Segalanya Fana, Kecuali Oligarki

Mahasiswa Terujung
Segalanya Fana, Kecuali Oligarki 04/08/2020 782 view Politik brilio.net

Dalam catatan sejarah perjalanan panjang umat manusia, telah ditunjukkan secara terang benderang pada kita semua, bahwa tak ada satupun yang abadi di semesta ini.

Sistem pemerintahan dalam suatu negeri dapat mati, dan diganti sistem lain; manusia yang mengaku paling kuat, tangguh, dan dapat menentukan kematian orang lain, akhirnya juga akan menjadi mayat. Bahkan agama di suatu negeri sekalipun dapat padam, dan diganti cahaya agama lain.

Akan tetapi, hukum fana tersebut tidak berlaku untuk oligarki. Karena, oligarki selalu muncul dan dapat tumbuh di mana saja; baik dalam sistem pemerintahan duniawi (monarki, otoriter, dan republik), maupun kekuasaan yang didirikan atas dasar fondasi agama.

Tidak dapat dipastikan, sejak kapan sistem oligarki muncul dan berkembang di dunia. Kemungkinan paling besar, oligarki telah berusia ribuan tahun: sejak manusia mengenal kekayaan dan kekuasaan. Atas dasar itu muncullah konsentrasi kekayaan, dan kekuasaan, yang dipegang oleh sedikit orang, dari kebanyakan manusia, yang kita kenal dengan nama oligarki.

Bukan hanya konsentrasi kekayaan dan kekuasaan. Dalam kehidupan beragama muncul konsentrasi baru, yaitu konsentrasi keyakinan. Terutama dalam Islam –karena saya Muslim, maka saya hanya dapat memberi contoh kasus yang dekat dengan saya-.

Hari-hari ini banyak sekali anak-anak kiai, yang merasa suci, karena amal perbuatan bapaknya. Ketika, doktrin oligarki tersebut telah masuk dalam paradigma masyarakat awam. Maka saat itu pulalah, mereka yang mengaku keturunan orang mulia ini, merasa harus dihormati, dijunjung, dan diberi fasilitas ibadat yang lebih unggul dari manusia lainnya. Begitu seterusnya, sampai pada cucu dan cicitnya. Kasus seperti ini akan acap sekali kita jumpai di Indonesia.

Entah sejak kapan pula konsentrasi keyakinan menjadi sifat alamiah umat Islam. Sebab, rasul tak pernah mengangkat pengganti, atau memberi tanda-tanda pada para sahabatnya, bahwa yang akan menggantikan posisinya sebagai pucuk pimpinan agama Islam, harus berasal dari keturunan dan sanak saudaranya. Tidak sama sekali.

Malahan yang dipilih oleh umat Islam, sebagai pengganti kepemimpinan Rasul, adalah Abu Bakar. Pilihan ini ditetapkan, bukan pula karena alasan kedekatan, tapi murni karena, Abu Bakar, adalah orang yang paling tabah, taat, berani mengambil resiko, dan pantas dijadikan panutan.

Sistem Islam yang berpedoman keputusan mufakat ini, juga hanya bertahan sebentar saja, setelah Umar bin Khatab mangkat. Sistem pemerintahan Islam, perlahan tapi pasti mulai digerogoti oleh sifat oligarki, bahkan mencapai kesempurnaan pada masa khilafah, yang diambil berdasarkan garis keturunan (Bani Umayyah, Abbasyah, dan sebagainya).

Oligarki dan Penindasan

Dalam lajunya arus perubahan dalam samudera kehidupan manusia, oligarki tetap menampilkan eksistensi, bahwa ia adalah zat yang paling bertahan dari segala bentuk evolusi.

Meskipun akan selalu ada usaha untuk menghapusnya dari muka bumi, pada akhirnya oligarki tetap akan muncul dan tumbuh, di tempat ia dimusnahkan. Tanpa tumbuh pun, oligarki tetap mampu terus hidup di bawah tekanan, sampai ia berhasil menjungkirbalikkan ideologi yang berani menentangnya.

Tanyakan hal itu pada pemikir kiri yang menentang konsentrasi kekayaan (kapitalis), pemikir liberal yang melawan konsentrasi kekuasaan (monarki absolut), dan ortodoks yang ingin memusnahkan konsentrasi keyakinan (penyelewengan trah ke-ulamaan). Angan-angan kemurnian mereka selalu berhasil dipatahkan oleh sifat oligarki.

Tanyakan juga hal serupa pada bangsa Indonesia, bagaimana upaya mereka untuk merubuhkan Soeharto dan kekuatan oligarkinya, pada akhirnya menjadi sia-sia, setelah civil-society yang mereka impikan, sebagai pemutus mata rantai oligarki dalam diri Jokowi, justru berubah menjadi oligarki tulen. Hal itu semakin memperkuat argumen, bahwa segalanya fana, kecuali oligarki.

Kecil sekali kemungkinan ada hal-hal baik yang dapat dipetik dari sifat oligarki. Sebab, sepanjang sejarah, oligarki lebih banyak mendatangkan malapetaka bagi kehidupan umat manusia, secara keseluruhan, ketimbang sucakita. Perhatikan, bagaimana konsentrasi kekayaan, membenamkan banyak orang dalam lubang kemelaratan; bagaimana konsentrasi kekuasaan mengubur banyak nyawa orang dalam liang lahat; lihat juga bagaimana konsentrasi keyakinan, menjerumuskan pengikutnya dalam jurang kebodohan.

Penindasan demi penindasan yang disebabkan oleh sifat oligarki, terus datang silih berganti. Tak ada habisnya. Orang-orang yang mati kelaparan, karena mengais sesuap rezeki dari remah kekayaan sedikit pengusaha; kumpulan manusia, yang mati karena menentang dan membela kekuasaan; dan sehimpun umat beragama yang berkalang tanah, karena dijadikan martir untuk memperkokoh kedudukan pemimpin agamanya: barangkali sudah jutaan jumlahnya. Tak perlu diperdebatkan data-datanya, sebab hal ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan para aktivis.

Dari semua kekacauan yang didatangkan oligarki; dari sekian banyak nyawa yang melayang karena berani mengacaukan rencana, mereka yang bersifat oligarki. Ada satu hal yang dapat kita ambil; bagaimanapun kokohnya akar oligarki, kita harus terus melawan, hingga sifat oligarki dapat tercerabut dari akarnya.

Cita-cita untuk menyatukan kembali jurang pemisah antara sedikit orang yang menguasai, dengan masyarakat banyak, yang disebabkan oleh sifat oligarki, harus terus tetap hidup selamanya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya