Sinergisitas Perbaikan Agama dan Akhlak

Mahasiswa
Sinergisitas Perbaikan Agama dan Akhlak 15/01/2021 130 view Agama muslim.or.id

Bicara tentang relasi agama dan akhlak tidak ada habisnya. Kita tidak bisa membicarakan akhlak tanpa mempelajari agama secara utuh. Kita juga tidak bisa membicarakan agama tanpa memahami akhlak seorang manusia. Jadi, hubungan antara agama dan akhlak tak bisa dipisahkan karena menyangkut kesalehan individu dan kesalehan sosial.

Agama merupakan seperangkat ajaran yang berisikan kepercayaan kepada Tuhan, ilmu, akhlak, dan amalan. Orang yang beragama belum tentu mengamalkan ilmunya dan berakhlak luhur secara proposional. Pasalnya, masyarakat cenderung menilai seseorang berdasarkan akhlaknya. Oleh karena itu, perbaikan akhlak menjadi suatu tanggung jawab moral yang harus dilakukan oleh setiap manusia.

Islam merupakan agama mulia yang mengajarkan pemeluknya cara berakhlak mulia. Al-Qur’an menerangkan bahwa manusia bisa saja lebih mulia di mata malaikat karena akhlak. Namun bila akhlak itu rusak, derajat manusia menjadi hina bahkan lebih hina dari binatang. Menariknya di dalam Al-Qur’an, setiap ada penjelasan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, seringkali dijumpai penggalan pertanyaan reflektif, yaitu apakah kamu tidak berpikir ? Apakah kamu tidak berakal ? Apakah kamu mereka tidak memiliki akal sehat ?

Pertanyaan ini menuntut kita selalu mawas diri. Sudahkan kita bisa menampilkan akhlak mulia setelah mengaji (menuntut ilmu agama). Boro-boro rajin mengaji, sebagian orang masih ada jarang yang mengaji karena hidup mereka tersita oleh kesibukan dunia. Kita tidak bisa menyalahkan mengapa mereka enggan mengaji. Yang terpenting ialah cukup menunjukkan akhlak terpuji kepada orang lain. Apalagi terhadap mereka yang berbeda akidah, pasti cenderung menilai kita – sebagai umat Islam - berdasarkan akhlak kita.

Upaya Memperbaiki Agama dan Akhlak

Selama hidup dikandung badan, maka misi memperbaiki agama dan akhlak atas diri sendiri dan orang lain menjadi kewajiban seumur hidup. Sebab manusia pasti memiliki kekurangan dalam segi agama dan akhlak. Salah satu cara efektif melakukannya ialah berdakwah.

Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam. Setiap orang bisa berdakwah tanpa harus menjadi seorang ustad atau ulama. Dakwah bisa dilakukan sesuai dengan keadaan dan peran yang kita emban. Kesuksesan dakwah bisa tercipta bila memakai pendekatan hikmah, edukasi yang positif, serta diskusi yang bermanfaat. Hal ini juga diperkuat adanya dukungan dan respon positif dari masyarakat. Sebagimana yang diterangkan dalam surat An-Nahl ayat 125 yang artinya: “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dilansir dari kompas.com (18/6/2020), Muhammad Natsir dalam Fiqih Dakwah menerangkan bahwa setiap pendakwah harus memiliki pemahaman ajaran agama dan keberagaman karakter manusia. Pemahaman ini merupakan syarat minimal untuk berdakwah.

Adapun Ali Abdul Halim dalam Dakwah Fardliyah : Membentuk Pribadi Muslim menyampaikan bahwa pendakwah harus memberikan rasa aman pada orang lain. Jangan sampai orang merasa tak aman karena metode dakwah kita, seperti mengungkit kesalahan mereka, memperlakukan mereka dengan tidak adil, dan hal lainnya yang membuat orang lain enggan memperbaiki diri.

Ada satu kasus ketika kita hendak berdakwah (melanjutkan studi atau berkerja) ke suatu negeri yang memiliki angka bunuh diri yang cukup tinggi. Negeri ini tergolong maju dan penduduknya sangat kompetitif dalam bekerja. Sayangnya, mereka jauh dari pegangan agama. Akibatnya hidup mereka merasa hampa, tertekan, dan tidak bahagia meskipun serba berkecukupan.

Kemudian, mereka melampiaskan emosi negatif dengan cara meminum alkohol, mengonsumsi narkoba, dan melakukan seks di luar nikah. Namun, tindakan ini justru semakin mengotori jiwa mereka. Sampai pada kondisi mereka sadar atas kesalahan namun ada bisikan setan yang menghalangi niat mereka untuk bertobat.

Salah satu cara kita menyelamatkan mereka dari kerusakan agama dan akhlak ialah berusaha menjadi teman pendengar yang baik untuk mereka. Jangan lekas menghakimi perbuatan mereka dengan pendekatan agama. Jangan lekas pula menyampaikan ajaran Islam sebelum memahami perasaan manusia.

Kita harus ingat manusia sangat butuh teman curhat yang baik saat dihimpit ragam ujian. Biasanya mereka sulit diajak curhat ketika hidup di lingkungan pertemanan yang beracun. Bila bertemu dengan orang yang paham cara berteman, mereka tak sungkan membuka diri untuk berbagi curhat kepadanya. Dari sini lah pendekatan humanis berperan.

Sampai mereka merasa nyaman dengan kita, barulah kita memberikan pemahaman akidah dan adab menurut Islam kepada mereka. Terkadang tahap ini sering terjadi konflik karena perbedaan pandangan hidup. Hal ini lumrah terjadi karena dakwah harus dilakukan secara konsisten. Yang terpenting ialah kita tidak boleh menyerah saat gagal dan tidak mempersulit mereka. Tugas kita sebagai muslim ialah menyampaikan ajaran Islam dan memperlakukan orang dengan adil, bukan mempengaruhi mereka.

Demikian penjelasan relasi antara agama dan akhlak yang saling bersinergi. Akhlak merupakan cerminan keimanan seseorang. Ketika kita berupaya memperbaiki akhlak, maka kita juga memperbaiki agama untuk kebaikan diri kita dan orang lain.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya