Sepotong Kisah di balik World Press Photo of the Year Tahun 2024

Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag
Sepotong Kisah di balik World Press Photo of the Year Tahun 2024 13/05/2024 73 view Politik world press photo foundation

Mohammed Salem, fotografer Reuters berkebangsaan Palestina, memenangkan World Press Photo of the Year Tahun 2024 yang diselenggarakan oleh World Press Photo Foundation (WPP) untuk kategori photo of the year. WPP adalah lembaga non-profit yang berbasis di Amsterdam, Belanda. Foto berjudul “A Palestinian Woman Embraces the Body of Her Niece” (Seorang Wanita Palestina Memeluk Tubuh Keponakannya) itu berlatar suasana RS Nasser di Khan Younis pada 7 Oktober 2023 silam.

Pemenang lainnya adalah Lee Ann Olwage untuk kategori Story of The Year dan Alejandro Cegarra untuk kategori Long Term Project Award. Para pemenang lain tentu memiliki kekuatan masing-masing. Namun demikian, dewan juri sangat tersentuh dengan bagaimana gambar yang diproduksi Mohammed Salem mampu membangkitkan refleksi emosional pada setiap penontonnya. Disusun dengan penuh perhatian dan rasa hormat, karya ini menawarkan gambaran metaforis dan literal sekilas tentang kehilangan yang tak terbayangkan.

Terletak di lingkungan medis yang jauh secara geografis dan terkepung oleh kekuatan militer Israel, gambar ini bergema secara global, mendesak kita untuk menghadapi kepedulian kita terhadap konsekuensi konflik antar manusia. Foto tersebut memiliki makna berlapis-lapis, mewakili kehilangan seorang anak, perjuangan rakyat Palestina, dan ribuan kematian di Palestina. Sebagai simbolisme dari dampak konflik, foto tersebut memberikan pernyataan tentang kesia-siaan semua perang. Pada akhirnya, rakyat lemah adalah pihak menjadi korban utama dan menanggung akibat konflik tersebut.

Sebuah karya fotografi tentu saja menyajikan banyak hal di balik sajian fotonya. Kita bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dari amatan karya jurnalistik, foto ini merepresentasikan derita rakyat Gaza sebagai akibat dari tindakan genosida Israel. Inas Abu Maamar, wanita dalam foto tersebut, nampak memeluk jenazah yang diterangkan sebagai keponakannya dengan kedukaan yang begitu dalam. Kepala perempuan itu lunglai disangga tubuhnya yang layu mendekap mayat keponakannya.

Konflik Tidak Berkesudahan

Sesungguhnya, terlampau banyak karya jurnalistik yang bisa dirujuk sebagai contoh kekejaman Israel atas rakyat Palestina di Gaza. Hingga kini, kekejaman itu terus berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Invasi ke Rafah, wilayah terakhir di Jalur Gaza yang dihuni para pengungsi dari Gaza Utara, oleh tantara Israel telah dimulai pada saat Hamas menyetujui proposal gencatan senjata yang diajukan. Wilayah lainnya di Jalur Gaza relatif telah rata dengan tanah.

Dalam situasi tersebut, tentu saja mudah membayangkan penderitaan rakyat Palestina di tengah kelaparan yang diderita dan kekejaman tentara Israel. Mohammad Salem tidak menyajikan foto hasil kekejaman tentara Israel dalam berbagai bentuk terkejinya. Faktanya, hal tersebut tidak sulit dilakukannya. Serbuan tentara darat yang demikian brutal dengan jumlah korban yang teridentifikasi demikian besar tentu saja menimbulkan dampak yang miris dan masif. Foto tersebut menunjukkan bahwa kekejaman Israel dan keputusasaan warga Palestina telah terjadi dan memaksa kita merenung jauh setelahnya.

Ia tidak menghadirkan kengerian sebagai akibat dari bom fosfor yang digelontorkan Israel atau rusaknya anggota tubuh jenazah anak-anak, misalnya, sebagai akibat pemboman Israel yang mudah didapatkan. Foto tersebut adalah juga merupakan bentuk kompromi atas dominasi Barat dan Israel. Sampai kini, Barat dan Israel cenderung bahu membahu menutupi berbagai fakta yang ada sebagai akibat langsung dari langkah invasif mereka.

Berbagai gelombang protes di kampus ternama di AS dan Eropa menjadi bagian dari tuntutan mahasiswa atas divestasi peran Israel, mereka menuntut keterbukaan atas data yang banyak ditutup-tutupi selama ini. Penghargaan paling bergengsi untuk fotografi ini didapat Mohammad Salem yang memungkinkan pemirsa untuk terlibat dengan kompleksitas dan emosi yang demikian dalam. Karya ini mampu menjadi energi penopang untuk lebih jauh bersama mengharapkan respons yang memadai atas berbagai protes yang dilancarkan.

Penghargaan bergengsi seperti World Press Photo, yang mengangkat gambar tertentu di atas yang lain, memberikan arahan kepada generasi fotografer dari seluruh dunia. Fotografer, editor foto, dan pakar penilai penghargaan fotografi membawa serta pandangan moral mereka, ikatan dengan orang-orang berpengaruh di industri ini, dan struktur yang mendukung ekosistem mereka – editor foto lain, jurnalis foto, donor, dan rumah media global yang terus menyusut yang dimiliki oleh perusahaan yang dimiliki segelintir pemilik yang kuat.

Dengan posisi penting seperti tersebut, foto pemenang World Press Photo sesungguhnya mewakili sisi kemanusiaan yang ada. Perihal kemanusiaan ini telah lama menghilang dalam konflik Palestina - Israel. Kekejian tiada batas yang diperagakan Israel telah memusnahkan rasa kemanusiaan yang hakiki. Dalam proses tersebut, Israel hanya memakai kaca mata tunggal nafsu membunuh. Merupakan salah satu tugas jurnalistik untuk menyajikan informasi yang apa adanya di tengah kepungan kekuasaan yang demikian keji.

Dari amatan non-jurnalistik, taruhlah aspek politik, kemenangan Mohammad Salem juga menyiratkan optimisme jurnalistik secara umum. Terpilihnya foto yang mewakili tragedi Palestina ini menyiratkan kemenangan akal sehat. Di tengah begitu masifnya serangan Israel dan pembelaan tiada henti atasnya, akal sehat dan nurani dengan sendirinya dimatikan. Beragam tindakan Israel untuk menginvasi Gaza dengan menanggalkan nilai-nilai kemanusiaan demikian nyata dan mengabaikan seruan dunia.

Upaya untuk menjadikan kekejian Israel sebagai momentum fotografis dengan tindakan nir-kemanusiaannya terasa relevan dan simbolik. Saat banyak suara kritis dibungkam dan diabaikan, nyatanya fotografi mampu tampil dengan pesan yang demikian kuat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya