Sapa Penulis #4 Umbu TW Pariangu: Intermediate Writer Isu Korupsi

Admin The Columnist
Sapa Penulis #4 Umbu TW Pariangu: Intermediate Writer Isu Korupsi 13/05/2020 607 view Sapa Penulis Jawa Pos, 2019

Salah satu kebanggan dan kehormatan bagi The Columnist adalah menjadi tempat dimuatnya tulisan-tulisan dari kolumnis nasional, seperti Umbu Pariangu, penulis yang akan kita angkat profilnya pada rubrik Sapa Penulis kali ini. Kisah tentang koran bekas, perjumpaannya dengan penulis idola hingga pandangannya dalam memerangi korupsi dapat disimak dalam wawancara kami bersamanya berikut ini:

Selamat malam Umbu, senang sekali bisa berbincang bersama kamu. Sobat The Columnist ingin mengenal kamu lebih jauh. Mungkin bisa dimulai dengan menceritakan sekilas profil kamu?

Nama saya Umbu Pariangu. Saya sehari-hari mengajar di jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Nusa Cendana, Kupang sejak tahun 2016. Universitas ini juga menjadi almamater S1 saya, sedangkan pendidikan S2 saya selesaikan di Magister Kebijakan Publik UGM.

Sejak kapan kamu mulai aktif menulis?

Kalau dibilang aktif menulis memang saya sudah lama. Saya menulis pertama kali itu waktu masih kelas 2 SMK. Dulu saya bukan SMA, saya sekolah di SMK karena orangtua saya berharap setelah saya menyelesaikan SMK saya tidak harus kuliah, tapi sudah bisa langsung bekerja. Tapi karena guru-guru saya melihat saya punya potensi dan sempat mendapat beasiswa sejak dari SMK, maka saya lanjut terus ke universitas.

Nah, waktu di SMK itu saya sudah menulis dan pernah mengirimkan tulisan ke Pos Kupang, salah satu harian lokal yang terbit pertama kali di NTT waktu itu. Saya menulis di situ, kebetulan waktu itu ada kolom untuk pelajar yang berisi tentang kegiatan-kegiatan di SMA.

Pertama kali saya coba, ternyata langsung dimuat. Itulah yang menjadi titik awal saya mulai kenal dengan dunia tulis menulis dan bersemangat untuk menekuninya sampai saat ini.

Bagaimana cara kamu belajar menulis? Apakah otodidak atau ada mentor yang mengajari kamu?

Ayah saya itu dulu bekerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P & K) dan beliau sering bawa koran bekas ke rumah karena kantor ayah saya dulu berlangganan koran Kompas dan Pos Kupang. Awalnya saya tidak tertarik, tapi karena ayah saya sering baca-baca koran, saya jadi tertarik.

Setelah saya mulai baca-baca koran, ternyata asyik juga karena hal-hal yang saya dapatkan di sekolah, sebagiannya diulas juga di koran. Sehingga secara tidak langsung ikut memperkaya pengetahuan saya. Jadi saya akhirnya terbiasa membaca koran yang dibawa ayah saya setiap hari. Lagipula kami juga tidak punya banyak pilihan karena waktu itu di tempat kami bahan bacaan sangat minim. Oleh karena itu, kalau ayah saya bawa koran saya senang sekali karena itulah satu-satunya hiburan buat kami.

Di koran itu saya baca-baca juga kolom opini. Saya bilang, “Wah gila ini orang, bisa nulis seperti begini, bahasanya canggih-canggih.” Nah, dari situlah saya mulai menulis. Tetapi waktu saya baca apa yang saya tulis kok sepertinya tidak bagus. Meski begitu saya coba terus. Kemudian ketika sudah SMK itulah baru saya mengirim tulisan ke Pos Kupang itu.

Waktu itu saya mencoba gaya menulisnya orang-orang pintar di kolom opini Kompas. Sejak SMP saya sudah belajar mencoba-coba, tetapi belum berani kirim karena menurut saya tulisannya aneh dan lucu. Saya minta tolong ayah saya menilainya, ayah saya bilang masih banyak perbaikan.

Dari semua opini yang kamu baca pada waktu itu, adakah penulis yang akhirnya kamu idolakan?

Yang tidak pernah saya lupakan itu adalah tulisannya Eep Saefullah Fatah. Dulu dia sering menulis di kolom opini Kompas. Saya punya cerita menarik tentang itu.

Jadi selama kuliah dulu saya kan ngekost. Kebetulan jalan menuju kosan saya itu arahnya melewati perumahan dosen. Nah, dulu waktu pulang kuliah menuju kosan, saya lihat ada majalah bekas. Di dalamnya saya lihat ada opini dari Eep Saefullah. Saya tertarik sekali waktu itu. Tulisan itu kemudian saya robek, saya lipat dan simpan di saku celana. Dalam hati saya bilang, “Saya akan baca tulisan ini di kost nanti.”

Setelah sampai di kost, saya baca berulang-ulang. Saya bilang, “Asyik juga ini orang tulisannya.” Tulisannya sederhana, tapi satu hal yang tidak pernah saya lupakan dari karakter tulisannya itu, dia bisa menulis dengan cara yang menggelitik sehingga semua orang paham dan tertarik, entah itu ibu rumah tangga atau orang biasa. Itulah penulis yang sangat menginspirasi saya.

Dulu ketika saya S2 di Jogja, saya sempat bertemu dengan beliau. Namun sayangnya tidak dalam forum yang tepat (untuk ngobrol-ngobrol, red). Yah, tapi begitupun saya sudah puas karena dulu cuma bisa membaca tulisannya. Dan kami pun sempat bertukar nomor telepon.

Sejak itu, dulu ketika masa-masa awal saya mengajar di Undana, jika mendapat isu-isu terkait dengan isu lokal di NTT saya akan konsultasi dengan beliau. Bahkan buku pertama saya itu di-endorse oleh dia, judulnya Agama Baru Korupsi (2013) diterbitkan oleh Era Citra Media. Sayangnya buku itu sudah tidak terbit lagi. Saya tidak punya banyak karena waktu itu dicetak terbatas.

Selain Agama Baru Korupsi, buku apalagi yang telah kamu tulis dan terbitkan?

Ada buku Demokrasi Bertopeng tahun 2019 yang diterbitkan oleh Capiya. Kemudian yang segera akan terbit judulnya Elit Maling dan Politik Kapital, rencananya akan diterbitkan oleh Zifatama Surabaya.

Jadi kalau kami simpulkan, perjalanan kamu menulis berarti cukup panjang dan berliku ya. Walaupun ada banyak keterbatasan, tapi tidak menghalangi kamu untuk berkarya.

Ya begitulah. Saya berpikir kadang keterbatasan itu membentuk kita untuk mencoba mencari sudut pandang yang lain dalam menjalani hidup ini. Kadang dari kesusahan dan keterbatasan, kita dibentuk menjadi lebih baik.

Waktu zaman saya masih kuliah, menulis itu sesuatu yang menurut orang itu kuno. Jadi, bisa dibayangkan kalau di sekeliling saya itu tidak ada yang mendukung saya untuk bisa menulis. Dalam artian begini, kalau menulis itu kan terpaksa kita harus menyendiri dan merenung supaya bisa menghasilkan tulisan yang benar-benar berkualitas. Proses untuk menulis itu yang biasanya dianggap remeh oleh teman.

Terus terang saja, untuk menulis kita butuh support dari teman-teman, setidaknya mereka mengapresiasi karya kita. Atau kita punya teman-teman diskusi. Itu penting sekali untuk memperkaya argumen kita. Tetapi dulu saat kuliah jujur saya kurang mendapat dukungan. Saya justru mendapat dukungan dari dosen-dosen saya.

Jadi sampai saat ini tulisan kamu sudah diterbitkan di media mana saja?

Saya kira hampir semua media mainstream pernah menerbitkan tulisan saya, seperti Jawa Pos, Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Koran Sindo, Suara Pembaruan. Yang belum sepertinya cuma di Majalah Tempo saja, mungkin karena nama saya yang “kurang”.

Adakah tulisan yang diterbitkan di media asing?

Saya belum mencobanya, tapi rencana saya ke depan akan ke arah sana (mengirimkan tulisan ke media asing, red). Dulu pernah ada tulisan saya di Republika yang dialihbahasakan oleh mereka ke Bahasa Inggris. Aslinya berbahasa Indonesia, tapi kemudian mereka terjemahkan.

Dari semua pengalaman itu, insentif menulis pertama kamu didapat dari mana? Apakah saat SMK dulu?

Tulisan saya waktu SMK dulu tidak ada insentifnya karena memang sejak awal redaksi menekankan hal itu. Tetapi saya kira waktu itu tujuannya bukan untuk itu. Dulu waktu itu saya hanya ingin membuktikan bahwa tulisan saya bisa dimuat karena koran Pos Kupang waktu itu bergengsi sekali, satu-satunya koran di NTT sehingga orang berlomba-lomba untuk bisa “nongkrong” di sana.

Waktu itu saya langsung dikenal oleh guru Bahasa Indonesia saya. Dulu kebetulan dia langganan koran itu. Dia panggil saya pagi-pagi, lalu bilang ke saya, “Wah luar biasa, tulisan kamu bisa dimuat itu gimana caranya? Honornya berapa”

Yah, walaupun tidak dapat duit, saya bangga sekali karena bisa bersaing dengan anak-anak SMA lain di NTT. Dan sejak saat itu saya kebanjiran surat dari orang-orang karena waktu itu kan masih pakai surat-menyurat. Ada dari anak-anak SMA lain yang kirim surat ke saya, kenalan.

Tulisan-tulisan kamu banyak mengulas tentang isu korupsi, mengapa tertarik dengan tema tersebut?

Saya menulis tentang korupsi itu sejak saya kuliah (S1, red). Dulu di Kupang setelah ada Pos Kupang, muncul harian lain Timur Ekspress yang merupakan cabang Jawa Pos. Saya menulis ke situ kebanyakan tentang korupsi karena saat itu isu tersebut sedang hangat-hangatnya.

Tahun 2000-an ada banyak kasus tentang korupsi. Dulu masih banyak yang awam tentang apa itu korupsi. Orang mendengar kata korupsi itu seperti mendengar kejahatan yang wow sekali. Kalau sekarang kan beda. Magnitud korupsi di mata publik sekarang sudah tidak sebesar dulu. Selain itu, kebetulan tulisan pertama saya yang dimuat di Kompas juga tentang korupsi.

Saya ingat dulu waktu persiapan skripsi, dosen meminta kami untuk mengajukan judul. Nah, saya pakai korupsi itu sebagai judul skripsi. Dulu ditertawakan oleh dosen, dia bilang “Kamu nanti cari datanya gimana nanti, susah”. Tapi mereka bilang tema skripsi saya bagus, hanya saja saya akan kesulitan mencari datanya. Akhirnya saya ganti judulnya.

Dari sudut pandang kamu, bagaimana caranya memberantas korupsi di Indonesia?

Strategi yang bisa dipakai, yang pertama tentu saja edukasi dulu ke masyarakat tentang apa korupsi itu. Masyarakat harus diberikan pencerahan bahwasannya penyakit korupsi itu sesuatu yang tidak biasa lagi. Korupsi itu terkait dengan hak hidup kita sebagai rakyat. Itu sangat penting sekali untuk diedukasi ke masyarakat agar mereka juga paham bahwa korupsi itu dekat sekali dengan kita.

Selama ini kita mungkin menganggap bahwa korupsi itu miliknya para petinggi, pejabat dan sebagainya. Sebenarnya korupsi itu kan sangat dekat sekali dengan persoalan kita. Tiap hari kita dihadapi dengan warna persoalan yang selalu saja ada bau korupsi, dari ketidakdisiplinan, manipulasi, kebohongan kita di kuliah sampai kita bekerja selalu ada hal yang menggoda. Nah masyarakat harus diberi edukasi tentang itu, bahwa itu persoalan kita.

Kalau masyarakat sudah diberi edukasi tentang itu, maka dengan sendirinya masyarakat akan memiliki perspektif yang benar bagaimana memberantas korupsi itu dari kesadaran mereka karena kalau mengharapkan instrumen negara untuk memerangi korupsi agak susah. Harus ada dukungan dari masyarakat juga.

Yang berikutnya, kalau kita bicara korupsi tentu peran negara sangat penting. Saya merasa Presiden Jokowi belum punya komitmen yang serius untuk memerangi korupsi. Saya berharap di periode ini sebenarnya dia tanpa beban bisa melakukan terobosan dalam pemberantasan korupsi, namun belum bisa. Mungkin karena persoalan oligarki yang ada di sekelilingnya yang susah dia lawan dengan kekuatan sendiri.

Korupsi pada intinya harus dilawan selain oleh masyarakat yang cerdas dan kritis, juga oleh instrumen negara yang serius dan berani. Tangan-tangan negara seperti KPK, lembaga pengadilan, lembaga hukum, itu kan punya satu visi yang sama, melihat korupsi sebagai musuh bersama. Yang terjadi sekarang sepertinya belum sampai ke situ.

KPK yang awalnya kita harapkan sebagai lembaga yang independen dan bisa garang memerangi korupsi ternyata nggak juga. DPR yang kita harapkan bisa mengawasi pemerintah, ternyata nggak bisa juga. DPR tersedot oleh kepentingan pragmatis di lingkaran dia sendiri. Jadi menurut saya kendala kita sebenarnya itu.

Selain itu, di tiap tulisan saya sering mengatakan bahwa jika kita mau berhasil dalam memerangi korupsi, maka satu hal yang perlu dirubah adalah bagaimana kita membangun tradisi partai yang profesional dan demokratis karena dari partai politik itulah akan dihasilkan kader-kader pemimpin yang akan mengisi di semua struktur kekuasaan di republik ini.

Kalau partai politiknya tidak pernah dibenahi, dan dikelola dengan sistem kekeluargaan (turun temurun), maka susah memerangi korupsinya. Mungkin tidak akan tercapai.

Tulisan kamu sangat tajam dan berbobot, mungkin kamu punya tips bagi teman-teman penulis untuk menghasilkan tulisan yang demikian!

Pertama tentu harus banyak membaca. Itu pasti. Banyak membaca agar kita terlatih untuk menemukan ide atau gagasan. Ide atau gagasan itulah yang akan memperkaya argumentasi kita. Bagaimana kita bisa menulis dengan baik kalau kita tidak rajin membaca? Jadi untuk bisa menjadi penulis yang baik ya mau tidak mau harus dipaksa dengan banyak membaca.

Kemudian, dari segi teknik menulis penting sekali. Cara agar bisa menghasilkan tulisan yang tajam dan menggelitik, kalau menurut saya yang adalah dengan banyak berlatih dan mengimprovisasi pemikiran-pemikiran. Menulis itu bukan hanya tujuannya supaya tulisan kita dimuat, tapi menulis itu proses kreatif yang harus ada dalam diri kita setiap saat. Jadi, menulis terus. Kalaupun nanti misalnya ditolak, ya tetap menulis terus.

Saya juga waktu pertama mengirimkan opini tidak langsung dimuat, banyak gagalnya juga. Tetapi saya menulis terus. Saya baca dan saya bandingkan dengan tulisan yang lain “Oh, dia begitu, diksinya begitu, kata-katanya kurang” maka saya harus ubah dan koreksi lagi.

Kemudian kalau kita banyak membaca kita akan memiliki banyak diksi. Nah, itu sangat bermanfaat. Ketika kita menggunakan diksi yang tepat, maka tidak akan sulit bagi kita untuk menarik hati para redaktur. Artinya kita sudah terlatih untuk memilih mana diksi yang tepat untuk memprovokasi redakturnya.

Menurut saya menulis itu adalah upaya bagaimana caranya kita bisa “melawan” redaktur. Kita harus bisa robohkan dia sampai dia benar-benar tertarik dengan tulisan kita. Karena pengakuan dari redaktur, mereka bisa menerima tulisan dalam sehari mencapai puluhan sampai ratusan. Kalau tulisannya tidak menggugah, ya masuk keranjang sampah saja.

Selain itu juga mungkin perlu memperhatikan kekhasan setiap media. Misal ada media yang suka dengan gaya-gaya bahasa yang jenaka, seperti Jawa Pos. Mereka senang sekali dengan tipe-tipe tulisan seperti itu. Tapi mereka tidak terlalu suka dengan model tulisan yang terlalu memprovokasi. Lain halnya dengan Kompas, mereka senang dengan bahasa yang tajam dan provokatif.

Kompas dianggap sangat sangar karena mereka selalu mementingkan kebaruan gagasan. Jadi mereka itu sepertinya punya alat deteksi yang kita tidak tau seperti apa, mereka bisa tau mana tulisan yang kita kutip dari tulisan lain atau gagasan yang kita ambil dari tulisan lain, lalu kita remake kembali, mereka bisa tau itu. Orisinalitas sangat dipentingkan oleh mereka.

Terakhir, apa harapan kamu untuk The Columnist dan teman-teman penulis?

Menurut saya The Columnist telah memulai sesuatu yang baik. The Columnist dalam pandangan saya telah menjadi kanal alternatif dari media-media mainstream dan ini sebenarnya tempat berlatih yang sangat bagus bagi para penulis. The Columnist bisa menjadi kawah candradimuka bagi mereka yang tertarik dengan dunia kepenulisan.

Saya juga berharap The Columnist tetap konsisten untuk memfasilitasi anak-anak muda yang punya bakat menulis. Saya lihat banyak anak-anak muda yang luar biasa. Saya optimis dengan orang-orang yang dari awal sudah bisa menulis dengan baik, seperti yang saya lihat di The Columnist. Tinggal masalah ketekunan saja. Medianya sudah diberikan oleh The Columnist, ini harus dimanfaatkan oleh anak-anak muda untuk komitmen dalam menulis. Jangan lepaskan peluang itu.

Tentang insentif, menurut saya bagi kita sebagai pemula, bukan suatu tujuan karena penulis pemula itu sebenarnya kebutuhan yang paling mendesak adalah bagaimana mereka bisa diakui. Mereka butuh mencari eksistensi dulu. Saya juga dulu begitu, bagaimana agar saya bisa dianggap sebagai penulis. Jadi masalah honornya belakangan.

Terakhir, harapan saya agar The Columnist bisa eksis terus dan saya mendoakan agar dari The Columnist ini akan muncul penulis-penulis berbakat nantinya.

Baik, terima kasih Umbu atas sharingnya. Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kami dan para penulis.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya