Reduksi Nilai Keperawanan di Tengah Pandemi Corona

PNS BKKBN
Reduksi Nilai Keperawanan di Tengah Pandemi Corona 23/05/2020 810 view Budaya pixabay.com

Apa yang anda pikirkan jika mendengar berita bahwa ada seorang perempuan muda yang akan melakukan lelang keperawanan? Apakah anda akan mengikuti proses lelang tersebut? Pertanyaan selanjutnya adalah pantaskah keperawanan dilelang dengan alasan apapun dan harga berapapun?

Bagi saya dan mungkin juga anda keperawanan bukan barang perkakas, mobil, emas berlian ataupun sejenisnya yang kemudian layak dilelang. Di dunia timur, nilai-nilai keperawanan masih dianggap sesuatu yang harus dijaga, sakral dan suci. Hilangnya keperawanan bisa dianggap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang memalukan, amoral, asusila bahkan mungkin juga abnormal. Karena yang dianggap normal, yang bermoral dan bersusila bagi kebanyakan orang timur adalah ketika seseorang bisa menjaga keperawanan sampai seorang perempuan tersebut menikah kelak.

Di dunia timur dan juga di masyarakat kita, hingga hari ini masih muncul anggapan bahwa perempuan yang tak perawan adalah perempuan murahan dan tidak berharga lagi. Hal ini mengakibatkan perempuan dituntut harus menjaga kesuciannya. Jika kemudian seorang perempuan tidak perawan lagi sebelum menikah, bahkan jika hal ini pun disebabkan oleh sesuatu yang bukan karena hubungan seksual, maka para perempuan tersebut merasa khawatir kelak tidak ada yang bersedia menikahinya atau pun jika menikah maka akan diremehkan oleh suaminya.

Munculnya berita yang lagi viral mengenai seseorang perempuan Selebgrab bernama Sarah Keihl yang akan melelang keperawanan dengan nilai awal 2 Milyar menimbulkan kontroversi di ruang publik. Publik dibuat heboh dengan berita lelang keperawanan tersebut. Di mata banyak orang lelang keperawanan tersebut seolah sama dengan menjual diri sendiri ke orang lain.

Menurut pengakuan Sang Selebgrab hasil dari uang lelang keperawanan tersebut, akan beliau donasikan untuk membantu pencegahan Covid-19. Sebaik apapun tujuan lelang keperawanan, hal itu merupakan isu sensitif yang bisa mencederai tatanan ketimuran terutama pada kaum hawa.

Adanya informasi lelang keperawanan tersebut, seolah nilai- nilai keperawanan yang begitu tinggi, sakral dan suci terutama di dunia timur menjadi tereduksi makna daan substansinya. Keperawanan seolah menjadi barang yang biasa saja sehingga pantas untuk dilelangkan. Sesuatu yang patut kita sayangkan.

Memang harus kita akui bahwa semakin hari, pentingnya nilai-nilai keperawanan seorang perempuan semakin pudar. Hal ini setidaknya disebabkan oleh pergaulan yang semakin bebas antara remaja laki-laki dan remaja perempuan. Tak jarang karena terlalu bebasnya, sehingga mereka kadang terjerumus pada perilaku seks bebas dan perilaku tersebut bisa membuat keperawanan seorang perempuan menjadi hilang. Keperawanan yang harus dijaga menurut nilai-nilai ketimuran karena adanya gaya hidup bebas yang dilakukan oleh remaja yang terpengaruh budaya negatif dari barat sebagai akibat arus globalisasi menjadikan nilai-nilai keperawanan juga semakin hari semakin tereduksi.

Baik lelang keperawanan maupun perilaku seks bebas yang dilakukan oleh remaja menurut penulis adalah dua hal yang bisa menurunkan derajat nilai-nilai keperawanan itu sendiri.

Kita menyadari bahwa perawan dan tidak perawannya seseorang adalah urusan privat individu. Artinya kita tidak boleh mencampuri urusan privat seseorang. Perawan dan tidak perawan adalah sebuah pilihan bagi kaum perempuan. Menjaga keperawanan adalah hak mereka. Namun yang patut kita sayangkan adalah sesuatu yang bersifat privat tersebut kemudian diumumkan di ranah publik seperti yang dilakukan oleh Selebgrab Sarah Keihl yang akan melelang keperawanan. Tentu hal sensitif ini membuat kegaduhan di ruang publik.

Pertanyaan selanjutnya muncul, jika lelang keperawanan begitu diumumkan oleh seorang perempuan muda, tanggapannya begitu heboh dan bahkan menjadi trending topik di media sosial, lalu bagaimana jika kemudian ada Selebgrab laki-laki yang akan melelang keperjakaannya. Adakah tanggapannya seheboh dengan lelang keperawanan? Kita tunggu jawabannya sampai ada Selebgrab laki-laki yang akan mengumumkan lelang keperjakaannya.

Kenapa pertanyaan itu muncul? Bagi penulis menjaga kesucian seharusnya bukan hanya dilakukan oleh perempuan saja namun juga harus dilakukan oleh laki-laki. Artinya jika perempuan diharuskan menjaga keperawanannya hingga kelak menikah, maka demikian juga laki-laki juga harus menjaga keperjakaannya hingga kelak memperoleh pasangan yang sah. Mungkin ini baru sesuai dan imbang dilihat dari sisi keadilan dan kesetaraan gender.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya