Refleksi di Hari Disabilitas Internasional 2020

Pegiat HAM
Refleksi di Hari Disabilitas Internasional 2020 03/12/2020 573 view Lainnya United Nation

Menakar kemampuan bukan berdasarkan hambatan fisik.

Kemarin siang dalam percakapan dengan seorang teman, cerita mengalir hingga tentang kakaknya yang memiliki hambatan pendengaran. Karena perbedaan usia, mereka jarang bertemu. Hanya sempat tinggal bersama sebentar saat kakaknya menyelesaikan studi di salah satu perburuan tinggi.

Komunikasi dilakukan dengan bahasa isyarat namun karena mereka jarang berjumpa, temenku tidak lagi mengikuti perkembangan bahasa isyarat terbaru.

Ia menyatakan terkejut karena perubahan bahasa isyarat yang digunakan saat berkomunikasi dengan kakaknya, saat mereka masih kanal-kanak dengan saat ini.

Memiliki banyak teman dengan keterbatasan fisik yang berbeda memang tidak lantas membuat kita paham seratus persen, pelajaran baru yang ku dapat dalam dua bulan terakhir. Benak kita akan langsung terisi dengan kata iba dan keinginan untuk menolong. Rasa empati mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang terbaik untuk menolong.

Disini kita kadang luput dalam meletakkan cara dan tindakan. Terbaik untuk kita belum tentu terbaik menurut orang yang kita bantu. Sama seperti kita memilihkan makanan, pakaian atau menentukan jurusan pendidikan untuk anak, kita memandang dan menilai yang terbaik menurut pola pikir kita bukan berdasarkan keinginan dan kebutuhan orang yang akan melakukan. Sehingga akhirnya keinginan untuk menolong lebih banyak menerapkan pola pikir kita pada orang lain.

Menempatkan empati dalam posisi yang benar penting dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia. Menolong bukan berarti mengabaikan kemampuan seseorang. Teman-teman dengan hambatan atau keterbatasan fisik sudah terlatih untuk beradaptasi.

Mungkin ada beberapa tindakan atau kerja yang tidak bisa dilakukan namun penting untuk kita terlebih dahulu menanyakan dimana kita bisa membantunya. Seperti saat kita bertemu seseorang dengan hambatan penglihatan dan berdiri di tepi jalan.

Cara yang tepat adalah dengan menanyakan keinginan dan tujuannya, baru kemudian kita menawarkan bantuan. Termasuk untuk tidak langsung menyentuh tangan atau anggota tubuh lainnya namun dengan mengajukan tawaran untuk menuntun atau menyodorkan tangan kita untuk pegangan.

Perlakuan untuk mereka yang duduk di kursi roda juga memiliki kekhususan dalam hal posisi saat berbicara dengan menjaga agar berada sejajar, tidak menumpangkan barang seolah-olah kereta barang dan tidak langsung melakukan tiindakan menolong tanpa menanyakan terlebih dahulu.

Penghargaan atas kemampuan teman-teman penyandang disabilitas juga dimulai dari penggunaan kata. Pemerintah sudah menentukan penggunaan kata penyandang disabilitas daripada cacat. Disabilitas dari kata disability dan difabel dari kata different ability.

Untuk masing-masing hambatan, alangkah lebih baik jika kita mengenal sesuai aturan yang berlaku atau menanyakan pada orang yang bersangkutan mengenai mana yang lebih nyaman baginya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengesahkan sembilan peraturan turunan dari UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas sejak 2019 hingga 2020. Kesembilan peraturan tersebut adalah: Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 52 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Disabilitas, PP Nomor 70 Tahun 2019 tentang Perencanaan, Penyelenggaraan, dan Evaluasi terhadap Penghormatan, Pelindungan, dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. PP Nomor 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas. PP Nomor 39 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak untuk Penyandang Disabilitas dalam Proses Peradilan. PP Nomor 42 Tahun 2020 tentang Aksesibilitas terhadap Permukiman, Pelayanan Publik, dan Pelindungan dari Bencana bagi Penyandang Disabilitas. PP Nomor 60 Tahun 2020 tentang Unit Layanan Disabilitas bidang Ketenagakerjaan. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 67 Tahun 2020 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Penghargaan dan Penghormatan, Pelindungan, dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Perpres Nomor 68 Tahun 2020 tentang Komisi Nasional Disabilitas. Ratifikasi Perjanjian Internasional yang diatur dalam Perpres Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pengesahan Traktat Marrakesh untuk Fasilitasi Akses atas Ciptaan yang Dipublikasi bagi Penyandang Disabilitas Netra, Gangguan Penglihatan, atau Disabilitas dalam Membaca Karya Cetak.

Dengan berpegang pada peraturan tersebut dan penghargaan kita atas kemanusiaan, kita juga belajar untuk menerapkan dalam lingkungan komunitas atau organisasi misalnya saat menentukan lokasi pertemuan, perayaan atau pesta dengan mempertimbangkan fasilitas bagi teman-teman yang menggunakan kursi roda dan tongkat penyangga.

Demikian pula untuk lokasi parkir. Saat ini sudah tersedia kendaraan bermotor yang didesain khusus namun kita tetap perlu mempertimbangkan lokasi parkir yang memudahkan untuk dicapai hingga pintu depan ruangan yang akan kita pergunakan.

Kita harus tetap memiliki rasa empati dan menjaga kemanusiaan kita yang adil dan beradab namun dengan tidak mengabaikan kemampuan orang lain hanya karena didasari rasa iba.

Menghormati hak penyandang disabilitas termasuk dengan memberi kesempatan untuk bekerja dan memperoleh hak-haknya sama seperti warganegara lainnya. Selamat Hari Disabilitas Internasional.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya