Risiko Pernikahan di Usia Dini

Risiko Pernikahan di Usia Dini 30/06/2021 135 view Budaya beritasatu.com

Isu pernikahan dini mencuat kembali belakangan ini setelah Sinetron Suara Hati Istri: Zahra tayang di salah satu stasiun televisi swasta.

Sinetron ini berkisah tentang Zahra yang terpaksa menikah di usia remaja dan bahkan menjadi istri ketiga. Zahra menjadi pihak yang teraniaya oleh istri-istri suaminya dan juga keluarga suaminya.

Celakanya lagi, Zahra diperankan Lea Ciarachel yang masih berusia 15 tahun. Akibatnya, sinetron ini menjadi perbincangan hangat bahkan polemik di masyarakat.

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa cerita sinetron ini permisif terhadap pernikahan anak di bawah umur. Meski polemik telah berakhir setelah pihak televisi mengganti pemeran Zahra dengan artis yang lebih dewasa, isu pernikahan dini menjadi urgen untuk dikaji kembali. Pengkajian kembali isu ini menjadi urgen karena jumlah pernikahan dini masih cukup tinggi.

Di Provinsi Jawa Timur, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) merilis data bahwa sepanjang tahun 2020 ada sebanyak 9.453 kasus pernikahan di bawah umur. Angka ini setara 4,97 persen dari total 197.068 pernikahan. Secara persentase, jumlah itu mengalami peningkatan dibanding tahun 2019 yang hanya 3,6 persen. Peningkatan kasus pernikahan dini disinyalir menjadi salah satu penyebab angka perceraian di Jawa Timur meningkat. Pada tahun 2019 tercatat 8.303 kasus, tetapi sampai akhir September 2020 tercatat 55.747 kasus.

Data ini menyadarkan kita akan dampak buruk yang akan timbul akibat pernikahan dini. Dampak buruk pernikahan dini dapat dilihat dari tiga aspek, yakni risiko kesehatan, risiko gangguan mental dan risiko sosial ekonomi.

Risiko kesehatan dalam pernikahan dini dapat menimpa pasangan perempuan dan janin yang dikandungnya. Perempuan di bawah 20 tahun yang melakukan hubungan seksual akan lebih rentan terkena infeksi. Infeksi ini mencakup bakteri, jamur dan virus seperti Human Papilloma Virus (HPV) yang dapat menyebabkan kanker serviks. Infeksi ini terjadi akibat belum sempurnanya organ reproduksi perempuan usia remaja.

Saat mencapai usia 8 tahun, perempuan mengalami rangkaian perubahan pada tubuh yang disebut dengan pubertas. Pubertas memiliki karakteristik tubuh dewasa dan mempunyai kapasitas untuk bereproduksi. Hal ini ditandai dengan perubahan pada tubuh seperti pertumbuhan payudara, bulu di sekitar kemaluan, menstruasi dan lainnya. Satu hal yang penting diketahui di masa tersebut adalah perubahan serviks. Serviks atau mulut rahim terbagi menjadi dua bagian, yaitu luar dan dalam. Serviks bagian dalam akan mengalami perubahan sel dari jenis kolumnar ke gepeng pada masa pubertas. Pada masa transisi ini, perempuan akan lebih rentan terkena infeksi ketika melakukan hubungan seksual.

Di samping risiko infeksi ketika melakukan hubungan seksual, remaja yang hamil di usia dini juga rentan mengalami komplikasi, baik ketika hamil maupun ketika melahirkan. Menurut dokter spesialis kandungan dari Brawijaya Hospital, dr Uf Bagazi SpOG, komplikasi tersebut dapat menyebabkan keguguran, anemia, pendarahan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR). Bahkan, WHO juga mencatat bahwa 50% bayi yang lahir dari ibu remaja meninggal pada beberapa minggu pertama kelahirannya.

Risiko pernikahan dini berikutnya adalah risiko gangguan mental. Gangguan mental dapat berupa krisis emosional dan depresi. Gangguan ini banyak terjadi pada perempuan yang hamil pada usia dini. Gangguan tersebut terjadi akibat fluktuasi hormon yang tidak stabil. Gangguan mental perempuan tersebut pada gilirannya berpengaruh pada problem mental pada anggota keluarga yang lain. Suami pasangan perempuan usia dini mengalami gangguan mental akibat komunikasi yang sulit. Kesulitan komunikasi ini pada gilirannya memicu ketidaksabaran dan kemarahan yang kadang tidak terkendali. Akibatnya, sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga pada keluarga pasangan pernikahan usia dini.

Instabilitas emosi yang mengakibatkan kesulitan komunikasi dan bahkan kekerasan dalam rumah tangga ini berakibat buruk pula pada gangguan mental anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga tersebut. Anak-anak dapat mengalami tekanan mental akibat suasana rumah tangga yang tidak kondusif. Bahkan anak-anak tersebut bisa menjadi korban karena kekerasan dan penelantaran orang tuanya.

Terganggunya sosio-ekonomi keluarga juga menjadi risiko selanjutnya dalam pernikahan dini. Seringkali pernikahan di usia dini menyebabkan remaja terpaksa berhenti meneruskan pendidikan agar dapat mencari nafkah untuk keluarga barunya. Mencari nafkah di usia muda dengan bekal pendidikan dan keterampilan yang rendah juga tidaklah mudah. Akibatnya, pekerjaan yang didapatkan hanya memberikan penghasilan yang rendah. Padahal biaya yang dibutuhkan untuk kehamilan dan pasca kehamilan tidaklah sedikit. Akibatnya, perawatan kehamilan dan pasca kehamilan pada remaja tidak optimal akibat minimnya biaya yang tersedia dan ketidaktahuan tentang proses kehamilan yang baik.

Pada kenyataannya, keadaan sosio-ekonomi yang buruk ini selain berdampak buruk kepada keluarga, juga berdampak lebih buruk kepada perempuan. Perempuan mengalami ketergantungan ekonomi pada pasangan sehingga posisinya sangat rentan dalam pengambilan keputusan dalam keluarga. Rendahnya daya tawar perempuan dalam pengambilan keputusan menimbulkan kemungkinan terjadinya relasi yang dominatif dan subordinatif. Relasi yang tidak seimbang ini pada gilirannya menjadi faktor yang melanggengkan ketidakadilan di dalam keluarga.

Semua risiko akibat pernikahan dini di atas perlu menjadi kesadaran kita secara bersama-sama. Pemerintah perlu melibatkan para agamawan, guru, jurnalis, dan aktivis sosial dalam mengkampanyekan risiko tersebut.

Dengan keterlibatan seluruh stakeholders masyarakat, kampanye tersebut dapat dilakukan dengan beragam pendekatan. Para agamawan dapat menggunakan bahasa dan ajaran agamanya. Dalam Islam, misalnya, ada kaidah fikih yang menyatakan bahwa “meniadakan kerusakan itu lebih diprioritaskan daripada mengambil kemaslahatan". Dalam konteks ini, pernikahan dini dapat mendatangkan kemaslahatan, yaitu menjaga kehormatan, tetapi dapat pula menimbulkan risiko yang jauh lebih multidimensional.

Untuk itulah, mencegah risiko harus lebih diprioritaskan. Kampanye serupa dapat dilakukan oleh guru, jurnalis, dan aktivis sosial, tentu dengan menggunakan pendekatan yang berbeda. Dengan kampanye yang massif tersebut, kesadaran masyarakat semakin tinggi dan jumlah pernikahan dini diharapkan bisa menurun atau bahkan nol. Semoga!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya