Si “Tangan Besi” Kendalikan Pandemi

Penulis, Peneliti, Dosen UNIDHA dan PDIH UNAND
Si “Tangan Besi” Kendalikan Pandemi 06/04/2020 3916 view Opini Mingguan pixabay.com

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yakin jumlah kasus positif virus Corona berkali-kali lipat dari yang terdata selama ini. Dia juga meyakini virus Covid-19 itu sudah menyebar dimana-mana. Kesimpulan itu ia ambil dari hasil rapid test yang dilakukan pihaknya dalam beberapa hari terakhir. Ridwan Kamil menyebutkan dari 50 ribu alat rapid test yang dibagikan ke kabupaten atau kota di Jawab Barat, sudah 15 ribu orang melakukan tes. Hasilnya 677 orang positif Covid-19 (CNNIndonesia.com, 3/4/2020).

Pernyataan Ridwan Kamil ini senada denga pernyataan Anies Baswedan soal adanya 283 orang yang dikubur dengan protokol Covid-19. Dalam konfrensi pers yang berlangsung di Balai Kota Jakarta pada Senin (30/3/2020), Anies Baswedan menyatakan bahwa ada 283 orang Jakarta meninggal dunia sejak 6-27 Maret 2020 (TribunKaltim.co). Data yang disampaikan Anies Baswedan ini berbeda jauh degan data pemerintah pusat pada hari yang sama. Juru bicara pemerintah terkait virus Corona, Achamad Yurianto menyebutkan bahwa hingga Senin (30/3/2020) hanya ada 1.414 kasus orang postitif Covid-19 di Indonesia. 122 orang meninggal dunia dan 75 pasien dinyatakan sembuh. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan publik. Padahal masyarakat membutuhkan data yang transparan untuk mengetahui sudah sejauh apa virus Corona mematikan orang Indonesia agar masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam melakukan pencegahan penularan. Disamping itu, kita sebagai bangsa bisa saling bekerja sama berkontribusi untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 bersama pemerintah.

Melihat tingginya tingkat kematian akibat virus Corona, sudah saatnya kita dalam menghadapi ancaman kematian dan kepanikan global akibat pandemi virus Corona ini saling memberikan semangat satu sama lain. Seperti warga China yang merapatkan barisan saat virus Corona menyergap dengan saling menyemangati, “Wuhan, kamu pasti bisa!”. Tidak ada salahnya pula kita melakukan hal yang sama. Setidaknya dalam hal memberikan semangat terhadap para medis yang saat ini bertugas di garda terdepan melawan pandemi mematikan ini. Karena di tangan para tenaga kesehatan tersebutlah nasib kita sebagai bangsa bergantung. Dimana dalam menghadapi wabah Corona tenaga medis bekerja siang dan malam. Hal seperti ini tentu saja bukanlah hal yang mudah karena mereka juga berpotensi tertular.

Tentu sangat miris, mereka yang bekerja di garda terdepan tersebut namun bertugas tanpa alat pelindung diri yang memadai. Sejumlah informasi menyebutkan para petugas medis kekurangan alat pelindung diri, seperti baju hazmat, sarung tangan, dan masker N95 pada saat memeriksa pasien yang terinfeksi virus Corona. Akibat dari minimnya alat pelindung diri terhadap para tenaga medis berujung vatal, terdapat sebanyak 13 orang dokter meninggal dunia selama menghadapi Covid-19. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo, yang menyebutkan ada 13 dokter meninggal dunia selama wabah Covid-19 (Kompas.com, 2/4/2020).

Banyaknya korban dari tenaga kesehatan ini menunjukkan bahwa virus Corona ini sangat membahayakan jiwa manusia. Oleh karena itu pemerintah harus mengambil langkah yang jelas dan terukur untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona ini agar tidak membunuh orang lebih banyak lagi, termasuk merenggut nyawa tenaga medis. Jangan kita biarkan tenaga kesehatan berperang melawan wabah tanpa alat pelindung diri yang memadai. Segera cegah agar korban tidak terus bertumbangan.

Dalam hal menangani virus Corona ini ada beberapa hal yang perlu ditegaskan oleh pemerintah dalam kondisi kritis akibat wabah virus Corona yang mematikan ini. Diantaranya pemerintah harus bisa menjamin berapa persen tingkat akurasi data postitif tertular virus Corona saat ini. Selanjutnya dari keakuratan data yang telah disiarkan pemerintah segera tentukan target yang akan dilakukan oleh pemerintah terhadap angka-angka itu.

Jika kebijakan yang diambil pemerintah hari ini dalam menahan laju penyebaran virus Corona adalah Social Distancing diantaranya dengan meliburkan sekolah-sekolah. Perlu kaji ulang kebijakan tersebut karena faktanya sejumlah perusahaan tetap beroperasi. Perusahaan yang tetap beroperasi dan tidak patuh terhadap himbauan mengakibatkan orang-orang tetap hilir-mudik di luar rumah.

Dalam hal kebijakan Social Distancing ini pemerintah seharusnya menetapkan mana perusahaan yang harus beroperasi, boleh beroperasi, dan wajib tutup. Seharusnya pemerintah menyiapkan strategi untuk membatasi ruang gerak manusia, apalagi darurat kesehatan telah pula diditetapkan. Strategi tersebut misalnya dengan membekukan ruang gerak manusia sebanyak mungkin. Kemudian petakan dengan jelas daerah mana yang sudah benar-benar harus diisolasi dan daerah dalam pemantauan. Misalnya beberapa kawasan di Jakarta atau Jawa Barat sesuai banyaknya korban Covid-19 seperti yang diungkap oleh Ridwan Kamil dan Anies Baswedan. Lalu petakan daerah aman. Daerah aman tersebut beri tanda dan isolasi sebagai daerah aman. Beri ruang untuk melakukan kegiatan ekonomi.

Pemetaan seperti tersebut di atas sangatlah diperlukan terlebih lagi dalam kondisi darurat seperti yang terjadi hari ini. Bagi seorang pemimpin kondisi seperti hari ini merupakan saat yang tepat untuk bertindak total dengan segala resikonya. Buang dulu jauh-jauh soal besar atau kecilnya resiko yang akan ditimbulkan. Yang perlu dipahami bahwa tidak ada sebuah tindakan pun yang bisa dijamin lepas dari risiko.

Hari ini kita sedang berada dalam kondisi krisis. Dalam keadaan krisis seperti saat ini yang harus menjadi fokus utama pemerintah adalah menghentikan krisis. Abaikan kekhawatiran soal akibat selanjutnya. Sedangkan fokus pemerintah hari ini harusnya adalah pada upaya menghambat penularan Covid-19. Bagaimanapun dampaknya kemudian. Misalnya akan terjadi krisis ekonomi jilid dua atau lainnya. Lupakan. Karena jika pemimpin tidak berani mengambil tindakan total di situasi sulit begini maka kita semua akan mati oleh virus Corona. Seorang pemimpin yang berani total mengambil tindakan untuk upaya pencegahan penuluran Covid-19 lebih luas lagi juga patut kita sebut pahlawan. Namun, apakah kebijakan yang seperti ini baru akan diambil oleh “si tangan besi”?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya