Sapa Penulis #7 Eri Hendro Kusuma: Intermediate Writer Bidang Pendidikan

Admin The Columnist
Sapa Penulis #7 Eri Hendro Kusuma: Intermediate Writer Bidang Pendidikan 09/05/2021 318 view Sapa Penulis Eri Hendro Kusuma

Sebuah kehormatan bagi The Columnist dapat berkesempatan menyapa para penulisnya. Pada kesempatan kali ini. The Columnist kembali bertukar sapa dan berdiskusi bersama salah satu diantaranya, yaitu Eri Hendro Kusuma.

Di sapa penulis kali ini, beliau akan berbagi pengalaman dan tips menulis di bidang pendidikan. Disajikan secara ringan namun membawa pesan serta pengalaman yang dapat bermanfaat bagi para intermediate writer. Mari kita simak wawancara The Columnist bersama beliau.

Selama Siang Bapak Eri Hendro Kusuma, terima kasih telah menyempatkan waktu luang di tengah kesibukkanya sebagai seorang guru. Sebelumnya mungkin bisa diceritakan sekilas mengenai profil Bapak?

Saya lahir di Kabupaten Malang Pada tanggal 21 April 1989, saya kuliah di Universitas Negeri Malang dengan mengambil jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Sehabis menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah yang kira-kira saya selesai selama rentang waktu 4 tahun yaitu pada tahun 2008-2012, saya bekerja di beberapa perusahaan swasta. Kemudian saat ini saya mengabdikan ilmu saya dengan menjadi guru di SMP Negeri Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu. 

Sejak kapan mulai menulis dan bagaimana bapak belajar menulis?

Sebenarnya saya aktif menulis mulai tahun 2012 di jurnal jurusan tempat saya menimba ilmu. Namun saya pikir-pikir menulis di jurnal jurusan itu pembacanya terbatas dan sedikit. Maka seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi maka akhirnya saya menulis di media lokal seperti Malang Pos kemudian berangsur-angsur juga menulis ke media-media online. 

Keinginan saya menjadi penulis sebetulnya berawal dari angan-angan saya sebab sejak kelas 3 Sekolah Dasar (SD) saya sudah bekerja menjual koran dan sering membaca koran-koran tersebut. Dalam angan-angan saya suatu saat nanti saya pasti bisa mengisi tulisan di kolom koran-koran yang saya baca sebelum saya jual tersebut.  

Jadi bisa dikatakan bahwa saya belajar menulis secara otodidak. Saya juga belajar menulis pada kolom forum mahasiswa media di Universitas tempat saya belajar. 

Sudah berapa banyak artikel opini yang sudah Bapak terbitkan? dan dimana saja tulisan tersebut diterbitkan? 

Tulisan saya tersebar di beberapa media kira-kira sudah mencapai 50 artikel. Beberapa tulisan opini tersebut sudah dimuat antara lain di Detik.com, Times Indonesia, Malang Post, Tegas.id dan tentunya di The Columnist.id 

Bapak sering mengangkat tema tentang pendidikan di Indonesia? Kenapa demikian? Apa menariknya? dan ada apa dengan pendidikan di Indonesia? 

Pertama, dunia pendidikan memang adalah dunia saya, artinya saya adalah seorang guru pengajar dan sekaligus pendidik. Jadi tulisan mengenai tema-tema pendidikan dipengaruhi oleh cerita keseharian saya yang bergelut di dunia pendidikan.

Kedua, dengan menulis itu berarti kita mengingatkan kepada pemerintah dan juga mengingatkan diri kita sendiri bahwa masih banyak persoalan dan “Pekerjaan Rumah” di dunia pendidikan yang belum terselesaikan. 

Ketiga, menulis soal pendidikan merupakan suara kegelisahan saya terhadap dunia pendidikan itu sendiri,  ada seuatu yang mengganjal di dalam pikiran dan hati saya. Sering kali teman-teman membandingkan pendidikan kita dengan luar negeri. Di luar negeri pendidikannya sudah maju kok di dalam negeri pendidikan masih seperti itu-seperti itu saja ya. 

Keempat, persolan di dunia pendidikan itu dari dulu juga sudah ada namun hingga kini juga belum bisa diselesaikan, contoh persoalannya itu seperti guru honor yang nasibnya tak tentu, tugas guru yang lebih banyak pada persoalan administrasi hingga lupa pada tugas utama yaitu mengajar siswa, hingga kepada idealisme guru itu sendiri yang kadang sudah materialistis, oppurtunis dan pragmatis bukan sekedar mengabdi seperti guru-guru jaman dahulu. Walaupun harus kita akui sebenarnya masih banyak juga guru-guru muda yang memiliki idealisme tinggi untuk mendidik dengan sepenuh hati. 

Menurut Bapak, bagaimana kurikulum di Indonesia saat ini? 

Menurut saya kurikulum di Indonesia sudah bagus, cuma penerapannya kadang yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah kurikulum yang ada. Kadang tidak nyambung karena penafsiran guru pada tingkat praktek di lapangan berbeda-beda. 

Bagaimana dengan pembejaran online saat pandemi corona seperti ini? 

Menurut saya pembelajaran online saat ini adalah keterpaksaan saja. Artinya Indonesia belum siap untuk pembelajaran online. Ketidaksiapan itu baik dari sisi siswa, guru ataupun juga metodenya yang belum matang. Sebagai seorang guru meskipun diwajibkan pembelajaran sistem online saya masih sering berkunjung ke rumah-rumah siswa untuk memberikan pelajaran agar lebih mengena. Tentu dengan menerapkan protokol kesehatan  yang ketat. 

Ketidaksiapan siswa itu, karena mereka belum terlatih atau tidak memiliki karakter untuk belajar mandiri, mereka masih membutuhkan pembelajaran tatap muka di kelas.Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) seperti saat ini, tentunya berbeda dengan home schooling yang sudah memiliki sistem tersendiri, misalkan dari jumlah siswanya di mana 1 (satu) orang siswa 1 (satu) orang guru, sedangkan jika di sekolah formal 1 (satu) guru harus mengajar lebih dari 30 (tiga puluh) siswa, dan banyak lagi faktor-faktor yang lain. 

Bapak bisa membuat tulisan runut, menarik dan enak dibaca, kemampuan ini Bapak dapatkan dari mana? 

Untuk bisa menulis tentu harus banyak membaca.....membaca dan terus membaca....dan kemudian kita lanjutan dengan menulis....menulis dan terus menulis....lalu kita coba kirim ke media untuk menghilangkan rasa penasaran kita. 

Adakah saran dari Pak Eri mengenai tips-tips bagi penulis pemula, khususnya yang berprofesi sebagai pendidik, untuk menghasilkan tulisan yang baik?

Bagi penulis pemula tips yang saya berikan adalah harus rajin membaca, mencoba untuk menulis dan terus menulis kemudian dikirim ke media massa atau media online. Menurut saya The Columnist.id bisa dimanfaatkan untuk belajar mengirimkan tulisan yang bagus, karena di The Columnist.id setiap tulisan yang tidak langsung dimuat akan diberi komentar mengenai kekurang-kekurangan dan bisa dikirim kembali. Ini adalah media satu-satunya yang saya kenal yang memberikan komentar pada setiap kekurangan tulisan kita. The Columnist.id cukup jeli, tidak asal muat tulisan. Kepada penulis pemula selamat mencoba. 

Apa harapan Bapak untuk The Columnist.id dan para intermediate writers?

Harapan saya kepada The Columnist.id tetap terus berkembang, terus melakukan regenerasi karena regenerasi itu penting untuk keberlanjutan sebuah media agar tidak mati. Konsep The Columnist.id tetap bagus karena tulisan yang ditolak ada catatan kekurangan apa dan ke depan semoga The Columnist.id dapat terus menjaga pertumbuhan demokrasi agar tetap baik. 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya