Sapa Penulis #6 Meidiana Pairuz: Intermediate Writer Bidang Statistik Sosial dan Pertanian

Admin The Columnist
Sapa Penulis #6 Meidiana Pairuz: Intermediate Writer Bidang Statistik Sosial dan Pertanian 04/04/2021 48 view Sapa Penulis Keep Me Blogs

Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi The Columnist dapat berkesempatan menyapa para penulisnya. Pada kesempatan ini The Columnist kembali berbincang-bincang dan berdiskusi dengan seorang ibu penulis muda berbakat dan juga seorang ASN di Badan Pusat Statistik Kabupaten Kuantan Singingi. Di sela-sela kesibukan beliau yang adalah seorang ASN dan sekaligus juga ibu rumah tangga bersedia menerima wawancara kami. Dialah ibu Meidiana Pairuz.

Pada kesempatan ini beliau akan berbagi tip mengenai kepenulisan esai dan opini terutama di bidang statistik sosial dan pertanian dan tak ketinggalan juga mengenai persoalan gender dan perempuan. Disajikan dengan ringan namun membawa pesan penting dan bermanfaaat bagi para milineal. Mari kita simak wawancara The Columnist bersama ibu muda penuh talenta ini. 

Selamat sore ibu Meidiana Pairuz, terima kasih telah menyempatkan waktu di tengah kesibukannya. Sebelumnya, mungkin bisa diceritakan sekilas profil ibu?

Nama saya Meidiana Pairuz. Saya tamatan Sekolah Tinggi Ilmu Stastistik (STIS)  jurusan Komputasi Statistik pada tahun 2014. Setelah tamat saya langsung bekerja sebagai ASN di Badan Pusat Statistik Kabupaten Muaro Jambi di Seksi Statistik Sosial. Kemudian saya ditarik ke BPS Provinsi Jambi untuk membuat inovasi di BPS Provinsi Jambi.

Alhamdulillah saya sudah bebarapa kali membuat inovasi untuk BPS Provinsi Jambi. Salah satunya adalah aplikasi Statistik Jambi, yang sudah dua kali mendapatkan penghargaan sebagai Top 99 di Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik yang diselenggarakan Kemenpan RB, yakni pada tahun 2018 dan 2020.

Lalu saat ini karena mengikuti lokasi tugas suami, saya pindah ke BPS Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.

Sejak kapan mulai menulis dan bagaimana ibu belajar menulis?

Saya mulai menulis pada Bulan Januari 2021. Ketertarikan saya pada dunia tulis menulis awalnya karena bisa mendukung karir saya, sebab pada Bulan November tahun 2020 saya diangkat sebagai Fungsional Statistisi Ahli Pertama, yang mana salah satu pekerjaan yang mendapatkan angka kredit adalah menulis artikel/opini statistik di media. Kemudian lama kelamaan saya mulai tertarik dengan dunia tulis menulis, sehingga rutin menulis di The Columnist.

Sudah berapa tulisan yang ibu diterbitkan?

Untuk tulisan artikel sementara ini baru dimuat di The Columnist, ada delapan tulisan yang diterbitkan The Columnist, diantaranya berjudul "Fenomena Melimpahnya Janda di Masa Pandemi", "Menggenjot Sektor Pertanian", dan "Stunting, Tantangan Menghadapi Bonus Demografi". Kedepan saya juga bersemangat untuk mencoba menerbitkan tulisan saya ke media-media yang lainnya. 

Ibu sering mengangkat tema tentang Statistik Sosial, Statistik Pertanian, anak dan juga gender, kenapa demikian?

Saya melihat bahwa di sektor pertanian sebetulnya merupakan sektor yang memberikan kontribusi PDRB nomor dua di Indonesia, namun demikian sektor pertanian tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap tingkat kesejahteraan para petani di Indonesia karena sektor pertanian di dominasi oleh perkebunan sawit yang dimiliki oleh swasta. Sehingga sebagai negara agraris seharusnya pemerintah lebih mendongkrak subsektor pertanian lainnya seperti tanaman pangan dan hortikultura, agar kita dapat mensejahterakan petani kecil dan tidak melakukan import lagi. 

Adapun keterkaitan saya pada tema-tema statistik sosial seperti anak dan gender beranjak dari pengalaman saya selama menjadi ibu dan istri, serta mendengar curhatan sesama ibu dan istri.

Ketika pertama kali menjadi ibu saya sangat fokus belajar dan membaca jurnal-jurnal ilmiah tentang nutrisi anak, dan saya menyadari bahwa banyak kesalahan pemberian nutrisi pada anak yang terjadi di Indonesia. Saya ingin membagi pengetahuan tersebut kepada para ibu lainnya, alhamdulillah diberikan Allah Ta’ala kesempatan dengan menulis opini di The Columnist.

Sementara terkait gender, saya melihat bahwa banyak perempuan pekerja di Indonesia dan di sekitar lingkungan saya yang memiliki beban ganda. Melayani suami bagi saya tidak masalah karena itu adalah kewajiban istri, namun yang saya sedihkan adalah ketika di masyarakat, para orang tua sudah mulai menggeser budaya dan mendorong anak wanitanya untuk bekerja, namun para anak laki-laki belum terlalu ditekankan untuk bisa membantu mengurusi rumah tangga. Seharusnya ada kerja sama dan kesadaran  yang sama antara suami dan juga istri yang bekerja, yakni sama-sama bekerja dan saling membantu dalam mengurusi rumah tangga. Atau jika suami tidak bekerja, maka ia harus rela membantu sebagian besar urusan rumah tangga, agar istrinya tidak terlalu kelelahan.

Ibu bisa menarasikan angka-angka statistik yang kadang dianggap membosankan menjadi tulisan yang enak dibaca, berkualitas dan berbobot, dari manakah ibu mempelajari hal tersebut? 

Sewaktu saya duduk di bangku SMP dan SMA saya suka mengikuti perlombaan debat dan pidato dalam bahasa inggris hingga menjadi pendebat dan orator Bahasa Inggris terbaik di provinsi saya dan mengantarkan saya hingga perlombaan di tingkat nasional. Di pelatihan lomba pidato dan debat, kami sering diberikan isu-isu terkini secara acak yang kami tidak ketahui judulnya sebelumnya dan belajar untuk membangun argumen dengan menggunakan data. Data sangat penting bagi kami para pendebat, karena selain kemampuan mengolah kata-kata, kami juga menggunakan data untuk meyakinkan para juri dan mematahkan argumen lawan. Pengalaman debat dan pidato tersebut terbawa hingga menulis saat ini. Sehingga mungkin jika teman-teman perhatikan tulisan saya selalu terdiri dari pembukaan, permasalahan, dan solusi/kesimpulan yang dinarasikan dengan argumentasi-argumentasi dan didukung dengan data. Itu semua tidak terlepas dari ilmu pidato dan debat yang pernah saya dapatkan.

Selain itu, pekerjaan saya sebagai seorang ASN di Badan Pusat Statistik membuat saya lebih banyak terekspos dengan data, sehingga saya dapat mengetahui data-data apa saja yang tersedia dan dapat memperkuat opini saya.

Kemudian sebelum memulai menulis pertama kali di bulan Januari lalu, saya juga sering membaca dan mempelajari bentuk-bentuk tulisan artikel atau opini dari media-media massa seperti Kompas, Tempo, The Columnist dan sebagainya untuk mempelajari style tulisan apa yang paling sesuai dengan diri saya. 

Tips bagi penulis pemula untuk menghasilkan tulisan yang baik?

Menurut saya ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yang pertama adalah rajin membaca baik dari media massa, buku, maupun media online lainnya. Hal ini sangat penting untuk memperkaya pengetahuan dan informasi, karena pengetahuan dan informasi adalah salah satu senjatanya para penulis. Selain itu dengan sering membaca kita juga dapat terus mempelajari struktur, tema dan gaya bahasa para penulis yang sudah handal.

Lalu mulailah menulis dengan tema apa saja, bisa dari tema yang paling kita sukai atau tema yang terkait dengan pekerjaan kita. Kemudian ikut komunitas-komunitas menulis, dan yang terakhir jangan ragu untuk mengirimkan tulisan ke media manapun. 

Apa harapan ibu untuk The Columnist dan para intermediate writers?

The Columnist saya perhatikan sudah bagus manajemen, dikelola oleh orang-orang yang profesional, dan artikel/opini yang terbit pun bagus kualitasnya. Namun demikian kekuranganya pada sisi sosialisasi karena belum banyak yang tahu The Columnist, oleh karena itu sosialiasi ini perlu dikencangkan lagi, sehingga The Columnist akan semakin maju.

Sementara itu sebagai sesama intermediate writers di The Columnist, semoga kemampuan menulis kita semakin meningkat dan dapat menghasilkan karya yang bermanfaat untuk bangsa. 

Baik, terima kasih ibu atas waktunya dan kesempatannya di tengah kesibukannya sebagai ASN dan ibu rumah tangga. Semoga diskusi ini menjadi pelajaran berharga bagi sobat The Columnist dan para penulis lainnya. 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya