Siapkah Green Election menjadi Identitas Pemilu kita?

Pembelajar Kajian Ilmu Politik Pemerintahan
Siapkah Green Election menjadi Identitas Pemilu kita? 28/05/2022 67 view Politik pixabay

Istilah green election pada dasarnya bukan menjadi barang baru lagi dalam sistem demokrasi sebuah negara. Konsep ini dalam beberapa tahun terakhir menjadi menarik dan relevan sekali untuk disandingkan dengan sistem pemilu yang telah lama kita laksanakan. Kita semua harus yakin dan mengakui bahwa sistem pemilu yang sedang berlangsung amatlah tidak pro terhadap lingkungan. Sistem pemilu kita secara kultur sangat tidak ramah terhadap lingkungan. Menariknya jika dilacak secara mendalam ada korelasi yang unik bagaimana sistem pemilu yang kita jalankan berpengaruh terhadap perubahan suhu di muka bumi.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana bisa sistem pemilu sebuah negara tidak terkecuali Indonesia berpengaruh terhadap suhu dan iklim di muka Bumi? Pertanyaan ini menjadi relevan sekali untuk memperlihatkan betapa sistem pemilu hari ini secara tidak langsung telah berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Oleh karena itu pada konteks ini pada akhirnya akan memberikan ruang baru atas betapa pentingnya konsep green election dalam sistem demokrasi sebuah negara demi keberlanjutan lingkungan di masa depan.

Demokrasi Hijau untuk Siapa?

Salah satu keprihatinan kita sebagai masyarakat modern tentu terletak pada semacam analisa mengapa demokrasi yang terbangun cenderung melahirkan praktik-praktik demokrasi yang menjarah dan merampas hak-hak lingkungan. Bila demokrasi itu kemudian dimanifestasikan dalam aktivitas pemilihan umum maka dikatakan sah dan meyakinkan bahwa demokrasi kita mendukung degradasi lingkungan. Praktik-praktik politik praksis yang kemudian dimotori oleh partai politik dan di belakangnya ada banyak simpatisan pragmatis sama sekali tidak memikirkan tentang masa depan lingkungan.

Para simpatisan partai biasanya dimobilisasi oleh elit partai politik tertentu disertai dana untuk melakukan kampanye agar masyarakat tertarik. Namun nampaknya masyarakat modern yang ada hari ini jauh lebih cerdas dalam membaca, membedah, dan memikirkan segala aktivitas politik praksis simpatisan. Kebodohan yang tidak sadar dilakukan para simpatisan partai politik adalah seolah-olah dengan mereka berkampanye dengan menggunakan alat peraga yang kemudian menghasilkan “sampah politik” membuat masyarakat tertarik.

Aktivitas kebisingan kendaraan bermesin dengan bergembor-gembor di jalan-jalan dengan suasana hiruk pikuk diwarnai asap kendaraan lantas membuat masyarakat memberikan hak suara politiknya. Namun ironisnya tidak sama sekali itu terjadi sepenuhnya. Masyarakat justru memikirkan sebaliknya di mana kampanye dan peraga semacam ini justru hanya membuat jalanan macet, kebisingan di mana-mana, sampah-sampah peraga kampanye, dan kemudian menciptakan suatu pemikiran bahwa hal semacam itu justru berkontribusi atas krisis lingkungan.

Persoalan tersebut menjadi catatan demokrasi mengapa manifestasi demokrasi belum mampu berpihak pada pengurangan krisis lingkungan. Mengapa isu krisis lingkungan masih belum dianggap menjadi isu yang penting dalam kehidupan kita. Aktivitas kampanye oleh partisipan pragmatis hanya akan menambah daftar panjang terhadap demokrasi yang kemudian melahirkan dosa-dosa ekologis.

Pentingkah Green Election?

Gagasan green election pada dasarnya lahir sebagai refleksi kritis terhadap sistem demokrasi yang secara nyata telah melahirkan dosa-dosa ekologis. Sebut saja pentahapan pemilu yang telah menjadi tradisi di negeri ini dari awal hingga akhir nyatanya tidak luput menyumbang krisis lingkungan. Mulai dari kampanye politik saja, misalnya dapat dilihat menjelang pemilu dilakukan. Bahkan yang terjadi di lapangan menariknya kampanye politik mencuri start terlebih dahulu. Kondisi ini bisa dijumpai dalam kultur masyarakat di desa-desa di mana mereka biasanya dimobilisasi dan didanai untuk mempromosikan partai politik yang diusungnya.

Keadaan masyarakat yang pragmatis tanpa pemahaman politik yang kuat biasanya digerakkan dengan dana secara mudah. Prinsip kampanye politik di kawasan terisolir dan rural adalah ada uang kampanyepun datang. Itu adalah trend kampanye politik yang terjadi tanpa jelas alasan mengapa mereka harus menaruh dukungannya kepada partai politik pemberi dana. Esensinya bagaimana partai politik itu mampu merebut kekuasaan dengan cara apapun termasuk mengorbankan lingkungan demi berkuasa.

Green election pada dasarnya menjadi penting dan seharusnya diwujudkan dalam membangun demokrasi kita yang ramah lingkungan. Apabila konsep green democracy ini mampu dipahami dengan baik maka kesadaran atas green election secara nyata juga akan tumbuh.

Tantangan ke Depan

Persoalan yang terjadi di lapangan kemudian ialah narasi-narasi green itu dianggap selesai apabila kita sudah melakukan aktivitas yang mendukung pelestarian lingkungan. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian ialah apakah aktivitas itu dilakukan secara berkelanjutan? Atau dengan pertanyaan yang lebih subtantif lagi yakni narasi-narasi green ini mampu menciptakan sistem demokrasi hijau yang kemudian menghadirkan sistem kepemiluan yang juga green di ruang-ruang pulik.

Semua itu dapat diwujudkan dengan kerja kolaboratif dan sinergitas dari berbagai pihak. Bahkan partai politik juga memiliki posisi yang strategis dalam membangun green election. Oleh karenanya kesadaran green election harus dimulai dari partai politik mengingat mereka adalah aktor infrastruktur politik yang sedikit banyak mewarnai wajah sistem kepemiluan sebuah negara. Tuntutan partai politik untuk membangun sistem yang green perlu dibangun dan ditumbuhkan secara totaliter dalam sistem negara demokrasi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya