Satu Kelahiran Bayi, Satu Amanat Lagi

PNS BKKBN
Satu Kelahiran Bayi, Satu Amanat Lagi 23/10/2019 3193 view Lainnya

“Alhamdulillah, telah lahir anak kami laki-laki, panjang 50 cm, berat 3,2 Kg, normal, pada tanggal 22 Oktober 2019, di rumah sakit Ibu dan Anak”, kalimat itu adalah pesan yang muncul di layar hp saya melalui whatsapp group.

Tentu saja pesan kelahiran teman saya tersebut disambut gembira oleh semua anggota group. Namun patut kita renungkan bersama bahwa di balik satu kelahiran bayi ada konsekuensi logis dibelakangnya. Yaitu kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi sejak bayi menghirup oksigen pertama kali hingga kelak ketika bayi tersebut menjadi remaja, dewasa dan seterusnya.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain adalah kebutuhan yang berkaitan dengan kebutuhan pokok seperti makan dan juga pakaian. Lama-kelamaan kebutuhannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia si kecil.
Akan muncul kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, taman bermain dan juga kebutuhan sosial lainnya yang makin banyak dan berkembang. Untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut diperlukan biaya yang tidak sedikit.

Saya tidak meragukan kapasitas teman saya tersebut dalam mencukupi kebutuhan hidup anaknya yang baru terlahir di dunia ini karena ia adalah seorang yang mapan secara ekonomi. Tetapi bagaimana jika kemudian ada keluarga-keluarga Indonesia yang tidak seberuntung teman saya tersebut, di mana secara ekonomi juga pas-pasan sehingga mempengaruhi pertumbuhan si bayi?

Tidak dapat dipungkiri bahwa di Indonesia masih terdapat angka sebesar 30,8 persen anak yang tumbuh menjadi stunting. Ini berarti 1 dari 3 anak di Indonesia mengalami kejadian stunting (Riset Kesehatan Dasar, 2018). Angka yang sesungguhnya cukup tinggi.

Stunting adalah kejadian tubuh pendek pada anak yang berada di bawah standar normal yang diakibatkan oleh kondisi kurang gizi yang telah berlangsung dalam waktu lama. Kekurangan gizi tersebutlah yang kemudian membuat pertumbuhan tinggi badan anak terhambat. Anak-anak tersebut menjadi lebih pendek jika dibandingkan dengan teman sebayanya berdasarkan umur kronologisnya.

Pemerintah sebenarnya telah melakukan upaya dalam menekan kejadian jumlah kasus stunting tersebut melalui program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Program ini menyasar keluarga-keluarga yang memiliki baduta dan ibu hamil untuk lebih memperhatikan kebutuhan gizi selama kehamilan hingga dua tahun usia bayi, agar kelak tinggi si kecil tumbuh normal sesuai dengan usia kronologisnya.

Melalui program tersebut, diharapkan keluarga-keluarga Indonesia memiliki kesadaran mengenai pentingnya pemenuhan gizi untuk ibu hamil dan ibu yang memiliki bayi sehingga persoalan stunting bisa teratasi.

Tetapi apakah dengan terpenuhinya gizi dan hilangnya stunting, persoalan tumbuh kembang anak kemudian selesai?

Tentunya kita tak menghendaki bahwa anak tumbuh besar, fisik kuat, montok karena terpenuhi gizi namun perkembangan secara psikis dan sosial kurang optimal, sehingga muncullah anak yang asosial.

Kita tak menghendaki anak-anak tumbuh dengan rasa percaya diri rendah, tidak menghormati perbedaan, mudah marah, merasa superior atau interior, suka menghina, mengejek, mencemooh, kurang menghargai orang lain, tidak menghargai perbedaan, berjiwa pengecut, mudah putus asa dan lain sebagainya.

Anak-anak seperti ini bisa jadi tidak ada persoalan dengan pertumbuhan fisik. Namun mereka memiliki persoalan dari sisi perkembangan psikis dan sosialnya. Bisa jadi ini dipengaruhi oleh faktor pengasuhan dari orang tua dan keluarga serta lingkungan yang kurang mendukung terhadap tumbuh kembang anak dari sisi psikis dan sosialnya.

Berita mengenai kasus perundungan terhadap anak bernama YSS beberapa waktu lalu yang mengakibatkan YSS bunuh diri akibat perundungan adalah salah satu contoh bahwa pertumbuhan fisik yang sempurna namun tidak diiringi dengan pertumbuhan psikis dan sosial akan merugikan anak itu sendiri.

Dari sisi korban, karena kurang memiliki pertahanan diri dan rasa percaya diri yang rendah sehingga ketika diolok-olok oleh teman-temannya, ia merasa malu dan putus asa. Ia tak menemukan pemecahan masalah dari persoalan yang dihadapinya. Akhirnya dia menemukan jalan keluar untuk mengatasi persoalan itu dengan mengakhiri hidupnya melalui jalan bunuh diri. Sesuatu yang patut kisa sesalkan bersama. Anak ini secara fisik normal, namun secara psikis dan sosial mungkin saja lemah.

Adapun untuk yang melakukan perundungan, meskipun mereka tumbuh sempurna secara fisik namun secara psikis dan sosial masih perlu dipertanyakan. Jika tumbuh secara baik perkembangan psikis dan sosialnya, ketika melihat kawannya lemah pada satu sisi kehidupan karena persoalan yang menderanya bukan kemudian harus dibully atau diolok-olok tapi seharusnya diberi dukungan dengan memberikan support agar teman yang memiliki kekurangan dan masalah tersebut tidak minder, rendah diri, malu tetapi percaya diri menghadapi persoalan yang dihadapinya.

Teman-temannya yang tahu kelemahan dan persoalan si anak harusnya memberikan dukungan secara moral bukan justru semakin menjatuhkannya dengan melakukan perundungan. Anak-anak yang suka melakukan perundungan tersebut mungkin secara fisik juga normal, namun secara psikis dan sosial bisa jadi perkembangannya kurang optimal.

Dan... ketika artikel ini hampir selesai ditulis, waktu hampir subuh. Dari rumah tetangga terdengar sayup-sayup suara bayi menangis. Lalu sadar, tadi siang tetangga kami melahirkan lagi anak perempuan. Anak ini adalah anak kelima yang terlahir dari seorang ibu berumur 30 puluhan tahun dengan jarak kelahiran dari anak sebelumnya kurang dari 2 (dua) tahun.

Satu kelahiran bayi lagi. Satu pekerjaan rumah yang merupakan amanat agar kelak bayi tersebut tumbuh secara sempurna baik fisik, psikis maupun sosialnya. Semoga kita bisa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya