Satu Jam Momen Berharga Setelah Salat Id

Mahasiswa PBSI UNJ 2022
Satu Jam Momen Berharga Setelah Salat Id 09/05/2024 68 view Agama Pixabay/Mohamed_hassan

Hampir seluruh umat Islam menganggap tanggal 10 April 2024 (1 Syawal 1445) adalah hari kemenangan. Hari di mana mereka berhasil melewati 29 hari untuk menahan diri makan dan minum, serta hawa nafsu lainnya selama kurang lebih13 jam seharinya. Sebagian mereka yang taat malah ada yang menahan hawa nafsunya seperti emosi, seks, dan lain-lain selama seharian. Biasanya agar lebih afdol mereka melakukan i'tikaf di musala atau di masjid.

Kalau begitu, bukankah yang patut disebut hari kemenangan itu adalah hari-hari di mana kita berhasil menahan diri tersebut?

Sebenarnya apa pun istilahnya, mau 1 Syawal itu dibilang hari kemenangan atau hari apa, saya ora urus. Yang jadi perhatian saya adalah setiap orang terlihat baik dan ramah di hari itu. Setelah menyelesaikan salat idul fitri mereka mendatangi rumah tetangga satu persatu. Di sinilah yang menarik dari hari itu.

Banyak dari mereka yang bisa menutup rapat-rapat pagar dan mengunci pintu rumahnya sekarang membuka selebar-lebarnya, dan ikhlas mereka memberikan uang pecahan lima ribu atau sepuluh ribu rupiah kepada anak-anak kecil. Mereka pun juga ikhlas, hidangan mereka di makan oleh orang lain yang bukan saudara sedarahnya.

Belum lagi saat di jalan mereka saling bersalaman dan saling memaafkan. Mereka bersalaman dengan orang yang di hari biasanya tidak pernah bertegur sapa, bahkan kadang dengan orang yang mereka tidak kenal.

Apakah dalam benak mereka timbul pertanyaan: apa, ya salah saya. Mengobrol saja saya tidak pernah, terus sama yang satu lagi kenal saja tidak. Terus saya minta maaf apa, ya?

Dari kejadian bersalaman dan memaafkan dengan siapa saja, setidaknya mengingatkan kita bahwa kita manusia tidak luput dari kesalahan. Mungkin tanpa sadar, kita pernah melakukan kesalahan kepada orang tersebut. Kalau kita saling memaafkan dengan orang yang tidak kenal, siapa tahu ini bisa membangun hubungan baik untuk ke depan. Bisa saja besok atau kapan kita ditakdir berteman dengannya. Wallahualam.

Mencoba Menghargai Momen Kecil

Bagi sebagian orang, momen lebaran akan bertahan selama seharian penuh. Bertemu tetangga, bertemu saudara, mengobrol dan tertawa, serta banyak hal lainya lagi. Namun bagi saya, momen lebaran hanya bisa saya rasakan kurang-lebih satu jam setelah salat Id. Momen tersebut hanya bisa saya rasakan ketika bersalam-salaman dengan tetangga saya. Kenapa begitu?

Ada dua hal yang membuat momen lebaran saya tidak bertahan lama. Satu, saya tinggal dalam rumah yang besarnya tidak lebih dari 4x4 meter. Rumah saya tidak pernah didatangi tamu lebaran untuk bersalam-salaman. Bagaimana mereka mau datang, rumah saya saja ada di gang kecil buntu yang lebar tidak sampai satu meter. Lebih tepatnya malah gang rumah saya itu seperti gua, karena di atas gang sempit itu ada rumah orang lagi.

Kalian bisa bayangkan betapa sumpeknya rumah saya. Dengan luas rumah saya yang tidak lebih 4x4, maka ruang tamu, ruang tidur, dan dapur jadi satu. Kesannya keren dong jadi satu ruang multifungsi gitu. Endasmu meletus! Keluarga saya berisi empat orang. Nah, bayangkan saja gimana keluarga saya tidur. Dempet-dempetan kaya sarden dalam kaleng. Belum lagi, kalau ibu saya sedang masak, rasanya saya ingin berteriak minta ampun.

Balik lagi ke masalah lebaran. Terus saya mau terima tamu bagaimana?

Lagi pula keluarga saya, setiap tahunnya belum tentu masak ketupat, opor, rendang. Jadi, keluarga saya mau kasih apa? Kasih makanan ringan? Makanan ringan itu saja keluarga saya dikasih sama tetangga.

Kedua, saya tidak punya saudara di daerah dekat rumah. Nah, biasanya setelah selesai bersalaman dengan orang lain, abis itu tetangga saya akan kumpul dengan saudara-saudaranya. Ada yang langsung bertandang ke rumah saudara-saudaranya. Ada juga yang sibuk mengurusi saudara-saudaranya yang datang bertamu.

Boleh dibilang, saya iri dengan tetangga saya. Maka, setelah selesai bersalam-salaman dan mengobrol sebentar, ada perasaan sepi, kosong, dan terasing yang mengganjal di hati saya. Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, momen ini juga harus saya disyukuri.

Walaupun rumah saya cuma sepetak, lalu letaknya di gang buntu yang mirip goa, dan ditambah lagi tidak dapat menerima tamu karena tidak ada makanan lezat yang tersedia. Saya harus menghargai momen satu jam setelah salat Id. Meskipun, sehabis itu saya tidak bisa mengadakan pertemuan keluarga besar.

Semoga Tuhan senantiasa memberkahi keluarga saya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya