Remaja, Perkara Psikologis, dan Prestasi

Alumni IFTK Ledalero
Remaja, Perkara Psikologis, dan Prestasi 21/12/2022 97 view Pendidikan Needpix.com

Pada umumnya remaja didefinisikan sebagai tahap transisi antara masa anak-anak menuju masa dewasa. Remaja dalam KBBI diartikan sebagai masa menuju kedewasaan. Secara etimologis sebagaimana diuraikan oleh Amirulloh (2015), kata “remaja” diterjemahkan dari Bahasa Inggris puberity atau tanda-tanda sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual seseorang, sedangkan dalam Bahasa Latin disebut sebagai adolescentia yang berarti menjadi dewasa atau berkembang menjadi dewasa.

Hasan Basari (1995) dalam bukunya Remaja Berkualitas; Problematika dan Solusi mengartikan remaja secara terminologis, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak yang penuh ketergantungan menuju masa dewasa atau masa pembentukan tanggung jawab. Boyke Nugraha dalam Amirulloh (2015) mengartikan remaja sebagai proses perubahan fisik dan mental yang ditandai dengan ketertarikan kepada lawan jenis dan keinginan untuk memberontak.

Definisi-definisi para ahli yang berbeda tentang remaja hendak menunjukkan sudut pandang yang berbeda pula. Dengan kata lain, banyaknya definisi tentang remaja secara langsung menunjukkan tidak ada definisi yang benar-benar memadai untuk menggambarkan kelompok remaja. Walaupun demikian, perkembangan remaja dapat diketahui melalui usia, perubahan fisik dan mental atau psikologis para remaja.

Hemat penulis, faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan remaja adalah psikologis. Faktor psikologis yang dimaksudkan ialah bentuk-bentuk ekspresi yang disebabkan oleh perkembangan emosional remaja yang semakin kompleks. Biasanya, para remaja memiliki sikap kurang peduli dengan lingkungannya. Mereka cenderung bersifat egosentrisme atau menjadikan diri sebagai pusat perhatian.

Masa transisi ini juga membuat remaja kebingungan akan statusnya. Pada umumnya, masyarakat menganggap para remaja sebagai bocil (bocah cilik) atau anak kemarin yang masih di bawah bimbingan orang tua. Namun, para remaja sendiri enggan dianggap dan diperlakukan sebagai anak kecil. Akibatnya, para remaja kebingungan dalam menentukan sikap yang sesuai dan sering kali terlihat gelisah dan murung.

Kebingungan dan kegelisahan para remaja dalam menentukan sikap membuat mereka mudah tersinggung dan menarik diri dari lingkungan sekitar. Selain itu, para remaja juga menunjukkan perilaku-perilaku menyimpang, kurang menghargai tata krama, dan sopan santun. Karena sifat yang mudah tersinggung, para remaja mulai menarik diri dari pergaulan. Hal ini berdampak pada perasaan minder yang berlebihan dan perlahan mulai mengucilkan diri dari pergaulan.

Kegelisahan yang dialami remaja membuat mereka kurang menghargai tanggung jawab bahkan menghindari tanggung jawab. Cenderung para remaja mengkambinghitamkan situasi bahkan orang lain atas kelalaian atau kesalahan mereka. Dalam situasi ini para remaja enggan mengakui kelalaian dan kesalahan mereka. Bagi para remaja, kesalahan dan kelalaian tersebut murni disebabkan oleh situasi dan orang lain yang secara langsung atau tidak langsung terlibat bersama mereka.

Hal tersebut tampak jelas dalam proses pendidikan para remaja. Prestasi yang diperoleh remaja cenderung tidak stabil. Ada sebagian remaja yang mengalami peningkatan prestasi, tetapi sebagiannya justru menurun drastis. Penurunan prestasi tersebut mengakibatkan banyak orang tua merasa cemas. Walaupun demikian, para remaja justru tidak menaruh perhatian terhadap penurunan prestasi tersebut. Para remaja akan mencari banyak alasan, seperti guru tidak mampu menerangkan pelajaran dengan baik, materi yang diajarkan membosankan, fasilitas sekolah yang kurang memadai, kurikulum bermasalah dan sebagainya, untuk menghindar dari tanggung jawab belajar sebagai peserta didik. Banyaknya alasan yang dikemukakan remaja, sebenarnya ingin menggambarkan bahwa remaja tersebut sedang mengalami krisis konsentrasi dan berujung emosi yang labil.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh National Center for Clinical Infant Programs (1992) dalam Goleman (2002: 273) menunjukkan bahwa fakta rendahnya prestasi belajar para remaja kurang dipengaruhi oleh kemampuan diri dalam berliterasi dan numerasi melainkan ukuran-ukuran emosional dan sosial para remaja, seperti pengontrolan diri, pengelolaan minat, pola perilaku, mengikuti pedoman yang mengacu pada guru, dan terbuka terhadap kebutuhan-kebutuhan dalam pergaulan. Selain itu, studi yang dilakukan di Amerika dalam Goleman (2002) terhadap orang tua dan guru menunjukkan bahwa tingkat depresi anak generasi sekarang lebih tinggi dari pada anak generasi terdahulu. Anak generasi sekarang lebih banyak tumbuh dalam kesendirian, mudah marah, sulit diatur, cenderung cemas, dan agresif.

Melihat fenomena remaja dan masalahnya dalam konteks psikologis, penulis hendak memberikan solusi alternatif berupa tindakan preventif yang dapat diterapkan oleh lembaga keluarga dan sekolah.

Lembaga keluarga dan sekolah menjadi tempat utama anak-anak memperoleh pendidikan. Paradigma keluarga sebagai tempat memperoleh pendidikan pertama dan sekolah sebagai wadah edukatif kedua sangat penting dalam upaya pembentukan emosional anak. Sikap egosentris yang dimiliki remaja secara umum dapat menjadi salah tolak ukur pembentukan emosional. Remaja tersebut hendaknya diberikan tanggung jawab sederhana dengan bimbingan-bimbingan positif sehingga dapat meningkatkan rasa kepercayaan diri remaja. Keberhasilan menyelesaikan tanggung jawab tersebut niscaya membuat remaja semakin percaya diri dan merasa dapat dipercaya.

Para remaja mesti diperlakukan semestinya. Pemberian tanggung jawab dengan bimbingan tersebut mesti diikuti dengan motivasi positif dan tidak memperlakukan remaja sebagai anak kecil, tetapi sebagai individu yang mampu bertanggung jawab layaknya orang dewasa awal. Selain itu, tanggapan terhadap kelalaian yang dilakukan remaja mesti dilakukan dengan bijaksana dan mengutamakan sikap solidaritas. Pada umumnya, tanggapan atas kelalaian remaja dapat berupa hukuman, tetapi hukuman tersebut hendaknya bersifat mendidik dan sesuai dengan batas kewajaran individu.

Selain pola perlakuan terhadap remaja, prestasi remaja juga mesti diapresiasi secara positif. Prestasi tersebut berkaitan dengan kemampuan remaja dalam bidang akademik dan non akademik. Penurunan prestasi remaja hendaknya tidak dianggap sebagai sebuah kegagalan tetapi sebuah proses dalam pembentukan kemampuan remaja. Dengan demikian, pemberian motivasi kepada remaja lebih bermakna positif dan terarah kepada pola pembentukan diri yang optimis.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya