Simalakama Kepercayaan Diri Manusia

Pembelajar
Simalakama Kepercayaan Diri Manusia 15/02/2021 684 view Lainnya careerbuzz.prosky.co

Kepercayaan diri yang berlebihan bisa sangat membahayakan. Bagi orang yang punya sifat seperti ini, semua hal di luar dirinya adalah rendah: tak berguna. Mungkin karena tidak dapat mencari kekurangan yang ada di dalam dirinya akibatnya energi dalam dirinya disalurkan untuk mencela atau mencari keburukan orang lain. Padahal kata bijak bestari: Dalam menjalani kehidupan kau harus keras ke dalam dirimu sendiri, tapi lembut kepada orang lain. Lihatlah kebaikan dalam diri orang lain, tapi kalau menilai diri sendiri harus bisa menemukan kekurangan dan keburukannya. Saya kira dengan cara seperti tersebut di atas hidup kita akan jauh lebih “selamat”.

Sudah tentu hidup akan banyak sekali ujian dan rintangan. Maka diperlukan manajemen agar kehidupan kita selamat. Teori fisika menyatakan bahwa untuk menciptakan energi dua unsur yang berbeda harus dipertemukan, diolah, dan dikendalikan. Ibarat dalam listrik, tidak akan ada aliran (arus listrik) jika tidak ada beda potensial (positif dan negatif). Tugas manusia adalah mengolah anasir positif dan negatif dengan ukuran yang tepat. Itulah kuncinya: kadar dan pengendalian.

Terkait kepercayaan diri yang dirasakan oleh seseorang bisa dibilang semacam metode pertahanan diri untuk menghadapi dunia yang keras. Jika kita tidak percaya diri kita akan ditindas. Jika kita tidak tampil dengan gagah dan meyakinkan; orang akan meragukan kemampuan kita. Dan akibatnya kita tidak berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan. Benarkah sosiologi manusia demikian?

Ya, sebagai makhluk sosial manusia ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain. Maka dengan berbagai usaha manusia ingin mencapai hal tersebut. Orang yang tampil dengan percaya diri akan memberi kesan “keren”dan akibatnya status sosial juga terangkat. Namun perlu diperhatikan jangan sampai kita menghalalkan segala cara hanya untuk pengakuan dari orang lain. Sampai kehilangan kejernihan fikiran.

Sebagai penyeimbang hidup, kita membutuhkan antitesis dari karakter diri agar bisa tetap berada di jalur yang tepat. Perlu ada orang yang bisa mengingatkan bahkan mengkritik kita, tujuannya adalah supaya kita tidak angkuh dan sombong. Manusia harus menyisakan ruang dalam dirinya untuk menerima saran dan masukan dari orang lain. Apalagi kita hidup dalam lingkungan sosial masyarakat dengan latar belakang majemuk maka sudah sepatutnya kita mengendalikan ego.

Jangankan dalam lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan kerja saja hal tersebut diperlukan. Saat dalam meeting, misalnya, harus ada minimal satu orang yang bertugas mempunyai pandangan atau pendapat yang berbeda (devil advocate) agar menghasilkan keputusan yang benar-benar tepat. Keputusan yang sudah diuji dengan dianalisis, dipikirkan sebab akibatnya, resikonya secara menyeluruh. Dari tesis awal di-counter dengan antitesis dan pada akhirnya akan dihasilkan keputusan rapat yang mengakomodasi seluruh permasalahan (sintesis).

Membahas kejiwaan manusia memang mengasyikkan, karena selain untuk mengenali kecenderungan orang lain juga kecenderungan diri sendiri. Pengendalian emosi termasuk di dalamnya yaitu ego, kesombongan, kerendahan hati, dan kepercayaan diri. Masalah manajemen kepercayaan diri, saya teringat tentang sebuah perlombaan sepeda motor, seorang pembalap dengan sangat PD melakukan selebrasi padahal belum mencapai garis finish, sampai akhirnya ia malah disalip lawan di belakangnya. Akhirnya ia hanya bisa menyesali perbuatannya konyolnya. Andai saja si pembalap bisa lebih mengontrol emosi. Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini? Pengendalian diri. Jangan suka terlalu yakin (over confidence) sebelum suatu persoalan itu telah selesai dikerjakan (benar-benar terjadi). Dan yang paling penting adalah sikap untuk mau mengecek (tabayun) segala sesuatu. “Yakin penting tapi cek lebih penting”, begitu kata Pak Habibie.

Kepercayaan diri yang berlebihan bisa sangat fatal termasuk dalam menilai seseorang. Beberapa tahun yang lalu ada kasus pengeroyokan tukang servis amplifier di daerah Bekasi. Nahasnya korban yang dicurigai pencuri ternyata adalah tukang servis elektronik. Padahal korban sudah menjelaskan bahwa ia adalah tukang servis, namun orang yang kalap dengan segera menghajar, memukul, menginjak-injak, dan membakarnya. Kok ada orang yang sedemikian kejam; berapa sih harga amplifier dibanding dengan nyawa manusia. Kalaupun seandainya memang ia mencuri apa dengan tindakan kejam seperti itu kita menghukumnya? Bagaimana mengembalikan nyawa orang yang sudah mati? Bisakah orang-orang yang mengeroyok mengendalikan emosinya untuk tidak reaktif ?

Baik sang pembalap motor dan tukang servis elektronik adalah korban dari penggunaan ego yang tidak terukur. Mismanagement emosi. Maka sebagai manusia yang cerdas harusnya kita punya manajemen psikologi untuk menggembosi (melemahkan) ego kita. Agar apa yang kita pikirkan benar-benar jernih dalam menyikapi sesuatu tak terkecuali penilaian terhadap diri kita sendiri.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya