Saat Prabowo Menjadi Menteri Jokowi

Admin The Columnist
Saat Prabowo Menjadi Menteri Jokowi 25/10/2019 1322 view Catatan Redaksi Wikimedia.org

Orang-orang mengernyitkan dahi. Berpikir dan menimbang-nimbang sesuatu yang hingga kini masih sumir.

Beberapa hari lalu Presiden Jokowi sukses bekerja sama dengan oposisi. Prabowo Subianto, Calon Presiden pilpres lalu, kompetitor Jokowi, bersedia masuk kabinet. Ia kini telah dilantik sebagai Menteri Pertahanan. 

Sebagian besar merasa kecewa karena dua hal. Pertama, adalah mereka-mereka para pendukung Prabowo. Mereka ini telah memeras peluh di pemilu lalu. Bukan hanya waktu dan uang, penjara pun dihadapi. Demikian cintanya mereka terhadap Prabowo, sampai-sampai ada pula yang terlibat pembunuhan musabab dukung-mendukung Capres. 

Maka setelah Prabowo kalah pemilu, satu-satunya harapan adalah memaksimalkan peran oposisi. "Biar kalah, tapi kami masih punya Prabowo sebagai komandan oposisi. Jadi jangan macam-macam, tuan Presiden". 

Lalu ketika Prabowo masuk kabinet, tampak aduhai pula mesranya dengan Jokowi, hancurlah perasaan mereka. Perih yang sempurna. Sudahlah kalah. Yang didukung membelot pula. 

“Babe” Haikal bahkan menulis sindiran yang pedas di media sosial. Tak ada kisahnya para nabi masuk ke barisan musuh tuhan. Atas alasan apapun. Termasuk  ingin memperbaiki dari dalam.

Kedua, sebagian publik, termasuk sebagian pendukung Jokowi, juga risau. Pasca kemenangan Jokowi, kekuatan oposisi sangat dibutuhkan. Karena pemerintah bukanlah organ tanpa cela. Kritik dan kontrol menjadi sangat penting. 

Fahri Hamzah mungkin bisa berkata lain, “oposisi pada sistem presidensial adalah DPR”. Tapi kenyataannya selama ini tak demikian. Masih jelas diingatan, justru DPR yang menjadi persoalan publik. Terutama terkait UU KPK, RKUHP, dan RUU kontroversial lainnya. 

Ketika menjadikan dirinya sendiri bisa dipercaya rakyat saja sudah gagal, apalagi ingin menjadi mulut dan lidah rakyat. Mimpi bung!

Artinya sebagian pendukung Jokowi diam-diam juga berharap kepada peran oposisi Prabowo. Dan sama seperti pendukung Prabowo di atas, pendukung Jokowi juga kecewa ketika Prabowo masuk kabinet. Sulit untuk berharap sebuah pemerintah ideal dengan kekuatan oposisi yang lemah. 

Apalagi kalau ditambahi hitung-hitungan ekonomi politik pilpres kemarin, "Kamilah yang berkeringat memenangkan Jokowi. Kini mengapa pula satu kursi menteri diberikan kepada Prabowo". 

Tentunya sah-sah saja menafsirkan kondisi anomali ini. Menghitung-hitung motif Prabowo menerima tawaran Jokowi. Sesuatu yang hingga kini masih sukar ditebak.

Dan agaknya ada tiga dugaan menarik tentang apa dan bagaimana tujuan sesungguhnya dari Prabowo ketika setuju menjabat menteri. 

Pertama, dugaannya orang-orang sinis. Prabowo adalah sosok yang haus kekuasaan. Tiga kali menjadi Capres. Setelah tiga-tiganya kalah, sadarlah ia bahwa popularitasnya tak begitu menjanjikan. Maka tak dapat Presiden, Menteripun jadi. 

Bergabungnya Prabowo ke dalam Kabinet Jokowi tak lebih dari sekedar mencari kekuasaan. Prabowo ingin berkuasa. 

Kedua, dugaannya para pengkhayal. Ada sebuah film menarik yang berjudul "Behind Enemy Lines". Seorang prajurit masuk ke belakang garis musuh. Lalu petualangan seru terjadi. Ini kemudian dijadikan sumber inspirasi, apa dan bagaimana tujuan sebenarnya dari Prabowo yang masuk kabinet Jokowi.

Prabowo adalah mantan Jenderal Kopassus. Ia jenderal lapangan, bukan administratif. Sebagian promosinya didapat di bawah desingan peluru, bukan di ruang diklat ber-ac. Ia hapal beragam strategi tempur. Dan apa yang dilakukannya sekarang barangkali bagian dari "misi" itu. Menyusup ke belakang garis musuh, lalu memulai petualangannya. Jadi ini bukan pengkhianatan, tapi menjadi bagian dari perjuangan politiknya. 

Ketiga, sangkaannya orang-orang politik. Prabowo adalah mantan Jenderal tempur yang fasih membaca situasi. Adapun Jokowi saat ini, posisi politiknya lemah. Ia bukan kader parpol. Bukan ketua atau pejabat berkuasa di parpol, tak pula punya basis massa di parpol. 

Sedangkan persoalan yang dihadapi semakin menjadi-jadi. Misalnya Perpu KPK yang maju mundur akibat disentil parpol pendukungnya sendiri. Sayup terdengar, seolah ada ucapan begini, “jangan gegabah bung! Perpu bisa berakhir pada pemakzulan”. Jokowi sedang terjepit.

Semua kiranya setuju, menang Pilpres dan menjadi presiden bukan berarti pemilik dan pengguna kekuasaan utama. Karena kekuasaan adalah soal siapa yang mempengaruhi, bukan soal siapa yang mengesahkan suatu kebijakan. 

Maka Prabowo merapat ke Jokowi punya makna lain. Ia datang menawarkan kenyamanan politik. Gerindra cukup kuat di DPR. Adapun Jokowi butuh dukungan itu demi mewujudkan janji politiknya. Prabowo bisa menggeser pembisik-pembisik lama Jokowi dalam mengambil keputusan. Adapun Jokowi, berterima kasih atas dukungan politik yang diberikan. Klop! 

Yang mana satu dari tiga kemungkinan ini yang akan terjadi, sama-sama kita buktikan nanti. Karena dugaan-dugaan model begini amat lemah untuk dipercaya sepenuhnya. Orang-orang bilang, biarlah waktu yang akan membuktikannya. 

Dan semua yang sedang mengernyitkan dahi itu mulai sadar akan itu. Semua akan terungkap nanti. Biarlah waktu yang akan membuktikannya.

Meski sayup terdengar tawa geli kaum progresif sambil memposting meme, "beli 01 dapat 02", berlatar foto selfie ceria Jokowi-Prabowo.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya