Sepakat untuk Berbeda Ala Imam Al Sya'rani

Mahasantri Ma'had Aly Situbondo
Sepakat untuk Berbeda Ala Imam Al Sya'rani 05/12/2020 128 view Agama www.mei.edu

Islam sebagai sebuah wacana keagamaan selalu menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan. Bukan hanya karena Islam merupakan agama yang memberikan ruang bagi para pemeluknya untuk menyuarakan wacana yang beragam, tapi respon terhadap wacana itu yang acapkali membuka lebar ruang perdebatan.

Dihadapkan dengan berbagai pendapat yang sama sekali berbeda bahkan kadang bertentangan, seringkali orang bingung untuk menentukan plihan: mau pilih yang ini, berat sama yang itu. Akhirnya ia akan sampai pada titik dilematis: mengapa harus berbeda? Ada sebuah aforisme di kalangan ulama sufi yang kurang lebih berbunyi “ada banyak jalan untuk menuju Tuhan” (at-Turuqu ila-Allah bi ‘Adadi Anfasi al-Kholaiq). Sekurang-kurangnya yang dapat disimpulkan dari pepatah sufi ini adalah bahwa Tuhan meniscayakan adanya perbedaan.

Dalam semesta hukum Islam atau yang biasa dikenal dengan fikih, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang sangat mudah ditemukan di banyak turats karangan para ulama. Perbedaan di sini setidaknya dipicu oleh dua hal: dalil yang berbeda, atau sudut pandang terhadap masalah yang tak sama.

Katakanlah semisal dalam hal kebatalan wudhu seorang lelaki yang menyentuh tubuh gadis kecil. Jumhur ulama berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu karena gadis kecil pada biasanya tidak disyahwati. Sedangkan menurut Imam Daud ad-Dhahiri, hal itu dapat membatalkan wudhu lantaran mengacu pada keumuman lafad nisa’ dalam al-Quran surah an-Nisa’ ayat 43. Begitulah wajah keragaman hukum Islam yang bisa ditemukan sejak dalam hal yang remeh-temeh hingga menyangkut kasus yang krusial.

Di antara ulama yang gencar menyikapi perbedaan pendapat para ulama ini adalah Imam Abdul Wahab al-Sya’rani. Yang menarik dari sosok al-Sya’rani, beliau adalah pencetus metode kompromistik yang—menurut keyakinan beliau—belum pernah disuarakan oleh siapapun sebelumnya.

Selain itu beliau adalah seorang pengkritik beken. Untuk menjadi pengkritik yang handal setidaknya harus melalui salah satu jalan: menjadi sosok yang polos, atau yang berkarakter kokoh sekaligus memiliki landasan yang kuat. Mungkin beliau termasuk yang kedua.

Diakui atau tidak, kendati berbeda adalah kondisi yang jamak dijumpai, namun masih banyak orang yang gagal untuk melihat perbedaan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Dalam al-Quran, Allah berfirman: Mereka (para ulama) berada dalam petunjuk Tuhan. (QS. Al-Baqarah; 5) Imam al-Sya’rani berulang kali mengutip ayat ini dalam kitab al-Mizan al-Kubro seraya berkata “jika kita mengimani dengan pasti ayat ini, maka mendapati perbedaan di antara mereka (ulama) bukanlah hal yang patut diwaspadai”.

Di kesempatan lain, Rosulullah juga bersabda: Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat. Al-Sya’rani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata “rahmat” dalam hadits itu adalah keluwesan dalam beragama. Jadi yang diharapkan dari adanya perbedaan itu adalah munculnya maslahat, bukan malah memunculkan masalah baru. Kemudian yang menjadi inti persoalan adalah bagaimana menyikapi sebuah perbedaan untuk mencapai rahmat itu?

Menurut Imam al-Sya’rani, hukum syar’i memiliki dua nilai: takhfif (mudah), dan tasydid (berat). Kesimpulan ini beliau dapat setelah mendaras habis seluruh putusan hukum (Istinbat al-Ahkam) dari para ulama beserta landasan dalil yang mereka gunakan. Kemudian setelah itu—masih menurut beliau—kedua nilai ini harus disesuaikan dengan tingkat keimanan serta kesanggupan dari orang yang akan menjalani hukum tersebut (mukallaf). Beliau dalam hal ini mengklasifikasikan mukallaf menjadi dua tingkat: qowiy (orang kuat), dan dloif (orang lemah). Hukum yang masuk dalam kategori tasydid tidak dibebankan kepada dloif, sebagaimana yang qowiy tak boleh mengambil hukum takhfif.

Dalam kasus cadar semisal, para ulama setidaknya terbagi menjadi dua golongan, ada yang mewajibkan dan ada yang menyunnahkan. Adanya perbedaan ini sebenarnya dipicu oleh tak sepakatnya mereka dalam kadar aurat wanita di luar shalat. Imam Hanbali dan qoul mu’tamad dari Imam Syafi’I berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, sehingga menurut madzhab ini memakai cadar hukumnya wajib. Sedangkan Imam Malik dan Imam Hanafi berpendapat bahwa aurat wanita di luar shalat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, maka memakai cadar hukumnya sunnah menurut pendapat ini.

Jika ditelaah melalui konsep kompromistik Imam al-Sya’rani, maka pendapat pertama tergolong tasydid, dan pendapat kedua adalah takhfif. Oleh sebab itu, orang yang dlo’if—dalam hal ini semisal wanita karir yang diharuskan berinteraksi dengan banyak orang dalam pekerjaannya—harus mengambil pendapat yang kedua. Sedangkan orang yang qowiy—dalam hal ini semisal wanita yang hanya mengurusi pekerjaan rumah tangga—harus mengambil pendapat yang pertama. Maka dari sini dapat diketahui bahwa metode kompromistik al-Sya’rani adalah tentang menentukan posisi, dalam artian mengambil pendapat yang lebih sesuai dengan kondisi diri, tanpa menjegal pendapat lain yang menjadi oposisi.

Ada banyak atsar dan perkataan ulama yang menjutifikasi metode kompromistik yang diusung al-Sya’rani ini. Diantaranya adalah hadits nabi: Jika aku perintahkan kepadamu untuk mengerjakan sesuatu, maka lakukanlah semampumu. (HR. Bukhari, Shahih al-Bukhari,hadits ke-7288)

Imam al-Sya’rani dalam kitab Mizan-nya juga mengutip perkataan al-Zarkasyi—yang beliau anggap sangat mendukung terhadap metode yang beliau gagas ini: “Sesungguhnya mengambil rukhsoh (hukum yang ringan) dan ‘azimah (hukum yang berat) menurut posisi (yang benar) dari keduanya adalah sebuah keharusan. Jika mukallaf bermaksud mengerjakan rukhsoh agar mendapat keutamaan dari Allah SWT, maka itu lebih baik. Seperti yang diisyaratkan dalam hadits: sesungguhnya Allah senang rukhsohnya diambil sebagaimana Ia juga senang ‘azimahnya dilakukan”.

Melalui metode kompromistiknya ini, Imam al-Sya’rani seakan mengajak kita untuk bersikap santuy dalam menghadapi perbedaan. Alih-alih mencoba menghilangkan perbedaan itu, beliau hadir menyatakan sepakat untuk berbeda, sembari menentukan di mana posisi kita selayaknya.

Akhir kata, sebelum menyuarakan kebebasan berpendapat sebenarnya perlu untuk membebaskan diri dari pendapat itu. Wallahu a’lam.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya