Siklus Waktu, Harapan Baru

Siklus Waktu, Harapan Baru 03/01/2022 1153 view Budaya lokadata.id

Dalam suasana muram akibat terpaan pandemi yang tak kunjung usai ini, kita lewati bersama pergantian tahun dengan satu keyakinan bahwa setelah gelap pasti akan ada terang. 2022 bukan lagi sekedar pergantian kalender, yang datang seperti tahun-tahun lalu, tapi siklus waktu ini diharapkan bisa melahirkan jiwa baru, tunas baru, dan harapan baru.

Waktu selalu datang silih berganti. Hari-hari dulu berlalu, berubah menjadi minggu, lalu bulan, kemudian tahun. Selalu begitu. Dan akan begitu. Tapi mengapa Sapardji Djoko Damono memahami “waktu” sebagai fana? Bukankah kita tidak akan terbebas dari siklus waktu?

"Yang fana adalah waktu.
Kita abadi:
memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
'Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?' tanyamu.
Kita abadi"


Demikian Sapardji Djoko Damono mengatakan dalam baris sajaknya yang terkenal itu.

“Yang fana adalah waktu” adalah satire bagi manusia yang gemar menyia-nyiakan waktu. Betapa menyedihkan mereka yang menghabiskan waktu pada hal-hal kurang bermanfaat. Apalagi jika hal tersebut hanya bersifat sementara dan fana. Akibat dari itu semua, akhirnya akan timbul suatu penyesalan yang umumnya datang terlambat.

Memang kita tidak akan sanggup mengejar lari matahari. Tapi kita harus terus berlari mengejar harapan demi harapan, meski terkadang perlu berhenti sejenak, bukan karena pasrah, apalagi menyerah, tapi untuk sekedar mengatur langkah dan arah.

Memupuk harapan yang tertunda di tahun-tahun lalu, menjadi motivasi bahwa kemungkinan yang tak mungkin terjadi di masa lalu, bisa saja terjadi di tahun 2022 ini. “Yang menarik dari hidup ini adalah sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin”, demikian Paulo Coelho, novelis The Alchemist terkemuka asal Brazil itu mengatakan.

Tak mengapa membuka kembali asa dan cita-cita yang masih terpendam di masa dulu, meski kini tahun telah berubah. Hidup serba kemungkinan. Tak ada yang tahu masa depan. Tapi alam semesta beserta isinya, kata Paulo Coelho, akan membantu mewujudkan keinginan mereka yang punya tekad dan keyakinan.

Kegagalan garuda tak perlu disesali, apalagi diratapi. Sekali-kali, bukan karena gajah perang itu sulit dirobohkan. Tapi memang daya juang kita di lapangan yang kadang timbul dan tenggelam. Di suatu saat dalam waktu nanti, garuda kita bisa terbang lebih tinggi lagi dan lagi, meninggalkan gajah perang yang masih berderap di tanah lapang.

Bila masa lalu kita dipenuhi ingatan akan sebuah kenangan luka yang bercoreng karat atau kegagalan yang sulit dihapuskan. Tinggalkanlah itu semua, karena ia tanda kelambanan. Jangan jadikan masa lalu sebagai teror atau bayang-bayang yang tak mungkin bisa hilang. Terjanglah kenyataan yang ada! Lawanlah gelombang! Karena di dalam pergulatan melawan gelombang kehidupan terdapat keabadian.

Waktu harus dipandang sebagai gerak maju, bukan gerak mundur ataupun tetap berpijak di titik yang sama, yang memungkinkan kita tergilas dan terhempas amuk waktu. Waktu adalah pedang. Jika kita tidak mampu mengendalikanya. Maka segala harapan dan keinginan kita akan ditebas.

Ia (pedang) akan selalu mengarahkan matanya ke jantung kehidupan kita. Mengoyak kesadaran kita. Dan pada akhirnya kita harus kalah terkapar, tersungkur ke dalam lumpur yang kotor. Waktu adalah maut. Jika kita tidak bisa menghidupkanya. Ia akan menghabisi kita dan melemparkan kita ke dalam kubur kegelapan.

Semua rangkaian perjalanan masa lalu hingga masa kini, kita lalui tanpa disadari. Segala harapan yang telah tercapai, pengalaman pahit yang terus jadi memori, ataupun kebahagiaan yang mestinya menjadi cermin dan bekal untuk menempa diri agar lebih baik, terlewat tanpa bekas. Jejak langkah harus senantiasa diperbaharui. Tapak baru harus segera ditempuh. 2022 menjadi torehan baru akan sebuah harapan baru. Cita-cita baru. Dan hari baru.

Kita meninggalkan 2021 saat suasana negeri masih diselimuti awan mendung. Begitu banyak kejadian, begitu banyak persoalan: wabah corona yang belum berakhir, sengkarut politik yang makin kusut, kondisi ekonomi yang belum stabil, korupsi yang terus bertambah, wajah pendidikan yang muram, distribusi keadilan yang tidak merata, kemiskinan yang terus bertumbuh, dan masa depan kerukunan umat beragama yang masih mengkhawatirkan.

Semoga pergantian tahun ini membawa angin perubahan bagi bangsa kita. Masih ada lorong waktu yang panjang untuk bersama-sama berbenah. Indonesia adalah rumah bersama. Kitalah yang menjaganya. Tanah tumpah kelahiran ini tidak boleh ditanamkan benih permusuhan dan kebencian. Tunas-tunas bangsa harus tumbuh, dan jangan pernah layu sebelum berkembang.

Sebagai penutup, izinkah saya kutipkan sajak dari penyair sufi, Hakim Sana’i:

Kurun beralih, bocah yang dulu lemah lembut
Kini telah berakal dan dewasa pula
Ada yang menjadi orang utama
Ada yang hanya fasih berkata-kata

Tahun bersalin tahun, batu-batu keras
Kini telah tersepuh cahaya matahari
Moga kelak sangguplah batu-batu ini
Menjadi permata nilam atau akik Yaman

Minggu telah silam oleh minggu lainnya
Moga setumpuk kapas yang tumbuh dari air dan tanah
Kelak jadi pakaian dan hiasan wanita cantik
Atau kain kafan pembungkus yang mati syahid


[Hakim Sana`i, abad ke-12 M].

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya