'Self Control' Untuk Merepres Agresivitas Kelompok Geng

Widyaiswara BKKBN NTT
'Self Control' Untuk Merepres Agresivitas Kelompok Geng 30/06/2020 935 view Budaya images.app.goo.gl

Miris bagi saya, ketika membaca berita tentang perselisihan antara John Kei dan Nus Kei yang berawal dari persoalan penjualan tanah di Maluku, (Kompas.com, Rabu, 24 Juni 2020), sampai memakan korban jiwa. Menurut informasi, John Kei uang hasil penjualan tanah sudah diterima oleh Nus Kei. Namun menurut Nus Kei, uang tersebut belum ia terima. Akibat perbedaan pendapat itulah, maka terjadilah penyerangan terhadap markas Nus Kei oleh kelompok (anak buah) John Kei.

Jika ditelaah lebih jauh, memang ada banyak faktor yang mempengaruhi sehingga peristiwa ini terjadi. Akan tetapi, satu hal yang menurut saya sangat besar pengaruhnya, yakni tingginya agresivitas dalam diri setiap anggota kelompok, baik itu anak buahnya John Kei, maupun Nus Kei. Tulisan sederhana ini, coba saya bagikan untuk mengantisipasi adanya agresivitas dalam diri setiap anggota geng dengan meningkatkan self control (kontrol diri) yang ditelaah dari sudut pandang ilmu psikologi.

Perilaku Agresif dalam Kelompok (Anggota Geng)

Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa dunia perkelompokan (geng) identik dengan perilaku kekerasan atau perilaku agresif. Hal ini nampak dari visi, misi dan tujuan dari setiap perkumpulan (geng), yang dinilai kerap kali bernafaskan kekerasan (agresif) dengan dalil demi menjaga ketahanan diri (bela diri).

Secara umum, memang hal ini bisa dibenarkan. Akan tetapi, jika tidak dikendalikan atau dikontrol secara baik, maka spirit agresif itu akan terpatri dalam diri setiap anggota geng, sehingga ketika ada stimulus negatif (bahaya) yang datang dari luar dirinya, atau ada hal yang mengganggu kelompok tersebut, maka ia akan bereaksi dengan agresif untuk membela diri atau mempertahankan dirinya dari bahaya tersebut. Sebenarnya ini sah-sah saja, asalkan tidak digunakan untuk membalas dendam atau mencari musuh baru hanya sekedar untuk menguji kemampuan dan keberanian setiap anggota geng.

Perilaku agresi dalam kelompok geng di kota besar, menjadi fenomena yang belum terselesaikan sampai saat ini karena selalu dilandasi oleh beragam faktor. Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku agresif, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal meliputi kepribadian dan fisiologi, serta faktor eksternal meliputi lingkungan kelompok. Faktor eksternal dalam lingkungan kelompok mempunyai peran cukup besar dalam perilaku agresif yang dilakukan oleh individu.

Jika menilik fenomena perilaku agresi yang dilakukan oleh anggota geng, khususnya anak buah John Kei, yang terjadi beberapa hari yang lalu, maka bisa disimpulkan bahwa faktor eksternal-lah yang paling mempengaruhi terjadinya konflik tersebut. Pasalnya, menurut informasi, peristiwa konflik antar kedua kelompok ini muncul karena kelompok geng John Kei (pelaku) merasa tidak percaya dan dikhianati oleh kelompok geng Nus Kei (korban), karena uang hasil penjualan tanah yang belum jelas dimana keberadaannya.

Hemat saya, beberapa aspek perilaku agresi yang berasal dari dalam diri anggota geng John Kei antara lain karena adanya ketegangan diri, frustasi, insting, kemarahan, kebencian, ketidakpercayaan, dan mungkin juga dendam. Selain itu, perilaku agresi dapat muncul dan dipengaruhi oleh stimulus dari luar diri anggota yaitu provokasi, kekuasaan, kepatuhan (obedience) dan pengaruh kelompok (conformity).

Spirit Persaudaraan yang ‘Terlupakan’

Bagi Saya, setiap kelompok geng pada dasarnya memiliki tujuan baik yang hendak dicapai. Akan tetapi pada kenyataannya, tujuan baik itu, kadang dirusaki oleh tindakan agresi yang berlebihan dan tidak terkontrol, sebagai akibat dari emosi kemarahan yang sulit dikendalikan.

Sejauh pemahaman saya, semua spirit yang ada dalam setiap perkumpulan (geng), apapun bentuk dan jenisnya, selalu mengedepankan semangat persaudaraan, dan toleransi satu dengan lainnya. Akan tetapi, semangat itu perlahan mulai pudar bahkan ‘hilang’ dari dalam diri para anggota geng saat ini, karena berkembangnya rasa iri dan dendam pada musuh atau orang lain yang dinilai mengancam keberadaan kelompok mereka.

Selain itu, sikap ego, angkuh dan menganggap diri lebih hebat dari yang lain, juga menjadi salah satu faktor pemicu konflik antar setiap geng yang marak terjadi. Semua sikap negatif ini pada akhirnya melahirkan agresivitas yang besar dalam diri para anggota geng.

Dalam setiap kelompok geng, tentu ada semangat yang menjadi jiwa atau dasar penggerak bagi setiap anggotanya. Mental, kepercayaan diri dan keberanian merupakan hal yang harus ada dalam diri anggota kelompok geng. Bahkan ada semboyang ‘berani karena benar dan takut karena salah’ mungkin selalu menjadi pegangan mereka dalam bertanggung jawab atas apa yang mereka hadapi dan lakukan. Prinsip ini adalah hal yang baik sejauh masih didasari oleh spirit persaudaraan. Namun, bisa menjadi bencana kalau spirit tersebut disalahgunakan oleh anggota yang hanya mengedepankan sikap agresif.

Untuk itu, sekali lagi perlu ada upaya preventif dalam mengatasi perilaku agresif dalam diri setiap anggota kelompok geng agar bisa meminimalisir konflik yang tak kunjung usai. Upaya tersebut bisa diatasi tidak saja dengan latihan mental, seperti latihan keberanian dan kepercayaan diri, tetapi melatih para anggota agar bisa mengendalikan emosi dan mengontrol diri adalah hal yang paling penting serta diutamakan oleh para pemimpin (ketua) suatu kelompok geng (dalam hal ini John Kei dan Nus Kei). Dengan begitu, perilaku agresif bisa dikendalikan dan direpres dengan baik.

Perlunya Kontrol Diri (Self Control) dalam Kelompok Geng

Dalam ranah psikologi, self control (kontrol diri) berkaitan dengan bagaimana seorang mengendalikan emosi serta berbagai dorongan dari dalam dirinya. Dalam ranah yang paling sederhana, kontrol diri merupakan pengaturan segala proses fisik, psikologis dan perilaku seseorang. Semakin tinggi tingkat kontrol diri seseorang, maka semakin kuat pengendalian tingkah laku yang bertentangan dengan norma sosial sehingga membawa seseorang ke perilaku yang positif.

Dari pengertian tersebut, maka saya ingin memberi masukan untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi para pemimpin (ketua) kelompok geng, bahwa ada 3 aspek penting yang harus diperhatikan dan dikembangkan berkaitan dengan peningkatan kontrol diri bagi para anggota suatu kelompok geng. Aspek tersebut adalah pertama, kontrol perilaku (behavior control), yakni kesiapan atau kemampuan seseorang untuk memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku merupakan kemampuan untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi, dirinya sendiri, orang lain, atau sesuatu di luar dirinya.

Kedua kontrol kognitif (cognitive control) yakni, kemampuan seseorang untuk mengelola informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau memadukan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan.

Ketiga, kontrol dalam mengambil keputusan (decision making), yakni kemampuan untuk memilih suatu tindakan berdasarkan sesuatu yang diyakini atau disetujui secara tepat sesuai norma sosial.

Apabila ketiga aspek kontrol diri tersebut dipahami dan dijalankan oleh setiap anggota di dalam kelompok geng, maka sudah pasti perilaku agresif akan menurun. Karena itu, penting bagi para pemimpin (ketua) dari semua kelompok geng yang ada, khususnya John Kei dan Nus Kei agar memperhatikan ketiga aspek tersebut sehingga secara perlahan bisa diterapkan di dalam aktivitas kelompok geng.

Dengan begitu, spirit persaudaraan dan niat baik dari perkumpulan/kelompok geng itu menjadi lebih positif dan tidak lagi terjadi hal-hal buruk atau stigma negatif masyarakat mengenai keberadaan kelompok geng tersebut. Kiranya kita semua bisa saling menghargai satu sama lain, supaya tercipta ketentraman dalam hidup kebersamaan. Salam Satu Hati. Damai untuk Semua.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya