuda yang jarang sekali berhubungan dengan televisi. Bukan karena persoalan kualitas. Tapi semenjak kuliah dan ngekos, saya memang lebih sering menghabiskan waktu dengan membaca manga dan novel klasik. Kebiasaan selama ngekos ini, terbawa-bawa sampai ke rumah.

Orang tua saya, sampai gaduh melihat kebiasaan saya yang lebih suka mengurung diri dalam kamar, dan menghabiskan waktu membaca novel dan manga.

Entah dedemit dari gunung mana yang merasuki saya, suatu kali, saya seperti diarahkan untuk duduk di depan televisi, dan menonton sinetron yang telah menjadi buah bibir seluruh masyarakat Indonesia: Adzab. Sebagaimana cerita banyak orang; dari lubuk hati yang terdalam, saya akui film ini lebih cenderung mendatangkan tawa, ketimbang hidayah untuk segera kembali ke jalan Allah.

Tapi sebagai, mahasiswa, saya terus berusaha untuk objektif. Saya urut dada, sambil berpikir positif; barangkali ini strategi epic dari mereka untuk menciptakan genre baru dalam komedi. Tujuan mulia ini bisa jadi dimaksudkan, agar orang awam bisa belajar agama, sekaligus melihat bagaimana komedi bekerja. Jadi mereka berusaha untuk memberikan dua pelajaran sekaligus pada masyarakat, tanpa harus membuat dua program yang berbeda.

Sehingga persoalan sinetron Adzab, yang tidak koheren dengan jalan filmnya, saya campakkan jauh-jauh dari dalam pikiran saya. Lain waktu, entah mambang dari hutan belantara mana pula yang datang dan menghasut saya, untuk berprasangka buruk pada sinetron Adzab. Sekali waktu, saya duduk di depan televisi, dan melihat di bagian pojok kiri; kini sinetron Adzab sudah berganti nama menjadi Dobel Adzab.

Berkat hasutan mambang tadi, saya sengaja menghabiskan waktu pentingnya saya membaca novel klasik George Orwell, Animal Farm, untuk menulis sesuatu yang sama sekali tidak penting ini. Tapi kekesalan saya, sudah mencapai ubun, tanggung basah saya lanjutkan saja.

Bukan hanya kata “Adzab” dari sinetronnya saja yang didobelkan; judulnya pun jadi dobel juga panjangnya; sepanjang tali beruk, kalau kata orang kampung saya. Karena judulnya, sudah hampir menyamai panjang paragraf makalah ilmiah mahasiswa Pertanian yang berusaha mengawinkan tanaman dengan zat-zat aneh, yang mahasiswa sosial seperti saya gak bakal paham.

Judul sepanjang tali beruk yang saya temui itu, diksinya kurang lebih begini; “Suami Tukang Maksiat yang telantarkan keluarga, kerandanya Terseret Angin Kencang dan Jatuh Ke Jurang, Lalu di Hantam Badai Gelombang, Terombang-ambing di Lautan, Sebelum Jenazahnya Ditemukan oleh Nelayan yang Sedang Melaut dari Pagi hingga Petang.”

Bagaimana? Satu paragraf panjang bukan? Tentu saya tambahkan beberapa kata supaya para pembaca, juga merasakan kekesalan yang sama, dengan yang saya rasakan.

Jika dikontemplasikan lebih dalam. Sebenarnya, tujuan sejati sinetron Dobel Adzab, judulnya yang sepanjang tali beruk, dan jalannya ceritanya yang jenaka, bukannya memberi pelajaran pada penonton dari nilai-nilai yang terkandung dalam ceritanya. Melainkan untuk memberi adzab dobel untuk kita semua, lewat sinetronnya.

Andaikata saya kenal dengan penulis naskah adzab, saya ingin sekali tahu latar belakang pendidikannya. Jangan-jangan dia merupakan tamatan dari Fakultas Ilmu Pertanian, sehingga judul dari sinetron yang dikelolanya, dibuat sepanjang tali beruk, sebagaimana judul makalah ilmiah yang biasa dibuat mahasiswa Fakultas Ilmu Pertanian.

Jika dia berasal dari latar belakang humaniora, entah itu seni, hukum, politik, ilmu budaya, dan sebangsanya, yang sama dengan saya. Minimal ia bakal sadar, bahwa judul sinetron yang dikelolanya, benar-benar menghina mata kuliah Menulis Kreatif.

Atau barangkali, ia perlu mengulang kembali mata kuliah Dasar-dasar Menulis, dan Menulis Kreatif beberapa SKS, supaya paham bagaimana membuat judul yang baik dan benar. Sebab, sangat memalukan sekali, jika dia berasal dari basic ilmu sosial, tetapi menulis judul sepanjang tali beruk.

Bisa jadi, penulis naskah Sinetron Adzab ini, agaknya sudah melewati segala tahapan dari mata kuliah Menulis Kreatif, sehingga judulnya sangat sulit untuk dipahami oleh masyarakat awam dan mahasiswa kupu-kupu seperti saya. Ibarat, filsafat, semakin tinggi kajiannya, semakin bingung orang awam memikirkannya.

Bukankah para filsuf Yunani kuno, dan para pembaharu dunia, dianggap gila ketika pembahasannya jauh melewati zaman. Barangkali, penulis naskah sinetron Dobel Adzab adalah filsuf dan pembaharu dunia, tapi karena judul dan alur ceritanya yang jauh melampaui zaman, ia dianggap gila oleh kebanyakan orang.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya