Sekolah Bagi Pembangkang

Sekolah Bagi Pembangkang 27/03/2021 282 view Pendidikan rencanamu.id

Di ruang kelas, guru menyukai para siswa yang taat dan penurut. Ada hukum tak tertulis dalam dunia pendidikan yang menyatakan bahwa pelajar yang taat pada pendidik adalah produk ideal dari sekolah. Ketaatan merupakan sebuah ikrar yang perlu dihayati oleh peserta didik di lembaga pendidikan mana pun. Dengan demikian, ada premis tak kasat mata dalam dunia pendidikan. Selain mendidik siswa agar berpengetahuan, sekolah juga berperan untuk mencetak generasi yang taat pada otoritas.

Nilai ketaatan dan ketundukan adalah kebajikan praktis yang multi dimensional; diterapkan pada hampir segala aspek kehidupan selain pendidikan, seperti politik, sosial kemasyarakatan, organisasi, agama hingga bisnis. Itulah mengapa nilai ini sangat menunjang terciptanya masyarakat yang terorganisasi dan penurut serta teratur. Modal prinsipil ini urgen untuk ditanamkan sejak pendidikan awal seorang individu.

Entah disadari atau tidak, prinsip ketaatan ini menciptakan masyarakat yang tidak menyadari penindasan dalam dirinya sendiri. Penindasan secara ekonomi dan politik masih tetap langgeng di tengah masyarakat. Permainan kekuasaan dan penyelewengan kebijakan publik masih saja tetap hidup subur. Namun, ironisnya, masyarakat bahkan kebal dan mati rasa, serta buta terhadap sistem yang menindas ini. Kekebalan ini sudah terbentuk sejak sekolah didaulat menjadi lembaga yang mencetak generasi yang taat pada otoritas.

Tendensi ini menetaskan disksriminasi. Lantas bagaimana dengan para siswa pembangkang? Apakah mereka yang sering mempertanyakan, mengkritik dan menyampaikan ketidaksetujuan pada otoritas sekolah beserta segala kebijakannya dianggap sebagai kriminal dalam dunia pendidikan? Pertanyaan-pertanyaan ini mengindikasikan adanya premis tak kasat mata kedua menyimpulkan bahwa sekolah sebisa mungkin bertujuan untuk merepresi naluri pembangkangan peserta didik.

Para Pembangkang Pedagogik

Dalam konteks ini, defenisi “pembangkang” tidak dimengerti setara dengan kudeta politik atau demonstrasi anarkis. Pembangkangan ini mengacu pada sikap kritis para peserta didik. Saya menyebutnya sebagai “pembangkangan pedagogik”. Para peserta didik boleh bahkan diharapkan mampu bertanya dan mempertanyakan materi pelajaran. Karena seorang guru bukanlah sumber absolut kebenaran dan pengetahuan, mereka didorong untuk memiliki sikap independen dan determinasi diri.

Dalam forum diskusi, siswa boleh-boleh saja berpendapat secara berbeda dari teman-teman lain dan bahkan dari guru. Perbedaan ini tentu harus didukung dengan analisa dan argumen rasional kritis. Dengan dua komponen tersebut, para peserta didik dicegah untuk diposisikan sebagai objek pasif dalam pembelajaran. Ketaatan buta terhadap sabda para guru atau buku-buku paket berstandar kurikulum mengaburkan daya pembangkangan kritis.

Para pembangkang pedagogik berbeda dari para demonstran jalanan. Pembangkangan pedagogik berbahan bakar rasionalitas kritik, sedangkan pembangkangan demonstran di jalan-jalan cenderung berbahan bakar sentimen-emosional massa dan euforia sesaat. Aksi-aksi anarkis sering mengiringi demonstrasi massal meskipun tindakan tersebut tidak secara substansial mencerminkan gagasan dan tujuan perjuangan kelompok tersebut.

Fakta menunjukkan bahwa banyak generasi muda yang terlibat dalam demonstrasi massal tanpa tahu intisari perjuangannya. Ini sebuah ironi yang tidak sepele. Fenomena ini lahir dari komunitas pendidikan formal yang fobia terhadap nalar kritis tetapi mencintai ketaatan buta dan sikap duduk-manis di kelas. Sebagai residunya, lulusan-lulusan dari sekolah menjadi individu yang cenderung ikut arus dan mudah dimanipulasi oleh otoritas.

Sistim pendidikan yang melahirkan generasi yang taat buta bermuara pada terciptanya masyarakat penurut. Herbert Marcuse memberi nama pada kelompok masyarakat demikian sebagai ‘masyarakat satu dimensi’ (One-Dimensional Man). Mereka kehilangan kesadaran dan daya kritis pribadi. Mereka sedemikian tenggelam dalam globalisasi dan kemajuan ekonomi kapitalis tanpa mampu melihat sistim penindasan internalnya. Dimensi kritisnya hilang sedangkan dimensi ‘ketaatan butanya’ menguat. Dalam situasi seperti ini, mereka tidak lagi mempertanyakan realitas di sekitarnya; tepat seperti gambaran sebuah ruang kelas yang tidak mengizinkan para siswanya bertanya atau mempertanyakan ajaran dari sang guru selain menerimanya dengan senyum dan anggukan manis. Inilah gambaran masyarakat berdimensi satu; dimensi ketaatan dan ketundukan.

Pembangkangan yang Kritis dan Etis

Sekolah dan para tenaga pendidikan tidak boleh merepresi siswa yang kritis. Justru sikap kritis adalah tujuan jangka panjang dalam sistim pendidikan. Sikap kritis yang dimaksud adalah kemampuan untuk mengembangkan analisis pribadi untuk melihat suatu alternatif atau opsi progresif dari realitas terberi (given reality).

Para peserta didik tidak sekedar menerima berbagai informasi atau pengetahuan secara sepihak dan menelan segala sesuatu tanpa filtrasi seadanya. Secara partisipatif, mereka perlu terlibat untuk menyuarakan aspirasi mereka dan mempertanyakan realitas terberi yang sedang mereka hidupi atau yang diajarkan. Dengan demikian, mengkritisi metode pengajaran guru, mendebat materi pelajaran atau membangun argumen menolak kebijakan tertentu oleh sekolah adalah bagian integral dari sistim pendidikan.

Pembangkangan kritis perlu diimbangi dengan etika-praktis. Lazimnya, sebuah kritik progresif bisa terjebak dalam kesesatan dan berakhir dengan penolakan bila disampaikan pada waktu yang tidak tepat dan dengan cara yang tidak etis.

Sekolah dan aktivitas dalam ruang kelas harus menyediakan atmosfer yang kondusif dan metode yang tepat untuk merangkul daya kritis siswa serta mengarahkannya sesuai standar norma yang berlaku. Pembangkangan yang ideal adalah pembangkangan yang etis.

Sekolah perlu merangkul para pembangkang pedagogik. Figur-figur seperti mereka adalah aset penting untuk menciptakan perubahan dan kemajuan di masa sekarang dan masa mendatang. Para pembangkang punya hak yang sama untuk menikmati porsi pendidikan kita. Mereka adalah generasi kritis yang perlu diakomodasi untuk merajut masa depan yang jauh lebih baik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya