Satir Warung Kopi

Penulis
Satir Warung Kopi 17/11/2019 4660 view Lainnya Flickr.com

Hari ini tiba-tiba saya teringat percakapan saya dengan adik saya di warung kopi tentang pernikahan yang belum pernah kami alami sebelumnya. “Sekarang itu pernikahan bukan tentang dulu-duluan menikah dan punya anak, menikah adalah tentang bagaimana membina kehidupan rumah tangga dengan komitmen yang kuat sehingga keduanya merasa nyaman dan berbahagia mencapai tujuan bersama”. Bahkan dia menimpali, “Bukankah angka kelahiran Indonesia sekarang sudah banyak, memiliki bayi tentu bukan tuntutan dalam sebuah pernikahan.”

Saya terhenyak dengan pola pikirnya yang sungguh berbeda dengan orang kebanyakan. Benar saja, seusai dengan proyeksi data angka kelahiran dan kematian penduduk BPS tahun 2010-2035, angka kelahiran penduduk pada tahun 2035 diperkirakan mencapai 4.3 juta jiwa sedangkan angka kematian meningkat ke 2.7 juta jiwa. Sedangkan untuk tahun 2020, angka kelahiran yang terproyeksi adalah sebesar 4.7 juta jiwa dengan angka kematian mencapai 1.8 juta jiwa.

Menarik lagi ketika proyeksi tersebut dikaitkan dengan hasil survei jumlah penduduk Indonesia menurut kelompok umur dan jenis kelamin 2019 dari Bappenas. Diketahui bahwa jumlah penduduk dengan kelompok umur 0-14 tahun telah mencapai 24% dari total populasi, atau sekitar 66.17 juta jiwa, sedangkan penduduk dengan usia produktif 15-64 tahun mencapai 68.7% atau sekitar 183.36 juta jiwa. Dengan jumlah total penduduk Indonesia sekitar 270.6 juta jiwa (Worldometers, 2019).

Bila melihat data tersebut, secara global, Indonesia akan segera merasakan bonus demografi, yaitu usia produktif memiliki persentase yang besar dibandingkan penduduk usia non produktif. Pola pikir banyak anak banyak rejeki, menurut saya juga harus diimbangi dengan kualitas anak yang dapat kita didik dalam keluarga yang kita bangun. Kualitas yang dimaksud adalah kualitas kesehatan, kualitas gizi, kualitas pendidikan hingga kualitas lingkungan tempat tinggalnya nanti.

Melihat kondisi sekarang dimana tinggal 6.51% kelompok usia tidak produktif, dimana kelompok penduduk ini bisa jadi adalah tante, om, pakde, bude, opung, mbah atau orang tua kita sendiri. Sehingga tentu ada desakan halus yang tersirat dalam keseharian. Ketika belum menikah, ditanya kapan menikah. Ketika sudah menikah ditanya kapan punya anak. Ketika masih kontrak sana sini, ditanya kapan beli rumah.

Ingat, desakan tersirat itu bukan sebuah keharusan, karena bagaimanapun komitmen kita dan pasangan untuk menyediakan akses terbaik bagi anak dan kehidupan kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Tak apa kiranya kalau ingin menampik dengan halus atau mengeles dengan jawaban “Doakan saja ya tante, om, pakde, bude,…”

Sehingga, bila dikaitkan dengan akan diterapkannya kebijakan pemerintah tentang sertifikasi pra nikah hal itu perlu. Kalau bisa diberikan pula tempat-tempat pelatihan keterampilan agar pasangan yang menikah tersebut tercukupi secara finansial bukan hanya tentang wawasan reproduksi dan kesehatan saja. Mengingat, masih banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga atau pun kasus salah satu pasangan lari dari rumah sehingga pasangan yang ditinggal ini menghidupi anak mereka sendiri tanpa bekal pendidikan dan keterampilan yang cukup. Miris.

Kemudian, percakapan kami berlanjut dengan membahas Presiden Taiwan, President Tsai Ing-Wen. Beliau adalah president wanita pertama di Taiwan yang merupakan politikus dan profesor di bidang hukum dari partai democrat progresif (Democratic Progressive Party). Menurut saya beliau menarik karena kebijakan ekstrim yang diambilnya selain melegalkan pernikahan sejenis adalah transisi energi hijau.

--
Dengan kehidupan laboratorium jurusan saya yang sudah seperti bilik warnet (warung internet) pada jamannya, saat bosan saya berbincang dengan rekan lab saya. Rekan saya ini berkata bahwa kebijakan itu terdengar baik tentunya untuk meningkatkan elektabilitas Presiden Tsai di dalam dan luar Taiwan, apalagi dikaitkan dengan isu perubahan iklim yang mendunia. Namun bagi para praktisi dan akademisi, kebijakan tersebut terlalu khayal, dimana infrastruktur untuk menyalurkan penetrasi energi surya dan angina yang meningkat hingga 10 kali lipat dapat membuat gangguan di sistem proteksi. Walaupun benar, penetrasi energi tersebut dapat meningkatkan kuantitas energi secara marjinal sehingga Taiwan dapat lebih mandiri energi tanpa menggunakan lagi pembangkit listrik tenaga nuklirnya.

--
Percakapan saya berlanjut dengan adik saya. “Presiden Tsai mungkin kurang tahu tentang isu infrastruktur akibat kebijakan transisi energi tersebut, tapi dia berani tetap mengambil langkah tersebut, akhirnya berjalan, dan dirasakan sekarang oleh pihak akademisi dan institusi yang lebih diberi ruang untuk mencari solusi agar kebijakan tersebut bisa terlaksana”.

Adik saya menimpali, “jelas beliau berani, kan beliau tidak punya anak, ibarat kata kalau ada ancaman, ancaman tersebut cuma akan menyakiti dia, berbeda dengan Menteri Sri Mulyani, beliau pintar, cerdik dan selalu punya isu strategis, tapi beliau punya keluarga yang tentu menjadi bahan pertimbangan.”

Benar juga, apakah untuk menjadi idealis berarti harus menjadi “lone wolf” ataukah ada cara lain untuk menjembatani idealism, profesionalisme dan komitmen dalam berkeluarga. Akhirnya, percakapan kami berakhir dengan pertanyaan yang menggantung yang mungkin akan terjawab ketika kami telah berani berkomitmen nanti.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya